Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PERBEDAAN PELARUT TERHADAP PROSES EKSTRAKSI BATANG SEREH (Cymbopogon citratus) Miftahurrahmah Miftahurrahmah; Enny Nurmalasari; Reski Lediyo Putra; Ihsan Maulana; Aula Chairunnisak
SAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi Industri Vol. 20 No. 1 (2023)
Publisher : Politeknik ATI Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52759/sainti.v20i1.202

Abstract

Manfaat minyak atsiri yang sangat banyak akan meningkatkan permintaan dalam jumlah yang banyak, sehingga untuk mendapatkan hasil yang optimal peneliti terus melakukan penelitian di bidang ini. Beberapa metode proses yang dapat digunakan untuk memperoleh minyak atsiri. Beberapa metode digunakan peneliti untuk mengetahui perolehan produk terbaik. Telah digunakan metode maserasi, dengan variasi beberapa pelarut sebagai pembanding, yang mana filtrat hasil maserasi selanjutnya distilasi untuk memperoleh minyak atsiri yang murni untuk mencari cara produksi minyak atsiri yang efisien dan menentukan pelarut terbaik untuk proses produksinya. Pelarut yang digunakan yaitu; Metanol, Etanol, n-Hexana dan juga Air. Tahapan metode maserasi, sampel sereh disiapkan 150 g dengan ukuran 1 cm, direndam oleh pelarut sebanyak 1 L dalam wadah tertutup selama 24 jam. Selanjutnya filtrat tersebut didistilasi untuk mendapatkan produk yang murni, kemudian dikarakterisasi menggunakan GC-MS. Hasil penelitian membuktikan bahwa minyak lebih banyak diekstrak oleh pelarut etanol dibandingkan pelarut yang lain, yaitu mencapai 23,31 g dan hasil uji GC-MS menunjukkan bahwa minyak sereh mengandung 25,75 % Geraniol. Sehingga disimpulkan Geraniol lebih larut dalam pelarut Etanol karena kepolaran senyawa -senyawa di dalam minyak sereh lebih dekat dengan kepolaran Etanol, sehingga jumlah rendemen yang dihasilkan lebih besar dibandingkan dengan ektraksi menggunakan selain Etanol.
PERBANDINGAN RENDEMEN EKSTRAKSI KECOMBRANG (Etlingera elatior) MENGGUNAKAN METODE MASERASI DAN SOKLETASI Enny Nurmalasari; Miftahurrahmah; Resi Nurillahi; Luthfi Nazwa Andya Cahyani
SAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi Industri Vol. 20 No. 2 (2023)
Publisher : Politeknik ATI Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecombrang (Etlingera elatior) mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antibakteri. Produksi ekstrak kecombrang di Indonesia masih terbatas. Namun permintaan pasar terus meningkat karena kini industri farmasi mulai menggunakan ekstrak kecombrang tersebut. Selain itu pemanfaatan kecombrang yang terus meningkat akan meningkatkan perekonomian petani kecombrang. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efisiensi metode ekstraksi maserasi dan sokletasi dalam memperoleh senyawa bioaktif dari kecombrang dengan variasi pelarut etanol, metanol dan n-heksana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada metode maserasi, pelarut etanol menghasilkan rendemen tertinggi yaitu 15%, metanol 7% dan n-heksana 3%. Pada metode sokletasi, pelarut etanol dan metanol menghasilkan rendemen masing-masing 15% dan 13%, lebih tinggi daripada n-heksana, hanya 1%. Secara keseluruhan, metode sokletasi dengan pelarut etanol merupakan kondisi terbaik untuk ekstraksi kecombrang. Karakterisasi GC-MS menunjukkan adanya senyawa bioaktif seperti 2-Chloropropionic acid, Boric acid trimethyl ester, Silane dimethoxymethyl dan Octadecanoic acid methyl ester yang berkontribusi pada aktivitas antibakteri pada minyak atsiri kecombrang.