Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Tindak Tutur Imperatif Dialog Interaktif Program Mata Najwa Episode “Melawan Corona” Nursalim, Misbah Priagung; Khoiriyah, Siti
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 4, No 1 (2022): JANUARI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v4i1.3172

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tindak tutur imperatif dan menganalisis maknanya yang mengedepankan penggunaan bahasa dalam komunikasi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik simak. Data dalam penelitian ini berupa tuturan tokoh pada dialog interaktif Program Mata Najwa edisi “Melawan Corona”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk dan fungsi tindak tutur meliputi: (1) bentuk dan fungsi tuturan imperatif sebagai larangan, (2) bentuk dan fungsi tuturan imperatif sebagai permohonan, (3) bentuk dan fungsi tuturan sebagai perintah, (4) bentuk dan fungsi tuturan imperatif sebagai pemberian izin, (5) bentuk dan fungsi tuturan  imperatif sebagai ajakan, (6) bentuk dan fungsi tuturan imperatif sebagai permintaan, (7) bentuk dan fungsi tuturan imperatif sebagai anjuran. Adapun ciri tindak tutur meliputi : (1) umumnya kalimat menggunakan intonasi yang rendah pada suatu akhir kalimat, (2) pada kalimat ini bentuk penegasan, kalimat halus, sebuah ajakan, harapan, permintaan dan juga suatu larangan terhadap suatu hal, (3)susunan kalimatnya tidak efektif karena pada kalimat ini suatu subjek atau pun predikatnya tidak pasti, (4) tidak selalu terungkap suatu tokoh atau pelaku terhadap apa yang diperintah, (5) kalimat diakhiri menggunakan tanda baca, seperti : tanda seru (!) atau tanda tanya (?) dibagian akhir kalimatnya.
Uncovering the Formula of Classical Javanese Literary Works: Structural Analysis of Power, Religion, and Subaltern Resistance Nursalim, Misbah Priagung
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 20 No. 2 (2025): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v20i2.7194

Abstract

Classical Javanese literature is traditionally defined by its profound synonymy with religious authority and the royal court (power), a duality long observed but structurally underexplained. This research utilizes a qualitative descriptive method, synthesizing existing studies of canonical texts—including Negarakertagama, Pararaton, Arjuna Wiwaha, and Sutasoma—to reveal the tripartite sociological formula determining literary inception. The analysis establishes that classical literature was overwhelmingly produced by eloquent individuals monopolizing broad knowledge, typically religious leaders, kings, and royal scribes. This structural control resulted from three interlocking factors: 1) Caste, wherein literacy and intellectual production were restricted primarily to Brahmins and Kshatriyas; 2) Knowledge, disseminated through the elite Kadewaguruan education system, which prioritized religious ethics before statecraft, functioning as an ideological apparatus to generate loyal state officials and authorized literary works; and 3) Culture, which utilized mythical elements (Smita) to glorify kings as divine incarnations, thereby legitimizing political narratives. The overarching function of this literature was to perpetuate power and spread sanctioned religious doctrine. While groups outside the palace provided resistance, notably through accessible oral literature and written counter-narratives like Serat Gatoloco, this opposition often failed to fundamentally displace the dominant hegemony. Drawing on Gayatri Spivak’s postcolonial perspective, the findings demonstrate that while resistance existed, the systemic control over authorship, knowledge, and dissemination ensured the literary output remained fundamentally focused on centralized religious and political control. This research clarifies that the enduring characteristics of Javanese classical texts are directly rooted in the political and educational policies of the past.
GAMBARAN MASYARAKAT RUSIA ABAD XIX DALAM CERPEN MUNAFIK KARYA ANTON CHEKOV VERSI KOESALAH SUBAGYO TOER MELALUI JALUR LOGIKA PIERCE Nursalim, Misbah Priagung
Jurnal Sasindo UNPAM Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Sasindo UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v4i1.%p

