Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pengaruh Proporsi Tepung Kacang Kedelai (Glycine Max L. Merr) dan Tepung Beras (Oryza Sativa) terhadap Nilai Kalori, Kadar Protein dan Mutu Organoleptik Biskuit Ermina Syainah; Fitria Rahmaningsih
Jurnal Kesehatan Indonesia Vol 12 No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : HB PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33657/jurkessia.v12i2.694

Abstract

Autism is a complex developmental disorder involving communication, social interaction and imaginary. The risk factors that can increase the progressiveness of this disorder are gluten and casein. The alternative solution is making gluten-free and casein-free (CFCF) biscuit using soybean and rice flour. This study aimed to know the effect of soybean and rice flour proportion to calorie, protein contents, and organoleptic characteristics of biscuit. This pre-experimental study used a completely randomized design to against 3 times to treatments and replications. It used one group treated with P0 = 100% wheat flour and oat as control; and others P1 = 60%: 40%, P2 = 70%: 30% and P3 = 80%: 20% with the ratio of soybean flour and rice flour. The average of protein content biscuit on the treatment of P0 (control), P1, P2, and P3 were 9,15%, 15,94%, 18,74%, and 19,45%, respectively. The average of calorie biscuit on the treatment groups were 4382,82 cal /g, 3914,45 cal /g, 3996,13 cal/g, and 4484,33 cal /g, respectively. The higher the proportion of soybean flour, the higher the calorie content in biscuits. The protein and calorie in the best treatment were 448,43 kcal to control 438,28 kcal and 19,45% to control 9,15%, respectively. The most preferred organoleptic was P3. The soybean flour and rice flour proportion did not influence the biscuit’s color and flavor, but it affected the odor and texture. There was difference between calorie and protein contents, and organoleptic quality in the best treatment biscuit to control.
Pengaruh Proporsi Tepung Kacang Kedelai (Glycine Max L. Merr) dan Tepung Beras (Oryza Sativa) terhadap Nilai Kalori, Kadar Protein dan Mutu Organoleptik Biskuit Ermina Syainah; Fitria Rahmaningsih
Jurnal Kesehatan Indonesia Vol 12 No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : HB PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Autism is a complex developmental disorder involving communication, social interaction and imaginary. The risk factors that can increase the progressiveness of this disorder are gluten and casein. The alternative solution is making gluten-free and casein-free (CFCF) biscuit using soybean and rice flour. This study aimed to know the effect of soybean and rice flour proportion to calorie, protein contents, and organoleptic characteristics of biscuit. This pre-experimental study used a completely randomized design to against 3 times to treatments and replications. It used one group treated with P0 = 100% wheat flour and oat as control; and others P1 = 60%: 40%, P2 = 70%: 30% and P3 = 80%: 20% with the ratio of soybean flour and rice flour. The average of protein content biscuit on the treatment of P0 (control), P1, P2, and P3 were 9,15%, 15,94%, 18,74%, and 19,45%, respectively. The average of calorie biscuit on the treatment groups were 4382,82 cal /g, 3914,45 cal /g, 3996,13 cal/g, and 4484,33 cal /g, respectively. The higher the proportion of soybean flour, the higher the calorie content in biscuits. The protein and calorie in the best treatment were 448,43 kcal to control 438,28 kcal and 19,45% to control 9,15%, respectively. The most preferred organoleptic was P3. The soybean flour and rice flour proportion did not influence the biscuit’s color and flavor, but it affected the odor and texture. There was difference between calorie and protein contents, and organoleptic quality in the best treatment biscuit to control.
Pengaruh Substitusi Tepung Talas Kimpul (Xanthosoma sagittifolium) Terhadap Fisikokimia dan Analisis Sensori Brownies Kukus sebagai Alternatif Makanan Selingan Penderita Diabetes Mellitus Nany Suryani; Putri Nur Azizah; Norhasanah Norhasanah; Ermina Syainah; Rijanti Abdurrachim; Desya Medinasari Fathullah
Jurnal Kesehatan Indonesia Vol 16 No 1 (2025): November 2025
Publisher : HB PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33657/jurkessia.v16i1.1119

