Wahyu Tri Ningsih
Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Tingkat Pengetahuan Dan Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner Pada Remaja Di SMAN 1 Tambakboyo Tuban Happy Novitasari; Wahyu Tri Ningsih; Wahyuningsih Triana N; Yasin Wahyurianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2349

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu masalah kesehatan utama penyebab kematian didunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini terjadi akibat pembuluh darah koroner yang memasok oksigen dan nutrisi ke jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan. Penyakit ini dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti pola makan, kebiasaan merokok, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja dan faktor risiko penyakit jantung koroner pada remaja di SMAN 1 Tambakboyo Tuban. Desain penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Dengan jumlah sampel sebanyak 151 responden yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Sebagian besar remaja kelas X di SMAN 1 Tambakboyo Tuban berjenis kelamin perempuan berusia 16 tahun. Tingkat pengetahuan remaja tentang jantung koroner hampir seluruhnya berada pada kategori baik. Berdasarkan faktor Risiko, Sebagian besar memiliki pola makan dalam kategori baik, hampir seluruhnya tidak memiliki kebiasaan merokok, sebagian kecil remaja memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) dalam kategori obesitas, serta hampir seluruh remaja memiliki aktivitas fisik yang baik. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa hampir seluruhnya remaja memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai penyakit jantung koroner dan hampir seluruhnya tidak memiliki faktor risiko yang tinggi. Namun demikian, masih terdapat sebagian remaja yang memiliki faktor risiko sehingga diperlukan edukasi kesehatan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran dan membentuk perilaku hidup sehat sejak usia remaja.
Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Pencegahan Anemia Di MAN 1 Tuban Mila Nova Rhamadani; Wahyu Tri Ningsih; Wahyuningsih Triana N; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2350

Abstract

Anemia merupakan kondisi yang ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah yang lebih rendah dari nilai normal berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Sebagai protein yang berfungsi mengangkut oksigen, hemoglobin berperan dalam mendistribusikan oksigen ke seluruh jaringan tubuh untuk menunjang berlangsungnya proses metabolisme. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan tingkat pemahaman remaja putri terkait berbagai upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah terjadinya anemia di MAN 1 Tuban. Penelitian ini menerapkan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Responden yang terlibat berjumlah 124 remaja putri, yang dipilih dari populasi penelitian menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan memanfaatkan kuesioner sebagai instrumen penelitian untuk memperoleh data yang berkaitan dengan variabel yang menjadi fokus penelitian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa proporsi remaja putri di MAN 1 Tuban yang memiliki pengetahuan baik mengenai pencegahan anemia mencapai hampir separuh dari keseluruhan responden. Dari aspek karakteristik, sebagian besar responden berada pada status IMT normal serta memiliki orang tua dengan pendidikan terakhir pada jenjang SMA. Adapun berdasarkan kondisi ekonomi keluarga, mayoritas remaja putri berasal dari keluarga yang memiliki pendapatan orang tua ≤ UMR. Remaja putri yang mempunyai pengetahuan memadai mengenai pencegahan anemia umumnya lebih mampu memahami pentingnya menjaga kondisi kesehatan dan menerapkan perilaku preventif dalam kehidupan sehari-hari. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui penerapan pola makan bergizi seimbang, peningkatan konsumsi bahan pangan yang menjadi sumber zat besi, serta kepatuhan dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran. Pemahaman yang semakin baik diharapkan dapat meningkatkan kesadaran remaja putri terhadap berbagai faktor yang berisiko menyebabkan anemia beserta dampak yang dapat ditimbulkannya.
Konsumsi Kopi Dengan Kejadian Hipertensi Pada Peserta Prolanis Di Puskesmas Wire Nielza Safina Safira Chayyun Najach; Su’udi; Titik Sumiatin; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2352

