Yance Ronard Rainuny
Universitas Jayapura

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Relationship between Family Support and Quality of Life among People Living with HIV/AIDS Yance Ronard Rainuny; Yestiani Norita Joni; Fenska Narli Makualaina; Lisma Natalia Sembiring; Fathia Inayati Said; Nasrianti Nasrianti
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 8 No. 6 (2026): Indonesian Journal of Global Health Research: December 2026
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v8i6.2537

Abstract

HIV/AIDS is a public health issue that affects the physical, psychological, social, and environmental conditions of sufferers. Family support plays a crucial role in enhancing the adaptability and quality of life of people living with HIV/AIDS (PLHIV). This study aims to analyze the relationship between family support and the quality of life of PLHIV at the Sentani Community Health Center. Objective to determine the relationship between family support and the quality of life of people living with HIV/AIDS at the Sentani Community Health Center.  This study used a correlational design with a cross-sectional approach at Sentani Community Health Center, Jayapura Regency, from May to July 2024. The sample consisted of 69 people living with HIV (PLHIV) selected using purposive sampling. Data were collected using a family support questionnaire and the WHOQOL-HIV-BREF. The family support questionnaire was declared valid and reliable, with a Cronbach’s Alpha of 0.883, while the WHOQOL-HIV-BREF consisted of 31 items and was declared valid with an r-count > r-table (0.349). Bivariate analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of α = 0.05.  The majority of respondents had high family support, numbering 54 individuals (78.3%), and a good quality of life, numbering 53 individuals (76.8%). Respondents with high family support and a good quality of life accounted for 51 individuals (73.9%), whereas respondents with low family support and a poor quality of life accounted for 13 individuals (18.8%). The Chi-Square test results yielded a p-value of 0.000 (< 0.05), indicating a significant relationship between family support and the quality of life of PLHIV.  Family support is significantly correlated with  the quality of life of PLHIV at the Sentani Community Health Center. The higher the family support received, the better the quality of life of PLHIV. Strengthening family-based interventions is necessary to sustainably improve the quality of life of PLHIV.
The Relationship between Spiritual Needs and Adherence to ARV Medication Yance Ronard Rainuny; Yestiani Norita Joni; Fenska Narly Makualaina; Lisma Natalia Br Sembiring; Fathia Inayati Said; Farhan Imba
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 8 No. 6 (2026): Indonesian Journal of Global Health Research: December 2026
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v8i6.2569

Abstract

Adherence to antiretroviral (ARV) therapy is crucial for people living with HIV/AIDS (PLWHA) to suppress viral replication and prevent resistance. The spiritual dimension is often considered a source of internal strength, yet its relationship with medical adherence at the primary health center level remains under-researched. This study aims to analyze the relationship between spiritual needs and adherence  to antiretroviral (ARV) medication at the Sentani Health Center. This analytical quantitative study with a cross-sectional design involved 59 respondents selected via incidental sampling at the Sentani Public Health Center (October 2024–February 2025). The research instruments used in this study were the Spiritual Needs Questionnaire (SPNQ) and the 8-item Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). The results of the validity and reliability tests indicated that both instruments were valid, reliable, and suitable for use in this study. Data were analyzed using the Kendall’s Tau-b correlation test.  The majority of respondents were aged 20-24 years (44.1%) and were female (50.8%). A total of 86.4% of respondents reported high spiritual needs, yet 93.2% exhibited low adherence to ARV medication. Statistical testing indicated no significant correlation between spiritual needs and ARV medication adherence (p = 0.416 > 0.05), with a very weak and negative relationship (r = -0.107). High spiritual needs do not directly guarantee adherence to antiretroviral (ARV) medication among people living with HIV/AIDS (PLWHA) at the Sentani Community Health Center. Adherence is a multifactorial phenomenon that is likely influenced more by psychosocial factors, family support, and distress tolerance.
Edukasi Kesehatan Pencegahan Penyakit Malaria di Wilayah Kerja Puskemas Harapan Kabupaten Jayapura Yance Ronard Rainuny; Yestiani Norita Joni; Nasriati Nasriati; Fenska Narly Makualaina; Farhan Imba
Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2026): September 2026
Publisher : Menara Science Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70109/jupenkes.v3i3.132

Abstract

Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di wilayah endemis seperti Papua, dengan tren kasus yang terus meningkat setiap tahun. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang penularan, gejala, dan cara pencegahan malaria menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian malaria, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Harapan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Kampung Nolokna, wilayah kerja Puskesmas Harapan, mengenai pencegahan penyakit malaria. Kegiatan dilaksanakan selama satu hari melalui metode ceramah interaktif dan tanya jawab, dengan sasaran 34 orang (14 laki-laki dan 20 perempuan). Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test, kemudian hasilnya dibandingkan untuk menilai perubahan pengetahuan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan yang bermakna: proporsi responden berpengetahuan kurang menurun dari 47,1% menjadi 8,8%, kategori cukup meningkat dari 44,1% menjadi 55,9%, dan kategori baik meningkat dari 8,8% menjadi 35,3%. Peserta juga menunjukkan antusiasme dan keaktifan bertanya selama kegiatan berlangsung. Dapat disimpulkan bahwa edukasi kesehatan efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan malaria. Kegiatan edukasi seperti ini perlu dilakukan secara berkelanjutan dan disertai evaluasi berkala agar pengetahuan yang telah diperoleh dapat dipertahankan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna mendukung upaya penurunan angka kejadian malaria di wilayah endemis.
Edukasi Penggunaan dan Perawatan Kelambu Berinsektisida di Kampung Asei Kecil, Distrik Sentani Timur Yance Ronard Rainuny; Yestiani Norita Joni; Fathia Fakhri Inayati Said; Crystin Evangelin Watunglawar
Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Kesehatan Vol. 3 No. 3 (2026): September 2026
Publisher : Menara Science Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70109/jupenkes.v3i3.134

Abstract

Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Provinsi Papua, termasuk di Distrik Sentani Timur dengan tingkat endemisitas Tinggi-III. Salah satu strategi pengendalian vektor yang direkomendasikan adalah penggunaan kelambu berinsektisida (LLINs), namun efektivitasnya sangat bergantung pada pengetahuan dan perilaku penggunaan serta perawatan yang benar. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Kampung Asei Kecil tentang penggunaan dan perawatan kelambu berinsektisida melalui edukasi kesehatan. Metode yang digunakan adalah ceramah interaktif dan tanya jawab dengan 36 partisipan, disertai pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan yang bermakna, di mana kategori pengetahuan baik meningkat dari 11,1% menjadi 63,9%, sementara kategori kurang menurun dari 16,7% menjadi 5,6%. Kesimpulannya, edukasi kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penggunaan dan perawatan kelambu berinsektisida, sehingga perlu dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya pencegahan malaria di wilayah endemis.