Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERANAN PEMBINA PRAMUKA DALAM PEMBINAAN JIWA BELA NEGARA SISWA SMP NEGERI 3 PALU Wardiman, Wardiman
EDU CIVIC Vol 5, No 1 (2017): JURNAL EDU-CIVIC
Publisher : EDU CIVIC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.677 KB)

Abstract

PERANAN PEMBINA PRAMUKA DALAM PEMBINAAN JIWA BELA NEGARA SISWA SMP NEGERI 3 PALUWardiman[1]Widayati Pujiastuti[2]Hasdin[3]ABSTRAK Wardiman (2017). Peranan Pembina Pramuka dalam Pembinaan Jiwa Bela Negara SMP Negeri 3 Palu. Skripsi, Program Studi Pendidikan dan Kewarganegaraan, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tadulako. Pembimbing (1) Widayati Pujiastuti, Pembimbing (2) Hasdin.          Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Peranan Pembina Pramuka dalam Pembinaan Jiwa Bela Negara SMP Negeri 3 Palu. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang dilaksanakan di SMP Negeri 3 Palu berada di jl. Kemiri No.35, Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat Kota Palu. Sampel dalam penelitian ini. Pembina Pramuka dan anggota pramuka SMP Negeri 3 Palu berjumlah 6 orang dan anggota Pramuka 32 orang. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah wawancara, angket dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tiga tahap yakni: Reduksi data, penyajian data dan mengambil kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Peran Pembina Pramuka dalam Pembinaan jiwa Bela Negara SMP Negeri 3 Palu adalah cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, yakin terhadap pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, memilki kemampuan awal bela negara. Dapat dilihat dari sikap anggota pramuka yang mampu menerapkan dan mengimpelmentasikan lima unsur bela negara. Kata kunci : Peranan Pembina Pramuka; Jiwa Bela Negara.[1]A 321 13 037, Mahasiswa Program Studi PPKn, FKIP, Universitas Tadulako[2]Pembimbing I[3]Pembimbing II
Persepsi Masyarakat Tentang Struktur Makrokosmos dan Simbol Konstruksi Rumah Adat Bugis Berdasarkan Geografi Budaya Wardiman, Wardiman; Maru, Rosmini; Badwi, Nasiah
LaGeografia Vol 19, No 1 (2020): Oktober
Publisher : UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1103.402 KB) | DOI: 10.35580/lageografia.v19i1.13594

Abstract

This research is included in a qualitative research that aims to determine public perceptions about the structure of macrocosm and symbol of the construction of a Bugis traditional house in Manurungnge village Tanete Riattang sub-district based on cultural geography. Macrocosm is an understanding of Bugis Bone society's trust in the universe that implemented into a form of dwelling. This understanding has been around for decades. After conducting research, it can be concluded that with the times, the understanding of this macrocosm has begun to fade among the people, the structure of the macrocosm is very closely related to the symbol of Bugis traditional house construction, because every time when building a traditional house, the public always includes the symbol of construction on the Bugis traditional house
Analisis Situasi Masalah Penyakit Infeksi Menular Seksual di Kota Bogor Tahun 2024 wardiman, wardiman; Djuwita, Ratna; Kusnadi, Bai
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia Vol. 9, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Infeksi menular seksual (IMS) masih menjadi tantangan kesehatan global, termasuk di Indonesia, terutama pada kelompok usia produktif 15-49 tahun. Di Kota Bogor, angka kasus IMS mengalami peningkatan, namum belum sepenuhnya menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis situasi IMS secara mendalam dan menetapkan prioritas masalah kesehatan menggunakan metode PAHO-adapted Hanlon, yang mengacu pada pembobotan Basic Priority Rating (BPR) berdasarkan lima kriteria utama, yaitu, A=Masalah utama; B=Keseriusan masalah; C=Efektivitas intervensi; E=Ketidakadilan; F=Kapasitas institusi dalam mengatasi masalah. Penelitian ini dilaksanakan di Dinas kesehatan Kota Bogor pada Oktober 2024 hingga Januari 2025, dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, serta disajikan secara deskriptif. Penelitian ini menggunakan sumber data primer yang diperoleh melalui wawancara sementara data sekunder bersumber dari profil kesehatan, laporan Umpan Balik P3MS, dan laporan SIHA Dinas Kesehatan Kota Bogor. Penilaian ini melibatkan enam pejabat struktural Dinas Kesehatan Kota Bogor serta enam pemegang program IMS dari puskesmas dengan angka kasus IMS tertinggi. Hasil analisis menunjukkan enam masalah kesehatan utama dengan skor PAHO tertinggi pada HIV/AIDS (36,02), diikuti sifilis dan sifilis kongenital (22,67), gonore (22,14), infeksi Human Papilloma Virus (13,16), infeksi Herpes Simplex Virus (10,43), dan infeksi klamidia (7,85). HIV/AIDS ditetapkan sebagai prioritas utama karena target Fast Track 95-95-95 belum tercapai, dengan capaian indikator saat ini: 82% Orang dengan HIV (ODHIV) mengetahui statusnya, 31% menjalani pengobatan, dan 67% memiliki viral load tersupresi. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan konselor HIV/AIDS, pelatihan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) secara berkala, kampanye edukasi massal berbasis komunitas untuk mengurangi stigma dan diskriminasi, serta penambahan jumlah petugas penelusur dengan melibatkan lebih banyak LSM dan organisasi local guna mempercepat pencapaian target Fast Track 95-95-95.
MANTRA PENGOBATAN MASYARAKAT BUGIS DAN KONJO DI SULAWESI SELATAN: KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK (TREATMENT MANTRAS FOR THE BUGIS AND KONJO PEOPLE IN SOUTH SULAWESI: ANTHROPOLINGUISTIC STUDY) Wardiman, Wardiman
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 15, No 2 (2025): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v15i2.22540