Abstract

Hipertensi ialah salah satu penyakit tidak menular yang menjadi perhatian dalam bidang kesehatan masyarakat karena bisa menimbulkan berbagai komplikasi apabila tidak dikendalikan dengan baik. Salah satu faktor gaya hidup yang diperkirakan bisa memengaruhi tekanan darah ialah kebiasaan konsumsi kopi. Kandungan kafein dalam kopi bisa merangsang sistem saraf pusat sehingga berpotensi menaikkan tekanan darah. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada peserta Prolanis di Puskesmas Wire. Penelitian ini memakai metode penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ialah seluruh peserta Prolanis di Puskesmas Wire sebanyak 40 orang dengan teknik total sampling. Variabel independen yakni konsumsi kopi, sedangkan variabel dependen yakni kejadian hipertensi. Pengumpulan data dilaksanakan memakai kuesioner, tensimeter, serta buku Prolanis atau rekam medis. Analisis data memakai uji Spearman Rank. Hasil penelitian memperlihatkan bahwasanya 14 responden (35%) memiliki tingkat konsumsi kopi kategori sedang, sedangkan 31 responden (77,5%) mengalami hipertensi. Hasil uji statistik Spearman Rank diperoleh nilai p = 0,065 (p > 0,05), yang memperlihatkan bahwasanya tidak ada korelasi yang signifikan antara konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada peserta Prolanis di Puskesmas Wire. Temuan ini memperlihatkan bahwasanya tidak ada korelasi yang signifikan antara konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada peserta Prolanis di Puskesmas Wire. Peserta Prolanis diharapkan tetap menerapkan pola hidup sehat untuk mencegah terjadinya hipertensi.
Paparan Asap Rokok Di Lingkungan Rumah Pada Balita Pneumonia Di Puskesmas Tuban Tafrihatul Fuadia; Su’udi; Titik Sumiatin; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2356

Abstract

Tingginya angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) pada anak balita salah satunya disebabkan oleh pneumonia, di mana asap rokok di lingkungan rumah menjadi salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan saluran pernapasan. Kondisi kesehatan respirasi balita ini sangat rentan terhadap faktor eksternal, termasuk polusi asap rokok di area tempat tinggal. Paparan sekunder dari anggota keluarga yang merokok memaksa anak menjadi perokok pasif yang rentan menghirup bermacam-macam polutan toksik. Studi ini dirancang untuk menganalisis gambaran paparan asap rokok pada lingkungan balita pneumonia yang berobat di Puskesmas Tuban. Pendekatan deskriptif dipilih sebagai desain dalam penelitian ini. Lingkup populasi sasarannya adalah seluruh pasien balita dengan diagnosis pneumonia di Puskesmas Tuban, Kabupaten Tuban, yang berjumlah 57 anak. Melalui teknik convenience sampling yang dihitung menggunakan formula Slovin, diperoleh sampel sebanyak 50 responden. Data dikumpulkan memakai kuesioner khusus yang memuat 7 butir pertanyaan terkait tingkat paparan asap rokok. Selanjutnya, data diolah melalui analisis univariat dan disajikan secara visual dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita berusia 1–3 tahun dan sebagian kecil balita berusia usia 4–5 tahun. Berdasarkan tingkat paparan asap rokok, sebagian besar balita berada pada kategori paparan tinggi, hampir setengahnya balita dalam kategori paparan rendah, dan sebagian kecil balita tidak terpapar. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa paparan asap rokok ditemukan pada seluruh kelompok usia balita pneumonia, dengan akumulasi kasus terbanyak kelompok usia 1–3 tahun. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mayoritas balita penderita pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Tuban, Kabupaten Tuban, hidup dalam lingkungan rumah dengan tingkat paparan asap rokok yang tinggi. Mengacu pada hasil tersebut, intervensi edukasi perlu digalakkan guna meningkatkan kesadaran orang tua mengenai dampak buruk asap rokok. Hal ini menegaskan pentingnya menciptakan rumah bebas asap rokok sebagai upaya melindungi kesehatan balita.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Di Puskesmas Tuban Ananda Dwi Agustira; Wahyuningsih Triana N; Wahyu Tri Ningsih; Roudlotul Jannah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2358

