Yenni Yuniati
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Konsep diri Konsep Diri Siswi sebagai Komunikasi Sosial di MA Asih Putera Cimahi: Studi Deskriptif pada Siswi Kelas XII MA Asih Putera Cimahi Fiana Dian Pramesti; Yenni Yuniati
Bandung Conference Series: Communication Management 1025 - 1032
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25876

Abstract

This study examines the self-concept of grade XII female students at MA Asih Putera Cimahi as a manifestation of social communication. Using a quantitative descriptive approach grounded in Carl Rogers' (1951) humanistic theory, the research maps five dimensions of self- concept: self-image (self-perception), self-worth (self-acceptance), congruence (self- consistency), self-expression, and ideal self. Data were collected via a Likert scale questionnaire (1–5) distributed to all 29 students using total sampling. Validity testing used Pearson Product Moment correlation and reliability was assessed through Cronbach's Alpha (α = 0.856). Results indicate that the overall self-concept of students is categorized as high (mean = 3.44). The highest dimension is self-perception (mean = 3.84), followed by self-acceptance (mean = 3.67) and self-consistency (mean = 3.56). Self-expression (mean = 3.37) and ideal self (mean = 3.06) fall within the moderate category, indicating areas that require further development. The school environment and positive interpersonal communication play a  significant role  in  shaping students’ self-concept.   Penelitian ini mengkaji konsep diri siswi kelas XII MA Asih Putera Cimahi sebagai bagian dari komunikasi sosial. Menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif yang berlandaskan teori humanistik Carl Rogers (1951), penelitian ini memetakan lima dimensi konsep diri: persepsi diri (self-image), penerimaan diri (self-worth), konsistensi diri (congruence), ekspresi diri, dan diri ideal (ideal self). Data dikumpulkan melalui angket skala Likert 1–5 kepada seluruh 29 siswi menggunakan teknik total sampling. Uji validitas menggunakan korelasi Pearson Product Moment dan reliabilitas diukur dengan Cronbach’s Alpha (α = 0,856). Hasil penelitian menunjukkan konsep diri siswi secara umum berada pada kategori tinggi (mean = 3,44). Dimensi tertinggi adalah persepsi diri (mean = 3,84), diikuti penerimaan diri (3,67) dan konsistensi diri (3,56). Ekspresi diri (3,37) dan diri ideal (3,06) berada pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun siswi memiliki konsep diri yang cukup positif, masih diperlukan penguatan terutama pada keberanian mengekspresikan diri dan kesesuaian antara diri aktual dengan diri ideal yang diharapkan.
Website sebagai Sarana Komunikasi Pemasaran Terintegrasi (Studi Kasus pada Cygreat Photobooth) Farhan Anugerah; Yenni Yuniati
Bandung Conference Series: Communication Management 407 - 416
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.24119

Abstract

The development of digital technology has brought significant changes to corporate marketing communication strategies. Websites are no longer merely informational media but have evolved into integrated marketing communication tools capable of connecting various digital promotional channels in a consistent and effective manner. In the context of the creative service industry, websites play an important role in building brand image. Based on this phenomenon, this research, entitled “Website as a Medium of Integrated Marketing Communication (A Study on Cygreat Photobooth)”, aims to understand how websites are used as a medium of integrated marketing communication and why the company chooses them as the primary medium in its marketing communication strategy. This study employs a constructivist para digm with a descriptive qualitative method and a case study approach as proposed by Robert K. Yin. Data collection techniques include in-depth interviews with the owner and marketing team, observation of digital activities, and document analysis of website and social media content. This research is expected to provide an in-depth understanding of the website’s role as the central hub of marketing communication integration that connects various promotional media, both online and offline. The findings are expected to serve as a reference for creative industry practitioners in optimizing websites as an effective and sustainable marketing communication strategy in the digital era.   Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap strategi komunikasi pemasaran perusahaan. Website kini tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga menjadi sarana komunikasi pemasaran terintegrasi yang mampu menghubungkan berbagai kanal promosi digital secara konsisten dan efektif. Dalam konteks industri jasa kreatif, website berperan penting dalam membangun citra merek. Berdasarkan fenomena tersebut, penelitian ini berjudul “Website sebagai Sarana Komunikasi Pemasaran Terintegrasi (Studi pada Cygreat Photobooth)” yang bertujuan untuk memahami bagaimana website digunakan sebagai sarana komunikasi pemasaran terintegrasi serta mengapa perusahaan memilihnya sebagai media utama dalam strategi pemasaran. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis dengan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan studi kasus sebagaimana dikemukakan oleh Robert K. Yin. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam dengan pemilik dan tim pemasaran, observasi terhadap aktivitas digital, serta analisis dokumentasi berupa konten website dan media sosial. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam mengenai peran website sebagai pusat integrasi komunikasi pemasaran yang menghubungkan berbagai media promosi, baik online maupun offline. Hasilnya diharapkan dapat menjadi referensi bagi pelaku usaha jasa kreatif dalam mengoptimalkan website sebagai strategi komunikasi pemasaran yang efektif dan berkelanjutan di era digital.
Konstruksi Makna Fashion Alternative melalui Konten Tiktok @BELLACLRS_ : ANALISIS SEMIOTIKA PEIRCE Fatimah Maulana; Yenni Yuniati
Bandung Conference Series: Communication Management 785 - 792
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25199

