Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Komparatif Metode Pengeringan Biodrying, Termal, dan Solar dalam Optimalisasi Kualitas Refuse-Derived Fuel (RDF): Sebuah Tinjauan Literatur Muhammad Akmal Muzakkiy; Rita Anggraeni; Saskia Amelia Setiawan; Arsya Naovarrahma; Hilda Hasanah; Firya Naurah Triadika; Halimah Nisa Tauqida; Aqila Ramadhani Syafiqa Wahab; Teguh Taufiqurohim
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 17 No. 1 (2026): Prosiding 17th Industrial Research Workshop and National Seminar (IRWNS)
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v17i1.7181

Abstract

Peningkatan timbulan sampah dan tingginya ketergantungan terhadap bahan bakar fosil mendorong pengembangan Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai bahan alternatif yang mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan sekaligus penyediaan energi. Kualitas RDF sangat dipengaruhi oleh proses pengeringan, karena kadar air yang tinggi dapat menurunkan nilai kalor dan efisiensi pembakaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan karakteristik berbagai metode pengeringan RDF, meliputi biodrying, pengeringan termal, dan pengeringan solar. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode studi kepustakaan dengan mengumpulkan dan mengevaluasi berbagai artikel ilmiah nasional maupun internasional yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa biodrying memiliki efisiensi energi yang baik karena proses ini mampu mencapai rentang suhu 40–70°C secara internal melalui pemanfaatan panas dari aktivitas mikroorganisme aerob. Pengeringan termal memberikan laju pengeringan paling cepat yang dapat selesai dalam hitungan menit hingga jam, namun menuntut konsumsi energi termal eksternal serta biaya operasional yang mahal. Pengeringan solar menawarkan biaya operasional yang paling ekonomis dan bebas emisi gas buang, akan tetapi durasi kinerjanya sangat fluktuatif karena bergantung pada intensitas panas matahari dan kondisi cuaca. Oleh karena itu, pemilihan metode pengeringan perlu disesuaikan dengan karakteristik bahan baku, kebutuhan produksi, ketersediaan energi, dan kondisi operasional untuk menghasilkan RDF yang memenuhi standar kualitas sebagai bahan bakar alternatif berdasarkan SNI 9313:2024.
Studi Potensi Sampah Padat Politeknik Negeri Bandung Sebagai Bahan Baku Refuse-Derived Fuel (RDF): Pengaruh Variasi Komposisi Sampah terhadap Waktu Pengeringan dan Kualitas Produk Faza Nabilah Yusuf; Zahira Hasna Adjani; Novan Fauzan Risvanza; Reza Sopian; Teguh Taufiqurohim; Dianty Rosirda Dewi Kurnia
Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar Vol. 17 No. 1 (2026): Prosiding 17th Industrial Research Workshop and National Seminar (IRWNS)
Publisher : Politeknik Negeri Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35313/irwns.v17i1.7182

Abstract

Politeknik Negeri Bandung (Polban) menghasilkan sampah padat berupa organik dan residu yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan Refuse-Derived Fuel (RDF). Pemanfaatan sampah menjadi RDF mendukung konsep Waste to Energi yang dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar batu bara. Penelitian ini bertujuan melakukan studi potensi sampah padat Polban sebagai bahan baku RDF berdasarkan variasi komposisi sampah serta pengaruhnya terhadap waktu pengeringan dan kualitas produk. Metode penelitian dilakukan dengan observasi lapangan, wawancara koordinator pengelola sampah, dan eksperimen laboratorium untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik, sistem pengelolaan sampah, dan efektivitas pengolahan sampah menjadi RDF. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan sampel, pemilahan jenis sampah, proses pengeringan, serta pengujian yang meliputi kadar air, nilai kalor, kadar abu, dan sulfur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi sampah terbaik yaitu diperoleh pada 20% organik : 80% residu dengan penurunan kadar air paling cepat hingga diperoleh kadar air 19,19% dengan waktu pengeringan 270 menit. Kualitas produk yang dihasilkan memliki nilai kalor sebesar 5307,06 kcal/kg, kadar abu 8,94%, dan sulfur 0,11% sesuai dengan SNI 9313:2024. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, sampah Polban memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku RDF. Pengaturan rasio komposisi sampah organik dan residu menjadi faktor penting dalam mengoptimalkan waktu pengeringan dan kualitas RDF.