Abstract

Diabetes melitus tergolong penyakit yang angka kejadiannya kian bertambah dari waktu ke waktu, sehingga menjadi perhatian kesehatan masyarakat di banyak negara termasuk Indonesia. Komplikasi serius dapat timbul apabila penyakit ini tidak dikendalikan dengan baik. Kejadian diabetes melitus dipengaruhi oleh faktor risiko yang tidak dapat diubah maupun yang dapat diubah, seperti aktivitas fisik, pola makan, obesitas, perilaku merokok, dan hipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui keterkaitan faktor tersebut dengan kejadian diabetes melitus di Puskesmas Tuban. Desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional digunakan dalam penelitian ini. Populasi berjumlah 105 anggota Prolanis di Puskesmas Tuban, dengan 83 responden dipilih sebagai sampel melalui simple random sampling. Aktivitas fisik, pola makan, obesitas, perilaku merokok, dan hipertensi menjadi variabel independen, sedangkan kejadian diabetes melitus sebagai variabel dependen. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis secara bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil menunjukkan hubungan bermakna antara aktivitas fisik (p=0,008), pola makan (p=0,007), dan hipertensi (p=0,001) dengan kejadian diabetes melitus. Sebaliknya, obesitas (p=0,934) dan perilaku merokok (p=0,784) tidak menunjukkan hubungan bermakna. Pengendalian kadar glukosa darah pada anggota prolanis dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko sehingga diperlukan pengelolaan diabetes melitus secara komprehensif. Upaya pengendalian faktor risiko melalui edukasi, pemantauan rutin, serta penerapan gaya hidup sehat di pelayanan kesehatan primer berperan enjaga kestabilan glukosa darah serta menekan risiko komplikasi.
Pengetahuan Remaja Tentang Penyakit Menular Seksual Pada Siswa Di SMK Abdi Negara Tuban Sya’bana Aditya Subekti; Titik Sumiatin; Su’udi; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2360

Abstract

Penyakit Menular Seksual (PMS) masih menjadi isu kesehatan reproduksi yang penting, terutama di kalangan remaja. PMS merujuk pada infeksi yang ditularkan melalui kontak seksual dan dapat memiliki konsekuensi fisik, psikologis, dan sosial. Kurangnya pemahaman di kalangan remaja tentang PMS berpotensi meningkatkan kemungkinan terlibat dalam aktivitas seksual berisiko, yang pada gilirannya meningkatkan prevalensi PMS. Penelitian ini dibuat untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang PMS di SMK Abdi Negara di Tuban. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Unit analisis dalam penelitian ini mencakup semua siswa kelas 10 dan 11 di SMK Abdi Negara Tuban, totalnya ada 175 orang. Dari total peserta, dipilih 122 orang sebagai sampel dengan menggunakan teknik simple random sampling. Fokus utama dari variabel penelitian ini adalah tingkat pemahaman remaja terhadap penyakit menular seksual (PMS). Data diperoleh melalui kuesioner, lalu dianalisis secara deskriptif dengan cara menggunakan distribusi frekuensi. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik, yaitu sebanyak 74 orang (60,7%), kemudian ada 47 orang (38,5%) yang memiliki pengetahuan cukup, dan hanya 1 orang (0,8%) yang memiliki pengetahuan kurang. Berdasarkan data responden, sebagian besar berusia 17 - 19 tahun, yaitu sebanyak (59%), berada di kelas 10 yang mencapai (51,6%), dan sekitar 69,7% dari mereka adalah Perempuan. Tingkat pemahaman tentang Penyakit Menular Seksual (PMS) di kalangan siswa SMK Abdi Negara Tuban secara umum baik. Pemahaman yang komprehensif merupakan elemen penting dalam mencegah PMS di kalangan remaja. Oleh karena itu, perlu meningkatkan kualitas program pendidikan kesehatan reproduksi, dengan melibatkan partisipasi aktif lembaga pendidikan, tenaga medis, dan lingkungan keluarga untuk memastikan bahwa remaja menerima informasi yang valid dan memiliki kemampuan untuk menghindari aktivitas berisiko.
Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Toilet Training Dengan Keberhasilan Toileting Anak Usia Prasekolah Di TK Harapan Bunda Desa Trutup Kecamatan Plumpang Mohammad Fatur Rahman; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih; Su’udi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2361