Abstract

The growth of TikTok as a visual platform has opened a new space for individuals to express and construct identity, including through alternative fashion styles. This article examines how the meaning of alternative fashion is constructed through visual signs in the TikTok content of @bellaclrs_, and how these signs relate through Peircean semiosis. A qualitative approach is used with Charles Sanders Peirce’s semiotic analysis of icons, indexes, and symbols. Data were collected through non-participant observation of five purposively selected videos uploaded between August 2025 and May 2026. The findings show that icons appear through recurring items such as layering technique, leather and fur outerwear, and statement accessories; indexes appear through consistent styling competence and contextual adaptation; while symbols unfold into four interrelated meanings: dark feminine and gothic modern, vintage and thrift, gender fluid, and playful personal. The chain of semiosis linking these signs forms a visual narrative built on four meaning themes, namely visual identity consistency, contextual adaptability, cultural reinterpretation as creativity, and authenticity, positioning alternative fashion as a flexible, adaptive, and consistent visual identity that functions as a medium of nonverbal communication and self-expression.   Perkembangan TikTok sebagai platform visual mendorong munculnya ruang ekspresi yang memungkinkan individu menampilkan dan membangun identitas, termasuk melalui gaya fashion alternative. Artikel ini mengkaji bagaimana makna fashion alternative dikonstruksi melalui tanda-tanda visual dalam konten TikTok akun @bellaclrs_, serta bagaimana tanda-tanda tersebut saling berelasi melalui proses semiosis Peirce. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis semiotika Charles Sanders Peirce terhadap ikon, indeks, dan simbol. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipan terhadap lima konten yang dipilih secara purposif dan diunggah pada periode Agustus 2025 hingga Mei 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikon ditampilkan melalui item fashion yang berulang, seperti teknik layering, jaket kulit dan bulu, serta aksesori mencolok; indeks ditampilkan melalui konsistensi kompetensi styling dan adaptasi kontekstual; sedangkan simbol berkembang menjadi empat pemaknaan yang saling berkaitan, yaitu dark feminine dan gothic modern, vintage dan thrift, gender fluid, serta playful personal. Rantai semiosis yang menghubungkan ketiga tanda tersebut membentuk narasi visual yang bertumpu pada empat tema makna, yaitu konsistensi identitas visual, adaptabilitas kontekstual, kreativitas sebagai reinterpretasi budaya, dan autentisitas, sehingga fashion alternative dikonstruksikan sebagai identitas visual yang fleksibel, adaptif, dan konsisten, sekaligus media komunikasi nonverbal dan ekspresi diri.
Pengaruh Brand Image "Musat Space" di Instagram terhadap loyalitas pelanggan Hafizh Muhammad Ramzy; Yenni Yuniati
Bandung Conference Series: Communication Management 931 - 938
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25489

