Ahmad Mulyadiprana
Indonesia University of Education

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Studi Literatur: Analisis Faktor-Faktor Pembentuk Kesejahteraan Subjektif Pada Peserta Didik Sekolah Dasar Nia Elinda; Ahmad Mulyadiprana; Rifqy Muhammad Hamzah
Jurnal Pengajaran Sekolah Dasar Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Pengajaran Sekolah Dasar
Publisher : EDUPEDIA PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jpsd.v5i2.2162

Abstract

Kesejahteraan subjektif (subjective well-being) peserta didik di sekolah dasar sering kali terabaikan dalam praktik pembelajaran, padahal aspek ini sangat krusial dalam mendukung pencapaian prestasi akademik dan kebahagiaan anak di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor pembentuk kesejahteraan subjektif peserta didik sekolah dasar sekaligus merumuskan strategi untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif. Metode penelitian yang digunakan adalah Literatur Review atau studi kepustakaan (library research). Penelusuran literatur difokuskan pada artikel jurnal dan dokumen ilmiah yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir menggunakan basis data Google Scholar, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dan sintesis naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif anak dibentuk oleh interaksi kuat antara faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi konsep diri, kapasitas emosional, dan spiritualitas. Sementara itu, faktor eksternal sangat didorong oleh kehangatan pengasuhan keluarga, dukungan emosional dari guru, serta iklim sekolah yang bebas dari perundungan (zero-bullying). Kesimpulannya, praktik pengajaran di sekolah dasar harus menerapkan pendekatan whole-child yang tidak hanya berorientasi pada target akademik, tetapi juga mengintegrasikan Pembelajaran Sosial-Emosional (SEL) dan peningkatan kompetensi relasional pendidik. Upaya komprehensif ini esensial untuk memastikan agar peserta didik dapat mencapai kondisi mental yang positif dan merasa bahagia selama menjalani proses pendidikannya.
Internalisasi Nilai Sopan Santun Melalui Pembiasaan Magic Words di Sekolah Dasar: Kajian Literatur Ainun Nurul Fatonah Rusdiana; Ahmad Mulyadiprana; Rifqy Muhammad Hamzah
Jurnal Pengajaran Sekolah Dasar Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Pengajaran Sekolah Dasar
Publisher : EDUPEDIA PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jpsd.v5i2.2203

Abstract

Nilai sopan santun merupakan fondasi karakter bangsa yang kini mengalami degradasi signifikan di kalangan siswa sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif konsep Magic Words yang mencakup empat ungkapan kunci: "maaf", "tolong", "terima kasih", dan "permisi" sebagai instrumen efektif dalam menginternalisasi nilai sopan santun pada siswa kelas rendah sekolah dasar melalui pendekatan kajian literatur sistematis. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menganalisis 22 sumber relevan yang diterbitkan antara tahun 2018 hingga 2026, mencakup jurnal nasional dan internasional bereputasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembiasaan Magic Words secara konsisten terbukti mampu membentuk karakter sopan santun anak melalui tiga mekanisme utama: penguatan pemahaman moral (moral knowing), pembentukan perasaan moral (moral feeling), dan pengembangan tindakan moral (moral action). Temuan literatur juga mengungkapkan bahwa efektivitas internalisasi Magic Words meningkat secara signifikan ketika dipadukan dengan media visual-interaktif, keteladanan guru, dan dukungan lingkungan keluarga yang konsisten. Kajian ini menyimpulkan bahwa pembiasaan Magic Words bukan sekadar ritual verbal, melainkan strategi pedagogis yang terukur dan bermakna dalam membentuk pribadi anak yang sopan, empatik, dan berkarakter mulia. Artikel ini merekomendasikan integrasi Magic Words dalam program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di sekolah dasar secara sistematis dan berkesinambungan.