Abstract

AbstractTreatment Mantras for the Bugis and Konjo People in South Sulawesi: Anthropolinguistic Study. This study focuses on the symbolic meanings in the healing mantras of the Bugis and Konjo people in South Sulawesi, highlighting the close relationship between language and culture, as language is a key element in culture itself. The Bugis and Konjo people continue to preserve their cultural heritage, including their traditional healing practices in the form of mantras. This preservation is carried out through the practice and use of these mantras. The purpose of this study is to explain the symbolic meanings contained in the healing mantras of the Bugis and Konjo people in South Sulawesi. Using a qualitative descriptive approach, this study relies on primary data collected directly from the community through observation, data sources, and interviews. Data analysis was carried out by identification, classification, and synthesis to draw conclusions. The results showed that there were 20 identified mantras, each with its own symbolic meaning, including phrases such as Bismillah, Muhammad, Barakka la ilaha illalla, Allahu Laa Ilaahailla Huwa, Suluk Baji-bajiki, Batu Matanna. The process of inheriting these mantras reflects a strong cultural continuity, despite the challenges of modernization. Healing mantras not only focus on physical recovery, but also include spiritual, social, and environmental aspects. The Bugis and Konjo people realize that healing includes not only physical but also mental and spiritual aspects, as reflected in the use of these mantras.Keywords: Medical Mantras, Bugis, Konjo, Symbolic Meanings, AnthropolinguisticsAbstrakMantra Pengobatan Masyarakat Bugis dan Konjo di Sulawesi Selatan: Kajian Antropolinguistik. Penelitian ini berfokus pada makna simbolik dalam mantra pengobatan masyarakat Bugis dan konjo di Sulawesi Selatan, yang menyoroti hubungan erat antara bahasa dan budaya, karena bahasa merupakan unsur kunci dalam budaya itu sendiri. Masyarakat Bugis dan konjo terus melestarikan warisan budaya mereka, termasuk praktik pengobatan tradisional dalam bentuk mantra. Pelestarian ini dilakukan melalui praktik dan penggunaan mantra-mantra tersebut.Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan makna simbolik yang terkandung dalam mantra pengobatan masyarakat Bugis dan Konjo di Sulawesi Selatan. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini mengandalkan data primer yang dikumpulkan langsung dari masyarakat melalui observasi, sumber data, dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan identifikasi, klasifikasi, dan sintesis untuk menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 20 mantra yang teridentifikasi, masing-masing dengan makna simboliknya, termasuk frasa seperti Bismillah, Muhammad, Barakka la ilaha illalla, Allahu Laa Ilaahailla Huwa, Suluk Baji-bajiki, Batu Matanna. Proses pewarisan mantra-mantra ini mencerminkan kesinambungan budaya yang kuat, meskipun menghadapi tantangan dari modernisasi. Mantra pengobatan tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga mencakup aspek spiritual, sosial, dan lingkungan. Masyarakat Bugis dan Konjo menyadari bahwa penyembuhan mencakup tidak hanya aspek fisik tetapi juga mental dan spiritual, sebagaimana tercermin dalam penggunaan mantra-mantra ini.Kata-kata kunci: Mantra Pengobatan, Bugis, Konjo, Makna Simbolik, Antropolinguistik