Abstract

This study examines the influence of Musat Space's Instagram brand image on customer loyalty in the increasingly competitive café industry. Brand Image was measured using Aaker's four indicators Recognition, Reputation, Affinity, and Domain while customer loyalty was measured using Griffin's Repeat Purchase, Referral, and Retention indicators. A quantitative survey method was used, collecting data from 43 Musat Space customers via questionnaires, analyzed through simple linear regression in SPSS. Results show that Musat Space's Instagram brand image has a positive and significant effect on customer loyalty (t = 6.114 > t-table 2.020, sig. <0.001). Partially, all four Brand Image indicators significantly influence loyalty, with Reputation as the most dominant (t = 5.084), followed by Affinity (t = 4.447), Recognition (t = 3.952), and Domain (t = 3.828). These findings indicate that a consistent Instagram brand image functions not merely as visual aesthetics, but as a digital marketing communication strategy that directly shapes long-term customer loyalty. Penelitian ini bertujuan mengukur pengaruh Brand Image Musat Space di Instagram terhadap loyalitas pelanggan, di tengah persaingan industri kafe yang semakin ketat. Brand Image diukur menggunakan empat indikator menurut Aaker, yaitu Pengenalan Merek, Reputasi Merek, Kedekatan Merek, Differensiasi Merek sementara loyalitas pelanggan diukur menggunakan indikator Pembelian Berulang, Merekomendasikan Suatu Produk, Ketahanan Merek menurut Griffin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, di mana data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada 43 responden yang merupakan pelanggan Musat Space, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier sederhana dengan bantuan software SPSS. Hasil penelitian membuktikan bahwa Brand Image Musat Space di Instagram berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan, dengan nilai t sebesar 6,114 yang melebihi t-tabel sebesar 2,020 pada taraf signifikansi <0,001. Secara parsial, seluruh indikator Brand Image juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan, di mana Reputation menjadi indikator paling dominan (t = 5,084), diikuti oleh Kedekatan Merek (t = 4,447), Pengenalan Merek (t = 3,952), dan Differensiasi Merek (t = 3,828). Temuan ini menegaskan bahwa pembentukan Brand Image yang konsisten melalui konten Instagram bukan sekadar persoalan estetika visual, melainkan strategi komunikasi pemasaran digital yang berkontribusi langsung terhadap terbentuknya loyalitas pelanggan jangka panjang.
Hubungan antara Komunikasi Visual Aplikasi ‘Pinterest’ dengan Pemilihan Gaya Fashion Mahasiswa Hanannisa Rakha Syawalifani; Yenni Yuniati
Bandung Conference Series: Communication Management 1057 - 1064
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25944

Abstract

This study examines the relationship between the visual communication of the Pinterest application and the fashion style selection of students at Universitas Islam Bandung (Unisba). Pinterest is a visually-driven platform displaying layout, color, imagery, and typography elements that potentially influence users  perceptions and fashion related decisions. Using a quantitative correlational method with a positivistic paradigm, data were collected via a Likert scale questionnaire distributed to 86 students from ten faculties using total sampling and analyzed with Rank Spearman correlation. Normality tests (Kolmogorov-Smirnov) confirmed non-normal distributions for both variables (X: sig. = 0.048; Y: sig. = 0.041). Results show a significant, strong, and positive relationship between Pinterest's visual communication and students' fashion style selection (rs = 0.634; p < 0.001). At the sub-variable level, layout (rs = 0.588), color (rs = 0.565), imagery (rs = 0.533), and typography (rs = 0.513) each demonstrated moderate and positive correlations. These findings confirm that Pinterest effectively functions as a new media platform whose visual elements actively shape students' fashion identity and decision-making.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan Pinterest sebagai media pencarian referensi visual, khususnya dalam konteks fashion di kalangan mahasiswa. Sebagai platform visual, Pinterest menampilkan elemen tata letak, warna, gambar, dan tipografi yang berpotensi memengaruhi persepsi serta keputusan pengguna dalam memilih gaya berpakaian. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara komunikasi visual aplikasi Pinterest dengan pemilihan gaya fashion mahasiswa, serta menguji hubungan masing-masing elemen visual terhadap aspek-aspek pemilihan gaya. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional, paradigma positivistik, dan teknik total sampling terhadap 86 mahasiswa dari sepuluh fakultas di Universitas Islam Bandung. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif, kuat, dan signifikan antara komunikasi visual Pinterest dengan pemilihan gaya fashion mahasiswa Unisba (rs = 0,634; p < 0,001). Pada tingkat sub-variabel, tata letak (rs = 0,588), warna (rs = 0,565), gambar (rs = 0,533), dan tipografi (rs = 0,513) seluruhnya menunjukkan hubungan sedang dan positif yang signifikan.