Abstract

Toilet training merupakan salah satu tugas perkembangan penting pada anak usia prasekolah yang berperan dalam pembentukan kemandirian serta perilaku hidup bersih dan sehat. Keberhasilan Toilet training dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah tingkat pengetahuan ibu. Kurangnya pengetahuan ibu dapat menyebabkan keterlambatan anak dalam mengontrol buang air kecil dan besar secara mandiri, ditemukan masih banyak anak di KB Harapan Bunda Desa Trutup Kecamatan Tuban masi menggunakan diapers. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Tingkat pengetahuan ibu tentang toilet training dengan keberhasilan toileting anak usia prasekolah di TK Harapan Bunda Desa Trutup Kecamatan Plumpang. Desain penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 43 ibu yang memiliki anak usia Prasekolah di TK Harapan Bunda Desa Trutup Kecamatan Plumpang. Teknik sampling menggunakan metode total sampling. Menggunakan variabel independent Tingkat pengetahuan ibu tentang Toilet training dan dependen keberhasilan Toileting anak usia prasekolah. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat pengetahuan ibu dan lembar observasi untuk menilai keberhasilan Toileting anak. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruhnya ibu memiliki tingkat pengetahuan yang baik (83,7%) tentang toilet training. Hampir seluruhnya anak usia prasekolah juga telah berhasil melakukan Toileting secara mandiri (90,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan keberhasilan Toileting anak usia Prasekolah P = 0,118 (p > 0,05) sehingga H0 diterima dan H1 ditolak. Tingkat pengetahuan ibu yang baik berperan penting dalam keberhasilan Toilet training anak. Ibu yang memiliki pemahaman yang baik cenderung mampu menerapkan metode Toilet training secara tepat dan konsisten, sehingga anak lebih cepat mencapai kemandirian dalam Toileting.
Pola Makan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Lansia Di Desa Prunggahan Kulon Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban Dian Elok Prasasti; Wahyuningsih Triana N; Wahyu Tri Ningsih; Yasin Wahyurianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2363

Abstract

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan jenis penyakit yang tidak menular namun memiliki prevalensi tinggi pada usia lanjut dan berisiko menyebabkan berbagai komplikasi serius apabila tidak dilakukan pengendalian secara tepat. Kurangnya asupan buah maupun sayur serta tingginya konsumsi makanan kaya lemak dan natrium menjadi bentuk pola makan kurang sehat yang dapat memicu kejadian hipertensi. Hubungan antara pola makan warga usia lanjut dan angka kejadian hipertensi di Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban ingin diketahui melalui riset ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui desain analitis korelasional dan rancangan cross-sectional dengan sebanyak 80 lansia sebagai sebagai warga yang menetap di Desa Prunggahan Kulon menjadi populasi riset, lalu dipilih 67 lansia untuk dijadikan sampel. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode simple random sampling. Kejadian hipertensi ditempatkan sebagai variabel terikat, sementara pola makan diposisikan sebagai variabel bebas. Data penelitian diperoleh melalui kuesioner pola makan dan pemeriksaan tekanan darah menggunakan sphygmomanometer. Untuk mengevaluasi data yang sudah terkumpul diproses lewat analisis univariat serta bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk menguji keterkaitan pola makan dan hipertensi lansia. Lansia dengan penyakit hipertensi dalam penelitian ini sebagian besar punya kebiasaan konsumsi makanan kurang baik. Perhitungan statistik menghasilkan nilai p senilai 0,046 (p < 0,05), hal tersebut menandakan keterkaitan nyata antara hipertensi dan pola konsumsi lansia Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Upaya mencegah sekaligus mengontrol hipertensi lansia bisa dijalankan lewat pengaturan kebiasaan makan. Langkah ini dilakukan dengan menaikkan porsi buah serta sayur sembari membatasi konsumsi santapan yang kaya lemak juga garam.
Perilaku Etika Batuk Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Tuban Muhammad Fajar Wirra Irfani; Wahyuningsih Triana Nugrahaeni; Wahyu Tri Ningsih; Titik Sumiatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2365

