Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF, BERAT BADAN BAYI LAHIR DAN ASUPAN PROTEIN TERHADAP KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTO BARU Liani Setyarsih; Mery Merlisia; Yesi Mustika Sari; Tora Margareta
Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 4 (2026): Volume 4, Nomor 4, Tahun 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jiik.v4i4.62703

Abstract

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis multifaktorial pada anak yang berdampak panjang pada perkembangan kognitif dan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pemberian ASI eksklusif, berat badan bayi lahir (BBL), dan asupan protein dengan kejadian stunting pada balita usia 24–59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Koto Baru, Kota Sungai Penuh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional yang melibatkan 73 pasang ibu dan balita yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling dari populasi 276 ibu. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kuesioner, peninjauan catatan BBL pada buku KIA/KMS, wawancara Food Frequency Questionnaire (FFQ), serta pengukuran antropometri. Analisis data mencakup analisis univariat dan bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting pada sampel penelitian tercatat sebesar 45,2% (33 balita). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara berat badan lahir dengan kejadian stunting (p = 0,035), di mana balita dengan riwayat BBLR mengalami proporsi stunting lebih tinggi (66,7%) dibandingkan balita BBL normal (38,2%). Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif (p = 0,897) maupun asupan protein (p = 0,105) dengan kejadian stunting. Kejadian stunting pada lokasi penelitian lebih kuat berhubungan dengan hambatan pertumbuhan intrauterin yang tecermin dari riwayat BBLR dibandingkan faktor pascanatal tunggal. Disimpulkan bahwa BBL merupakan determinan utama stunting pada populasi ini, sehingga upaya pencegahan memerlukan intervensi komprehensif yang berfokus sejak masa kehamilan.