Darlane Litaay
CUNY Brooklyn College

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Fenomena Mabuk Akibat Miras Di Abepura Elsiana Kailey; Muhammad Ilham Mustain Murda; Darlane Litaay; Lucia Lusi Ani Handayani
Pacific Performing Arts Review Vol. 1 No. 2 (2025):
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan merepresentasikan fenomena mabuk akibat konsumsi minuman keras (miras) melalui proses penciptaan karya seni tari kontemporer. Tujuan utama dari karya ini adalah menyampaikan pesan sosial dan edukatif mengenai bahaya miras terhadap kesehatan fisik, kondisi psikologis, dan hubungan sosial masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan narasumber utama, yaitu Dominggus Langer, seorang peminum miras yang mengalami dampak langsung dalam kehidupan pribadi dan sosialnya. Data tersebut diolah melalui proses reflektif dan kreatif dalam penciptaan tari, yang mencakup tahap eksplorasi, improvisasi, simbolisasi, dan koreografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya tari mampu menyampaikan narasi emosional dan simbolik yang efektif dalam menggambarkan transisi kondisi seseorang dari sadar ke mabuk, serta dampaknya terhadap interaksi sosial. Gerakan-gerakan yang tidak stabil, ekspresi wajah, serta penggunaan simbol gerak berhasil mewakili kehilangan kontrol diri, konflik sosial, dan kerusakan relasi dalam masyarakat akibat alkohol. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa seni tari kontemporer dapat menjadi media komunikasi yang kuat untuk mengangkat isu sosial, khususnya penyalahgunaan alkohol, melalui pendekatan yang estetis, empatik, dan edukatif. Karya ini diharapkan mampu menggugah kesadaran masyarakat dan mendorong perubahan perilaku sosial yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
FI Brillian Gilbert Ayhuan; Darlane Litaay; Muhammad Ilham Murda
Pacific Performing Arts Review Vol. 1 No. 2 (2025):
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang penelitian ini berangkat dari keberadaan tradisi Bajo, yaitu kebiasaan melepas lelah masyarakat Skouw di Kota Jayapura setelah melakukan aktivitas berburu. Tradisi tersebut menggunakan lumpur sebagai medium utama dan mengandung nilai-nilai simbolik tentang relasi manusia dengan alam serta kesetaraan antarmanusia. Penelitian-penciptaan ini bertujuan untuk mentransformasikan tradisi Bajo ke dalam karya tari kontemporer berjudul Fi dengan tetap mempertahankan nilai filosofis dan kearifan lokalnya, sekaligus mengisi celah kajian penciptaan tari berbasis praktik budaya non-ritual masyarakat adat Papua. Metode yang digunakan adalah penelitian berbasis praktik (practice-based research) melalui tahapan eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan koreografi. Hasil penciptaan menunjukkan bahwa tradisi Bajo dapat diolah menjadi karya tari kontemporer dengan mode penyajian simbolik, menggunakan lumpur (Fi) dan tas tradisional bae sebagai elemen utama koreografi. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa karya tari Fi berkontribusi pada pengembangan wacana tari kontemporer berbasis tradisi lokal serta menjadi medium pelestarian budaya masyarakat Skouw di Papua.
Transformasi Khombow dalam Bahasa Gerak: Penciptaan Tari Kreasi Baru Berbasis Budaya Sentani Irfan Mewal; Muh. Ilham Mustain Murda; Darlane Litaay
Pacific Performing Arts Review Vol. 1 No. 1 (2025)
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examined the creative process of the dance work "Khombow Bee," which transformed the cultural values of Khombow—Sentani bark cloth—into choreographic expression. Khombow was understood not merely as a craft material but as a representation of the relationship between humans and nature, embodying values of togetherness, communication, and environmental preservation in Sentani society. Through qualitative methods involving interviews, literature study, and audiovisual observation, this research explored how traditional Sentani movements were developed through contemporary approaches, particularly hip-hop/breaking techniques, to create a new dance creation that remained rooted in local values. The creative process followed Alma M. Hawkins' stages: exploration, improvisation, and forming. The resulting work was a group choreography performed by four male dancers, integrating movement, sound, and bark cloth properties as symbolic elements. The dance not only presented aesthetic aspects but also functioned as critical reflection on the declining availability of Khombow trees due to exploitation without conservation efforts. This study demonstrated that dance could serve as an effective medium for cultural preservation and environmental awareness, while enriching the discourse on contemporary dance development in Papua that dialogued between tradition and modernity.
Akulturasi Musik dan Identitas Komunal dalam Ansambel Bambu Kamen Berok di Biak Numfor Markus Rumbino; Lucia Lusi Ani Handayani; Darlane Litaay; Feby Marina Inggamer
Pacific Performing Arts Review Vol. 2 No. 1 (2026):
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kamen Berok is a bamboo music ensemble that thrives in the coastal regions of Papua, particularly in Biak Numfor. Rooted in traditional bamboo playing, it has evolved through prolonged encounters with church music and modern education, forming an acculturative hybrid between Western tonal systems and local Papuan rhythmic aesthetics. This study employed an applied ethnomusicology framework to understand the role of music as social action that impacts identity, knowledge transmission, and community strengthening. The methods used were music ethnography with participant observation, in-depth interviews, and audio-visual documentation in Biak Numfor. Analysis was conducted thematically and participatorily by involving community leaders, trainers, and young players as co-researchers. The results affirmed the function of Kamen Berok as a space for identity negotiation, a medium for cultural education, and a platform for ecological and cultural policy advocacy.