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit menular yang ditimbulkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, ditularkan lewat percikan droplet ketika penderita batuk atau bersin. Sepanjang tahun 2026, tercatat 58 orang penderita TB paru menjalani perawatan di Puskesmas Tuban. Salah satu langkah pencegahan penularan yang tergolong penting adalah penerapan etika batuk, meski praktiknya di lapangan turut dipengaruhi oleh karakteristik individu penderita, mencakup latar belakang pendidikan, kelompok usia, serta jenis kelamin. Studi ini disusun guna memperoleh gambaran mengenai perilaku etika batuk pada penderita TB paru di Puskesmas Tuban ditinjau dari ketiga karakteristik tersebut. Rancangan yang digunakan bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Seluruh penderita TB paru di Puskesmas Tuban, yakni 58 orang, dijadikan populasi sekaligus sampel penelitian melalui teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan memakai kuesioner checklist beranggotakan 10 butir pernyataan, meliputi kebiasaan menutup mulut, pemakaian masker, cara pembuangan dahak, hingga kebersihan tangan. Selanjutnya, data diolah secara univariat dan ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi maupun tabulasi silang. Temuan penelitian memperlihatkan hampir separuh responden (31,0%) menamatkan pendidikan pada jenjang SMP, mayoritas (74,1%) tergolong kelompok usia 20-59 tahun, dan sebagian besar (55,2%) berjenis kelamin perempuan. Selain itu, mayoritas penderita (74,1%) tercatat memiliki perilaku etika batuk tergolong baik. Melalui tabulasi silang terungkap bahwa hampir keseluruhan (90,9%) penderita berpendidikan SD dan seluruh (100%) penderita yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah memiliki etika batuk kurang memadai. Pada kelompok usia produktif, hampir seluruhnya (95,3%) menunjukkan perilaku baik, sementara mayoritas (71,4%) penderita lanjut usia justru berperilaku kurang baik. Adapun di antara penderita berperilaku baik, sebagian besar (75,0%) berjenis kelamin perempuan. Dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan, usia, serta jenis kelamin turut membentuk perilaku etika batuk pada penderita. Rendahnya jenjang pendidikan berkaitan erat dengan minimnya pemahaman terhadap upaya pencegahan penularan TB. Sementara itu, kelompok lanjut usia membutuhkan strategi edukasi yang lebih bersifat personal, sedangkan penderita perempuan cenderung menunjukkan kepatuhan lebih tinggi dalam menjalankan perilaku pencegahan. Oleh karena itu, edukasi kesehatan yang berkesinambungan dengan pendekatan adaptif tetap diperlukan, terutama bagi penderita berpendidikan rendah dan kelompok lansia.
Tingkat Pengetahuan Keluarga Tentang Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis Pada Pasien TB Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Tuban Qurrotun A’yuni; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih; Titik Sumiatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 9 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i9.2379

Abstract

Tuberkulosis adalah masalah kesehatan yang membutuhkan pengobatan yang berlangsung lama menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Efek samping OAT dapat menyebabkan putus berobat, menghambat keberhasilan terapi, serta meningkatkan terjadinya resistensi terhadap obat. Kecamatan Tuban merupakan wilayah dengan jumlah kasus putus berobat tertinggi di Kabupaten Tuban, yaitu sebanyak 6 kasus pada tahun 2025. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat pengetahuan keluarga tentang efek samping OAT pada pasien TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Tuban. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh keluarga pasien TB Paru yang menjalani pengobatan di wilayah kerja Puskesmas Tuban sebanyak 50 keluarga. Sampel berjumlah 50 keluarga dengan teknik total sampling. Variabel penelitian adalah tingkat pengetahuan keluarga tentang efek samping OAT. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan presentase. Hasil penelitian menunjukkan hampir seluruh dari keluarga pasien TB Paru (94%) berumur 20–59 tahun, setengahnya (50%) berpendidikan SMA, dan sebagian besar (74%) pernah mendapatkan informasi tentang efek samping OAT. Hampir setengahnya (46%) memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan sebagian kecil (18%) memiliki pengetahuan kurang. Berdasarkan karakteristik, seluruh keluarga pasien TB Paru (100%) dengan pengetahuan kurang berumur >60 tahun, hampir seluruhnya (85,7%) berpendidikan perguruan tinggi memiliki pengetahuan baik, dan sebagian besar (53,8%) keluarga dengan pengetahuan cukup tidak pernah mendapatkan informasi tentang efek samping OAT. Pengetahuan keluarga dipengaruhi oleh umur, pendidikan, dan informasi yang diperoleh. Namun, keterbatasan informasi masih menjadi hambatan dalam memahami efek samping OAT. Oleh sebab itu, pendidikan mengenai kesehatan yang berkelanjutan sangat penting untuk memperluas wawasan keluarga dalam mendukung keberhasilan terapi.