Abstract

AbstrakDiskursus semiotika selalu menjadi pembahasan menarik untuk diteliti selama perkembangan hidup umat manusia. Terutama dalam menggali jati diri sebuah karya yang menggambarkan realitas masyarakat sosial. Dalam hal ini, penulis meneliti cerpen-cerpen karya Anton Chekhov yang menjadi refleksi masyarakat Rusia pada masa runtuhnya Dinasti Romanov. Penelitian ini bertujuan untuk (1)mendeskripsikan bentuk kombinasi sembilan tipe penanda dalam cerpen Munafik karya Anton Chekhov; (2)menjelaskan makna dari kesembilan tipe penanda terkait penggambaran masyarakat Rusia Abad XIX dalam cerpen Munafik karya Anton Chekhov. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penulis menggunakan 6 data yang diperoleh dari enam cerpen dalam cerpenMunafik karya Anton Chekhov. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik simak-catat. Berdasarkan analisis data, ditemukan bahwa (1) terdapat kombinasi penuh sembilan model penanda dalam struktur teks keenam cerpen karya Anton Chekhov; (2) pemaknaan terkait model kombinasi penanda mengarah pada cerminan masyarakat Rusia Abad XIX yang mengalami kebobrokan moral. Hal ini relevan dengan tema yang diangkat oleh Anton Chekhov sendiri.Kata kunci : Budaya, Logika, Tanda
PRONOMINA DALAM WACANA SURAT KABAR KOMPAS Sugiyo, Sugiyo; Nursalim, Misbah Priagung
Jurnal Sasindo UNPAM Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Sasindo UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v4i1.%p

Abstract

AbstrakWacana merupakan satuan bahasa terlengkap yang dibentuk oleh paragraf. Dalam penyusunan wacana, pronomina sering digunakan khususnya oleh wartawan dalam penulisan di surat kabar. Penelitian ini secara khusus mengkaji pemakaian pronomina dalam wacana surat kabar Kompas. Tujuan utama dari penelitian ini yaitu (1) mendeskripsikan fungsi pronomina dalam wacana surat kabar Kompas, (2) mendeskripsikan peran pronomina dalam wacana surat kabar Kompas, dan (3) mendeskripsikan makna pronomina dalam wacana surat kabar Kompas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitiatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak. Data penelitian berupa wacana pada koran Kompas edisi April 2016 hingga Juli 2016 yang diambil secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) fungsi pronomina yaitu untuk menerangkan subjek utama, mengingatkan pembaca pada latar belakang subjek, dan memberi tahu pembaca mengenai objek; (2) peran pronomina yaitu sebagai pengganti subjek, sebagai pengganti objek, dan sebagai pengganti pelengkap; (3) pada analisis makna, pronomina bersinonim dengan nomina yang diwakilinya, fungsi utama pronomina yaitu untuk menggantikan nomina sehingga pronomina selalu bersinonim dengan nomina yang diwakilinya.Kata Kunci : Pronomina, Wacana, dan Surat Kabar Kompas
TRANSFORMASI NOVEL KE FILM THE PERFECT HUSBAND KARYA INDAH RIYANA Mursih, Mursih; Nursalim, Misbah Priagung
Jurnal Sasindo UNPAM Vol. 7 No. 2 (2019): Jurnal Sasindo UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v7i2.87-101

Abstract

Abstrak Ekranisasi berasal dari bahasa perancis, ecran yang berarti layar. Jadi istilah itu mengacu pada alih wahana dari suatu karya sastra ke film. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses ekranisasi pada novel The Perfect Husband karya Indah Riyana dan film The Perfect Husband sutradara Rudi Aryanto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yang berpedoman pada pendapat Moleong. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Sapardi Djoko Damono. Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa proses ekranisasi yang terjadi dari novel ke film The Perfect Husband yaitu: 1) Penciutan atau pengurangan alur cerita dari novel ke film The Perfect Husband sehingga munculnya perbedaan alur cerita baik dari segi latar dan tokoh dalam cerita. 2) Penambahan dari novel ke film The Perfect Husband.  3) Perubahan Variasi pada Alur, latar, dan tokoh dari novel ke film The Perfect Husband. Kata Kunci : Ekranisasi, Novel, Film.