AbstrakKeterbatasan akurasi alat ukur dan pencatatan manual pertumbuhan balita menghambat validasi data tumbuh kembang di tingkat pelayanan dasar. Pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini diorientasikan untuk menghilirisasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) melalui implementasi sistem pemantauan tumbuh kembang balita secara digital di Posyandu Melati VII, Kelurahan Bantan, Kecamatan Medan Tembung. Sistem ini mengintegrasikan sensor ultrasonik dan load cell untuk mengukur tinggi serta berat badan balita secara akurat, sekaligus meningkatkan literasi digital kader. Pendekatan partisipatif dipilih sebagai metodologi pelaksanaan kegiatan, di mana alur kerjanya mencakup pemetaan kebutuhan di lapangan, implementasi perangkat di lokasi, pembekalan keterampilan digital, serta pengukuran keberhasilan program. Melalui tahapan implementasi yang dilakukan, integrasi data pengukuran yang berjalan secara otomatis serta terstandardisasi telah berhasil diwujudkan oleh sistem. Hasil PkM menunjukkan peningkatan kapasitas kognitif dan keterampilan mitra secara signifikan. Berdasarkan akumulasi skor total dari tiga domain materi (Teknologi Digital, Sistem Smart Posyandu, dan Pengoperasian Instrumen), rata-rata pemahaman kader melonjak dari 24,7% pada sesi pretest menjadi 85,5% pada sesi posttest. Kenaikan akumulatif ini mencerminkan keberhasilan transfer pengetahuan dan kesiapan psikomotorik kader dalam mengoperasikan perangkat antropometri berbasis IoT secara mandiri. Evaluasi membuktikan digitalisasi ini mengefisienkan pelayanan, memangkas antrean, dan meminimalkan human error. Meskipun terdapat delay pengiriman data dari sensor ke basis data hingga 15 detik (melebihi target 10 detik), karakteristik penundaan ini tidak mengganggu jalannya pelayanan rutin masyarakat. Kondisi tersebut mendukung kelayakan integrasi sistem Smart Health Community melalui antropometri digital yang menjadi solusi tepat guna untuk meningkatkan validitas data kesehatan, mengoptimalkan kinerja kader, dan mendukung keberlanjutan program pemantauan tumbuh kembang anak di Kelurahan Bantan. Keywords: antropometri digital; Internet of Things; kader posyandu; layanan kesehatan; tumbuh kembang balita.AbstratcLimitations in measuring tool accuracy and manual recording of toddler growth hinder the validation of developmental data at the primary care level. This Community Service (PkM) activity is oriented toward downstreaming Internet of Things (IoT)-based technology through the implementation of a digital toddler growth monitoring system at Posyandu Melati VII, Bantan Village, Medan Tembung District. The system integrates ultrasonic and load cell sensors to accurately measure toddlers' height and weight, while simultaneously enhancing the digital literacy of health cadres. A participatory approach was selected as the implementation methodology, with a workflow comprising field needs assessment, on-site device implementation, digital skills training, and program success measurement. Through the executed implementation phases, the system successfully achieved automated andstandardized integration of measurement data. On a non-technical level, the cadres' capacity increased significantly, with average material comprehension rising from 24.7% to 85.5%. Evaluation proves that this digitalization streamlines services, reduces queues, and minimizes human error. Although there is a data transmission delay from the sensors to the database of up to 15 seconds (exceeding the 10-second target), this delay characteristic does not disrupt routine community services. These conditions support the feasibility of integrating a Smart Health Community system through digital anthropometry, providing an appropriate technological solution to improve health data validity, optimize cadre performance, and support the sustainability of child growth monitoring programs in Bantan Village. Keywords: digital anthropometry; Internet of Things; posyandu cadres; health services; toddler growth and development.