Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rekonstruksi Konseptual Khidmah kepada Guru dalam Tradisi Pendidikan Islam: Analisis Filosofis-Pedagogis atas Adab Keilmuan, Relasi Guru-Murid, dan Pembentukan Karakter Peserta Didik Badrus Shalih; marzuqi; Barlian Fajri; Azis Nurul Iman
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 4 No. 4 (2025): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, April 2025
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v4i4.7128

Abstract

Abstract: This study reconstructs the concept of khidmah students' devotional service to their teacher within the Islamic educational tradition through a philosophical-pedagogical approach. Amid the contemporary crisis of adab in education and the rapid digitalization of pesantren, khidmah is often reduced to physical service or suspected as feudal practice, despite harboring epistemological, relational, and transformative depths that remain systematically unexplored. Employing a qualitative-philosophical design, this study combines library research on classical texts (Hasyim Asyʼari's Adab al-ʼAlim wa al-Mutaʼallim, al-Zarnuji's Taʼlim al-Mutaʼallim, al-Ghazali's Ihyaʼ ʼUlum al-Din) with field research in Nusantara pesantren that preserve khidmah traditions, analyzed using reflexive thematic analysis. Three main findings are formulated: first, khidmah functions as a praxis of scholarly adab that prepares students' inner structure to receive knowledge as a trust rather than mere information; second, khidmah forms transformative teacher-student relationships through moral proximity, direct exemplarity, and the transmission of scholarly sanad; third, khidmah operates as a mechanism of character internalization through four pathways exemplarity, closeness, disciplined devotion, and communal legitimacy. This study offers a theoretical novelty in the form of the Trilogical Khidmah model, integrating al-Attas's taʼdib framework, Noddings's ethics of care, and Lickona's character education into a unified pedagogical synthesis. Its practical contribution provides direction for developing adab-based character curricula in Indonesian pesantren and madrasah, alongside a critical reading of authority abuses inherent in kiai-santri relations.
IMPLEMENTASI MODERASI BERAGAMA DALAM PENDIDIKAN ISLAM Azis Nurul Iman; Nur Azizah
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 7 (2024): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Juli 2024
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v3i7.7165

Abstract

Indonesia sebagai negara dengan kemajemukan agama, suku, dan budaya menghadapi tantangan serius berupa meningkatnya intoleransi, radikalisme, dan konflik sosial yang mengatasnamakan agama di kalangan generasi muda pada tahun 2023. Pendidikan Islam sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional memiliki peran strategis dalam menginternalisasikan nilai-nilai moderasi beragama, namun implementasinya masih menghadapi berbagai kendala seperti pendekatan pembelajaran yang masih bersifat teoretis, resistensi pendidik, serta pengaruh media digital yang tidak terfilter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif implementasi moderasi beragama dalam pendidikan Islam serta merumuskan strategi penguatan yang efektif dan berkelanjutan pada tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), mengkaji berbagai sumber ilmiah berupa jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional, buku akademik, serta dokumen kebijakan Kementerian Agama yang relevan dengan moderasi beragama dalam pendidikan Islam yang terbit pada tahun 2023 ke bawah. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara kritis-analitis. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa implementasi moderasi beragama dalam pendidikan Islam dilaksanakan melalui tiga strategi utama: (1) pengintegrasian nilai-nilai wasathiyah seperti tawasuth (jalan tengah), tawazun (keseimbangan), i'tidal (keadilan), tasamuh (toleransi), dan syura (musyawarah) ke dalam kurikulum dan materi ajar PAI secara sistematis; (2) penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual, reflektif, dan berbasis karakter melalui metode dialogis, keteladanan, pembiasaan, diskusi, serta pendekatan sosiokultural yang mengintegrasikan agama dan budaya; serta (3) penguatan budaya sekolah inklusif dan kegiatan ekstrakurikuler berbasis moderasi beragama. Hambatan utama implementasi meliputi tantangan internal seperti pembelajaran yang masih bersifat teoretis dan resistensi pendidik, serta tantangan eksternal berupa pengaruh media digital yang tidak terfilter dan lingkungan sosial yang eksklusif. Kontribusi teoretis penelitian ini adalah pengembangan Model MODERASI-ISLAM sebagai kerangka komprehensif implementasi moderasi beragama dalam pendidikan Islam yang mengintegrasikan dimensi kurikuler, pedagogis, dan kultural secara simultan. Secara praktis, model ini dapat menjadi panduan bagi guru PAI, kepala sekolah, dan pengelola satuan pendidikan dalam merancang dan mengimplementasikan pendidikan moderasi beragama yang efektif dan berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan integrasi nilai-nilai moderasi dalam kurikulum PAI secara sistematis, peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan pedagogi moderasi beragama dan literasi digital, pengembangan bahan ajar dan media pembelajaran yang kontekstual dan interaktif, serta penguatan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membangun ekosistem moderasi beragama yang berkelanjutan.