Noor Fauzi Isniarno
Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Evaluasi Kapasitas dan Pemeliharaan Settling Pond CP 1 di Site Bakan PT JRBM Muhammad Azka; Yunus Ashari; Noor Fauzi Isniarno
Bandung Conference Series: Mining Engineering 125 - 132
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v6i2.24666

Abstract

Abstract. This study aims to evaluate the actual capacity of Settling Pond CP1 based on runoff discharge and sedimentation, determine the optimal maintenance interval, and assess the effectiveness of Total Suspended Solids (TSS) reduction at the Bakan Site of PT J Resources Bolaang Mongondow. Hydrological analysis was conducted using the Rational Method based on rainfall data from 2015–2024, while the sedimentation rate was calculated from the combination of flow discharge and TSS concentration. The actual capacity of the settling pond was determined through topographic measurements and storage volume calculations. The results indicate that the actual capacity of Settling Pond CP1 is 178,109 m³, which is still sufficient to accommodate the design runoff discharge, although its capacity has decreased due to sediment accumulation. The total sedimentation rate entering the system is 27,003.2 m³/month, resulting in maintenance intervals of 1.88 months for Pond 1, 8.09 months for Pond 2, 4.00 months for Pond 3, and 12.97 months for Pond 4. TSS testing showed a reduction from 17,500 mg/L at the inlet to 30 mg/L at the outlet, with a removal efficiency of 99.7%, meeting the mining wastewater quality standard of 200 mg/L. Therefore, Settling Pond CP1 remains effective as a sediment control facility but requires periodic dredging according to the calculated maintenance intervals.   Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kapasitas aktual Settling Pond CP1 berdasarkan debit limpasan dan sedimentasi, menentukan interval pemeliharaan yang optimal, serta mengevaluasi efektivitas penurunan Total Suspended Solids (TSS) di Site Bakan PT J Resources Bolaang Mongondow. Analisis hidrologi dilakukan menggunakan Metode Rasional berdasarkan data curah hujan periode 2015–2024, sedangkan laju sedimentasi dihitung berdasarkan kombinasi debit aliran dan konsentrasi TSS. Kapasitas aktual settling pond ditentukan melalui pengukuran topografi dan perhitungan volume tampungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas aktual Settling Pond CP1 sebesar 178.109 m³ masih mampu menampung debit limpasan rencana, meskipun telah mengalami penurunan kapasitas akibat akumulasi sedimen. Total laju sedimentasi yang masuk ke sistem sebesar 27.003,2 m³/bulan, dengan interval pemeliharaan masing-masing 1,88 bulan untuk Pond 1, 8,09 bulan untuk Pond 2, 4,00 bulan untuk Pond 3, dan 12,97 bulan untuk Pond 4. Pengujian TSS menunjukkan penurunan konsentrasi dari 17.500 mg/L pada inlet menjadi 30 mg/L pada outlet dengan efektivitas penurunan sebesar 99,7%, sehingga memenuhi baku mutu air limbah pertambangan sebesar 200 mg/L. Dengan demikian, Settling Pond CP1 masih efektif sebagai fasilitas pengendalian sedimen, namun memerlukan pengerukan sedimen secara berkala sesuai interval pemeliharaan yang telah ditentukan.
Evaluasi Kegiatan Peledakan untuk Meminimalisir Dampak Negatif Getaran Tanah di Pt Antareja Mahada Makmur Jobsite Pt Multi Harapan Utama Ryan Andika; Zaenal; Noor Fauzi Isniarno
Bandung Conference Series: Mining Engineering 133 - 140
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v6i2.24796