Abstract

Cocoyam (Xanthosoma sagittifolium) is a tuber that can provide complex carbohydrates. This study aimed to look at the physicochemical (carbohydrate, protein, fat, crude fiber, ash content, and water content) and sensory analysis of cocoyam steamed brownies as an alternative snack for people with diabetes. This study used an completely randomized design (CRD) with four treatments and three replications using wheat flour and cocoyam flour formulations P0 (100%:0%), P1 (60%:40%), P2 (40%:60%), and P3 (0%:100%). Sensory characteristics were determined using 35 consumer panellists and physicochemical values were determined using proximate. The results of this study show that the highest water content was 2,65%, ash content 23,97 grams in treatment P3, and the highest protein content was 19,64 grams, fat content 17,89 grams, and carbohydrate 19,64 grams in treatment P1. The results of statistical analysis showed that cocoyam flour substitution effect on carbohydrate content (p<0.001), ash content (p=0.008), and water content (p<0.001), but no effect on protein content (p=0.791), fat content (p=0,288), or crude fiber content (p=0,366). The results of sensory analysis showed that P1 was the best treatment with panelists preference level values for color 3,17; aroma 3,0; taste 3,43; texture 2,60 and the results of statistical analysis showed that there was an effect of cocoyam flour substitution on sensory characteristics of steamed brownies, such as colour (p<0.001), aroma (p=0.012), texture (p<0.001), and taste (p<0.001). Cocoyam steamed brownies have a low carbohydrate content of 19.64 g and a high crude fiber content of 21.41 g, the first treatment, brownies (P1), can be used as an alternative snack for people with diabetes.
Pengaruh Intervensi Diet Rendah Garam Dan Jus Mentimun Terhadap Tekanan Darah Lansia Di UPT Puskesmas Pulau Kupang Heppi Oktavia; Ermina Syainah; Nurhamidi; Sajiman
Sains Medisina Vol 4 No 3 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i3.920

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama pada populasi lansia yang memerlukan pendekatan pengelolaan komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh intervensi diet rendah garam dan pemberian jus mentimun terhadap perubahan tekanan darah lansia penderita hipertensi. Metode penelitian menggunakan desain pra-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest yang melibatkan 14 responden lansia berusia 60 tahun ke atas di wilayah kerja UPT Puskesmas Pulau Kupang. Responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerima jus mentimun 200 ml dua kali sehari dan kelompok yang menjalani diet rendah garam dengan asupan natrium maksimal 2.000 mg per hari, kedua intervensi dilakukan selama tujuh hari berturut-turut. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan tensimeter digital. Analisis data menggunakan uji paired sample t-test dan independent sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan penurunan bermakna pada kedua kelompok intervensi dengan nilai p kurang dari 0,001. Kelompok jus mentimun mengalami penurunan rerata tekanan darah dari 179,57 mmHg menjadi 159,29 mmHg, sedangkan kelompok diet rendah garam turun dari 188,00 mmHg menjadi 145,00 mmHg. Perbandingan antarkelompok menunjukkan diet rendah garam lebih efektif menurunkan tekanan darah dibandingkan jus mentimun dengan nilai p sebesar 0,001. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diet rendah garam dan jus mentimun terbukti efektif sebagai intervensi nonfarmakologis dalam menurunkan tekanan darah lansia, dengan diet rendah garam menunjukkan efektivitas lebih optimal.
Hubungan Pengetahuan Gizi Dan Pola Konsumsi Sayuran Dengan Kejadian Anemia Remaja Putri Kelas 7 Dan Kelas 10 Di Puskesmas Tabukan Jumiati; Sajiman; Niken Pratiwi; Ermina Syainah
Sains Medisina Vol 4 No 3 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i3.926

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan pada remaja putri. Data UPTD Puskesmas Tabukan Tahun 2025 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri kelas 7 dan kelas 10 mencapai 55,17%, sehingga diperlukan kajian terhadap faktor penyebabnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan gizi dan pola konsumsi sayuran dengan kejadian anemia pada remaja putri di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tabukan. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 144 remaja putri, dan sebanyak 116 sampel dipilih melalui simple random sampling. Data pengetahuan gizi dikumpulkan menggunakan kuesioner, pola konsumsi sayuran menggunakan SQ-FFQ, serta kadar hemoglobin diukur dengan Hb meter. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 13–15 tahun (55,2%), memiliki pengetahuan gizi kategori kurang (42,2%), dan pola konsumsi sayuran yang juga kurang (59,5%). Prevalensi anemia cukup tinggi, yaitu 55,2%. Analisis bivariat dengan uji Chi-Square (p<0,05) menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan gizi dengan kejadian anemia (p=0,001), serta hubungan signifikan antara pola konsumsi sayuran dengan kejadian anemia (p=0,003). Diperlukan edukasi gizi dan promosi konsumsi sayuran secara berkelanjutan untuk menurunkan prevalensi anemia pada remaja putri.
Hubungan MPASI dan Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Balita Wasting Usia 6-23 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura Timur Amelia Rahmah; Aprianti; Mahpolah; Ermina Syainah
Sains Medisina Vol 4 No 3 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i3.938

