p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Sains Medisina
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Determinan Faktor Kejadian Anemia Pada Remaja Putri Yasmin Khairina; Sajiman Sajiman; Niken Pratiwi
Sains Medisina Vol 4 No 6 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i6.1486

Abstract

Anemia defisiensi besi merupakan masalah gizi yang ditandai dengan kadar hemoglobin rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan frekuensi konsumsi sumber inhibitor dan enhancer, pola menstruasi, serta riwayat penyakit infeksi dengan kejadian anemia pada remaja putri di MA Miftahul Khairiyah. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 42 remaja putri yang dipilih menggunakan teknik Simple Random Sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan Food Frequency (FFQ) serta pemeriksaan kadar hemoglobin menggunakan alat Easy Touch GCHB, kemudian dianalisis menggunakan uji Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69% remaja putri mengalami anemia. Responden sering mengonsumsi sumber inhibitor sebanyak 66,7% dan enhancer sebanyak 61,9%, memiliki pola menstruasi tidak baik sebanyak 78,6%, serta memiliki riwayat penyakit infeksi sebanyak 61,9%. Analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan antara frekuensi konsumsi sumber inhibitor (p=0,000), enhancer (p=0,043), pola menstruasi (p=0,008), dan riwayat penyakit infeksi (p=0,037) dengan kejadian anemia. Berdasarkan hasil penelitian, sekolah diharapkan meningkatkan upaya pencegahan anemia, sedangkan remaja putri disarankan menjaga pola makan dan kesehatan. Penelitian selanjutnya diharapkan mengkaji faktor lain yang memengaruhi kejadian anemia seperti persepsi terhadap citra tubuh (body image), pengaruh teman sebaya dalam pemilihan makanan, serta tingkat pengetahuan gizi yang dapat mempengaruhi pola konsumsi dan status kesehatan remaja.
Hubungan Pengetahuan Gizi, Paparan Iklan Media Sosial, Dan Frekuensi Konsumsi Junk Food Terhadap Kejadian Gizi Lebih Pada Remaja Noor Latifah; Ermina Syainah; Sajiman Sajiman
Sains Medisina Vol 4 No 6 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i6.1578

Abstract

Masa remaja merupakan periode yang rentan terhadap konsumsi junk food yang tinggi kalori namun rendah zat gizi, sehingga dapat meningkatkan risiko gizi lebih dan obesitas. Pengetahuan gizi berperan penting dalam memengaruhi perilaku pemilihan makanan pada remaja. Selain itu, tingginya penggunaan media sosial juga meningkatkan paparan iklan makanan cepat saji yang dapat memengaruhi pola konsumsi remaja. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan gizi, paparan iklan media sosial, dan frekuensi konsumsi junk food dengan kejadian gizi lebih pada remaja di SMA Negeri 3 Banjarbaru. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional pada 88 responden yang dipilih secara simple random sampling. Data dianalisis menggunakan uji Rank Spearman (α = 0,05). Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner pengetahuan gizi, kuesioner paparan iklan media sosial, dan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk mengukur frekuensi konsumsi junk food. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 47,7% responden mengalami gizi lebih, 48,9% memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori cukup, 48,9% terpapar iklan media sosial dalam kategori tinggi, serta 53,4% memiliki frekuensi konsumsi junk food kategori jarang. Analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan antara pengetahuan gizi (p=0,018, r=-0,252) dan paparan iklan media sosial (p=0,045, r=0,214) dengan kejadian gizi lebih. Sementara itu, frekuensi konsumsi junk food tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,059, r=0,202). Berdasarkan hasil penelitian, responden diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan gizi dan lebih bijak membatasi pengaruh iklan makanan di media sosial.