Abstract

Abstract. Blasting activities are conducted to break rock or to separate mineral deposits from the host rock through chemical means using explosives. One of the negative impacts of blasting is ground vibration, which can influence slope stability. Therefore, this study aims to evaluate and analyze the effects of ground vibration on slope stability based on PPV (mm/s), PPA (g), and Amaks (g). This research employed two analytical methods: the non-linear power trendline method and Multiple Linear Regression. Both methods were used to predict vibration levels using distance and explosive charge per delay as variables. Ground vibration measurements were conducted at 31 points with varying distances. The analysis refers to the company's allowable vibration threshold, which is 0.06 g. Vibration analysis was carried out by examining the relationship between PPA and PPV with SD to determine the maximum explosive charge per delay that can be safely used. The results show that the vibration levels remain within safe limits, as the highest recorded PPA was 0.15 g, below the threshold of 0.06 g. The charge that can be used in each blasting with a distance of at least 300 m with an explosive content of more than 50 kg/delay will produce a value that exceeds the limit. Abstrak. Kegiatan peledakan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memberaikan batuan atau memisahkan bahan galian dari batuan induknya dengan cara kimiawi menggunakan bahan peledak. Salah satu dampak negatif dari peledakan adalah getaran tanah.Getaran tanah akan mempengaruhi kestabilan. Oleh karena itu adanya penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh getaran tanah terhadap kestabilan lereng berdasarkan nilai PPA (mm/s),PPV (g), dan Amaks (g). Kajian analisis pada penelitian ini menggunakan metode analisis non linier (Tredline Power) dan metode Multipe Linier Regression. Pada kedua metode yang digunakan yaitu untuk mengetahui prediksi dari nilai getaran dengan parameter jarak dan bahan peledak per waktu tunda. Pengukuran tingkat getaran peledakan dilakukan sebanyak 31 titik dengan jarak yang bervariasi. Analisis dilakukan berdasarkan trial and eror dengan tingkat getaran maksimum adalah 0,06 g. Analisis getaran dilakukan berdasarkan pada hubungan (PPA) dan (PPV) terhadap SD untuk mendapatkan muatan bahan peledak maksimum per waktu tunda yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat getaran terdapat nilai yang melebihi getaran maksimum nilai PPA tertinggi sebesar 0,15 g dan nilai ambang batas PPA sebesar 0,06 g. Muatan yang dapat digunakan pada setiap peledakan dengan jarak paling dekat 300 m dengan isian bahan peledak lebih dari 50 kg/delay akan menghasilkan nilai yang melebihi batas.
Rancangan Sistem Penyaliran Tambang Sirtu PT. Bukit Tampomas Lestari, Kecamatan Paseh, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat Muhammad Reinald Raihan; Yunus Ashari; Noor Fauzi Isniarno
Bandung Conference Series: Mining Engineering 169 - 176
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract. Open-pit sand and gravel mining operations are vulnerable to water accumulation from rainfall and surface runoff, which can disrupt mining activities. Therefore, an effective mine drainage system is required. This study aims to determine rainfall intensity, catchment area, runoff discharge, and to design drainage ditches and a settling pond. The research applies the E.J. Gumbel frequency distribution, Mononobe, and Rational methods to analyze rainfall and runoff. The study uses rainfall data from 2015–2024, topographic maps, land cover maps, and slope gradient maps.The results show rainfall intensities of 29.7 mm/hour for the catchment area outside the Mining Business License (IUP) and 27.7 mm/hour inside the IUP, with a design rainfall of 19.968 mm. The outside catchment covers 5.62 ha with a runoff discharge of 1,076 m³/hour, while the inside catchment covers 4.94 ha with a runoff discharge of 817 m³/hour. The proposed drainage system consists of seven ditch segments and a rectangular settling pond measuring 37.43 m × 24.95 m × 5 m, with a volume of 4,670 m³. The recommended dredging interval is 7.9 months.   Abstrak. Penambangan sirtu dengan metode tambang terbuka memiliki potensi terjadinya genangan dikarenakan air hujan dan air limpasan yang masuk ke area penambangan. Kondisi ini dapat mengganggu kegiatan penambangan. Oleh karena itu, diperlukan perancangan sistem penyaliran tambang yang secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan intensitas curah hujan, luas daerah tangkapan hujan, debit air limpasan, merancang paritan, dan kolam pengendapan. Metode penelitian yang digunakan yaitu analisis distribusi frekuensi E.J. Gumbel, metode Mononobe, metode Rasional, perancangan paritan dan kolam pengendapan. Data yang digunakan berupa data curah hujan periode 2015 – 2024, peta topografi, peta tutupan lahan, dan peta kemiringan lereng. Hasil penelitian menunjukan intensitas curah huan sebesar 29,7 mm/jam pada catchment area luar IUP dan 27,7 mm/jam pada catchment area dalam IUP dengan curah hujan rencana sebesar 19,968 mm. Luas catchment area luar IUP sebesar 5,62 ha dengan debit limpasan 1.076 m3/jam, sedangkan catchment area dalam IUP sebesar 4,94 ha dengan debit limpasan 817 m3/jam. Sistem penyaliran yang dirancang terdiri dari tujuh segmen paritan dan kolam pengendapan dengn bentuk persegi panjang dengan dimensi 37,43 m x 24,95 m x 5 m dengan volume 4.670 m3. Hasil analisis interval pengerukan setiap 7,9 bulan.  
Optimasi Waktu Change Shift Melalui HSCS di PT Bina Sarana Sukses Argya Hadzari; Yunus Ashari; Noor Fauzi Isniarno
Bandung Conference Series: Mining Engineering 195 - 202
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsme.v6i2.26312

