Studi ini dimotivasi oleh masalah epistemologis induktivisme dalam perkembangan ilmiah kontemporer dan kecenderungan yang meningkat untuk menggunakan "kesesuaian logis" atau penalaran justifikasi dalam menghubungkan sains dengan Islam. Pendekatan seperti itu seringkali mengarah pada penyederhanaan yang berlebihan, di mana teori-teori ilmiah yang pada dasarnya bersifat sementara diperlakukan sebagai kebenaran absolut hanya untuk menyelaraskannya dengan teks-teks suci. Akibatnya, objektivitas ilmiah dan otoritas agama berisiko terkikis. Sebagai tanggapan terhadap masalah ini, penelitian ini berupaya untuk mengeksplorasi konsep rasionalisme kritis Karl Popper, khususnya prinsip falsifikasi, sebagai kerangka metodologis alternatif untuk mengatasi tantangan epistemologis ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian pustaka kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Analisis didasarkan pada karya-karya utama Popper bersama dengan literatur ilmiah interdisipliner yang relevan mengenai sains, filsafat, dan agama. Temuan menunjukkan bahwa prinsip falsifikasi menetapkan perbedaan yang tegas antara teori-teori ilmiah, yang tetap tentatif dan terbuka untuk revisi, dan doktrin-doktrin agama, yang termasuk dalam ranah absolut metafisika. Dengan menerapkan logika coba-coba, hubungan antara sains dan agama dapat berkembang secara lebih kritis, terbuka, dan objektif tanpa mengurangi kesakralan wahyu. Lebih lanjut, studi ini menyoroti pentingnya merekonstruksi integrasi pengetahuan melalui keterbukaan intelektual, refleksi kritis, dan evaluasi berkelanjutan. Pendekatan seperti itu dianggap penting untuk mendorong budaya akademik yang inovatif dengan fondasi epistemologis yang kuat, khususnya di Lembaga Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTKI). Kata Kunci: Falsifikasi, Integrasi Ilmu, Karl Popper, Rasionalisme Kritis, Penalaran Justifikasi.