Abstract

Abstract. PT Bina Sarana Sukses (BSS), a coal mining contractor partnering with PT Manoor Bulatn Lestari, set an overburden production target of 4,800,000 BCM in July 2025, increased from 4,200,000 BCM in June 2025. To achieve this target, the company operated a two-shift system with 17 effective working hours per day. However, the change shift process caused production delays because the shift exchange point in the manpower area was located far from the operational pit. This study aimed to reduce delay time and improve production by implementing a Hot Seat Change Shift (HSCS) system at a new change shift location. The change shift process included traveling from the mess to the Transfer of Shift (TOS) area, fingerprint attendance, a five-minute safety briefing (P5M), waiting for the assigned unit, conducting a pre-start inspection (P2H), and operating the unit after safety confirmation. Before HSCS implementation, the average distance from the manpower area to the East Front was 2.20 km, requiring approximately 8.5 minutes for shift change. After implementation, the distance decreased to 1.79 km, reducing the change shift duration to 4.4 minutes. Monthly production improved from a loss of 30,174.26 BCM before implementation to a gain of 17,391.77 BCM, demonstrating that HSCS effectively minimized delays and enhanced operational productivity.   Abstrak. PT Bina Sarana Sukses (BSS) merupakan kontraktor pertambangan batubara yang bekerja sama dengan PT Manoor Bulatn Lestari. Pada Juli 2025, perusahaan menetapkan target produksi overburden sebesar 4.800.000 BCM, meningkat dari 4.200.000 BCM pada Juni 2025. Untuk mencapai target tersebut, perusahaan menerapkan sistem kerja dua shift dengan waktu kerja efektif 17 jam per hari. Namun, aktivitas pergantian shift menjadi salah satu penyebab keterlambatan produksi karena lokasi pergantian operator di area manpower berjarak cukup jauh dari area pit. Penelitian ini bertujuan mengurangi waktu keterlambatan dan meningkatkan produktivitas melalui penerapan sistem Hot Seat Change Shift (HSCS) pada lokasi pergantian shift yang baru. Aktivitas pergantian shift meliputi perjalanan dari mess menuju area Transfer of Shift (TOS), absensi sidik jari, pelaksanaan P5M, menunggu unit, pemeriksaan awal kendaraan (P2H), dan pengoperasian unit setelah dinyatakan aman. Sebelum penerapan HSCS, rata-rata jarak dari area manpower ke East Front mencapai 2,20 km dengan waktu pergantian shift sekitar 8,5 menit. Setelah penerapan HSCS, jarak berkurang menjadi 1,79 km dan waktu pergantian shift menjadi sekitar 4,4 menit. Produksi bulanan meningkat dari kehilangan 30.174,26 BCM menjadi tambahan produksi sebesar 17.391,77 BCM, sehingga HSCS terbukti efektif mengurangi keterlambatan dan meningkatkan produktivitas operasi.