Abstract

Wasting merupakan salah satu bentuk malnutrisi akut pada balita yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama pada usia 6–23 bulan. Praktik pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak sesuai serta ketidaklengkapan imunisasi dasar diduga berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya wasting pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan praktik pemberian MP-ASI dan kelengkapan imunisasi dasar dengan kejadian wasting pada balita usia 6–23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Martapura Timur. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 6–23 bulan di wilayah kerja Puskesmas Martapura Timur. Sampel sebanyak 78 balita terdiri dari 39 balita wasting (kasus) dan 39 balita dengan status gizi normal (kontrol) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara menggunakan kuesioner terkait praktik MP-ASI, serta penelusuran buku KIA dan rekam medis untuk status imunisasi dasar. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita wasting menerima MP-ASI yang tidak sesuai (79,5%) dan memiliki status imunisasi dasar tidak lengkap (71,8%). Terdapat hubungan yang signifikan antara praktik pemberian MP-ASI dan kejadian wasting (p = 0,001; OR = 2,1), serta antara kelengkapan imunisasi dasar dan kejadian wasting (p = 0,001; OR = 1,9). Praktik pemberian MP-ASI yang tidak sesuai dan ketidaklengkapan imunisasi dasar berhubungan signifikan dengan kejadian wasting pada balita usia 6–23 bulan.
Pengaruh Formulasi Daun Kelor Terhadap Organoleptik Dan Mutu Kimia Permen Gummy Sari Kacang Nagara, Alternatif Kudapan Pencegah Tengkes Tiara Salsabiila Alfiani; Meilla Dwi Andrestian; Ermina Syainah
Sains Medisina Vol 4 No 6 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i6.1576

Abstract

Tengkes pada balita menjadi masalah kesehatan di Indonesia dengan prevalensi tinggi. Protein dan kalsium merupakan zat gizi yang berperan dalam mendukung pertumbuhan serta pemeliharaan jaringan tubuh balita. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan menganalisis pengaruh penambahan sari kacang tunggak dan serbuk daun kelor terhadap mutu organoleptik serta mutu kimia permen gummy sebagai alternatif kudapan pencegah tengkes. Penelitian ini menggunakan desain true experimental dengan rancangan posttest-only control group. Kelompok penelitian terdiri dari kontrol (P0) dan tiga kelompok perlakuan dengan variasi konsumsi sari kacang tunggak dan serbuk daun kelor, yaitu P1 (90%:10%), P2 (85%:15%), dan P3 (80%:20%). Data yang dikumpulkan meliputi mutu organoleptik menggunakan hedonic scale serta mutu kimia yang mencakup kadar protein, kalsium, dan kadar air, kemudian dianalisis menggunakan uji Friedman dan Independent Samples T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula terbaik yang diterima responder adalah P1, meskipun daya terima tertinggi pada indikator warna (93,4%), tekstur (76,7%) tetap berada pada kelompok kontrol (P0). Analisis statistik menunjukkan, pengaruh penambahan kacang tunggak dan serbuk daun kelor terhadap warna, aroma, tekstur, rasa (p=0,000). Selain itu, terdapat pengaruh signifikan peningkatan kadar protein (p=0,016),kalsium (p=0,000), dengan nilai pada P1 mencapai protein 13,33%, kalsium 0,20%, kadar air 35,52%. Berdasarkan hasil penelitian, permen gummy berpotensi menjadi alternatif kudapan bergizi pencegah tengkes. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memodifikasi formulasi untuk mengurangi aroma langu serta rasa sisa (after taste) pada produk agar daya terimanya maksimal.
Hubungan Pengetahuan Gizi, Paparan Iklan Media Sosial, Dan Frekuensi Konsumsi Junk Food Terhadap Kejadian Gizi Lebih Pada Remaja Noor Latifah; Ermina Syainah; Sajiman Sajiman
Sains Medisina Vol 4 No 6 (2026): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i6.1578

Abstract

Masa remaja merupakan periode yang rentan terhadap konsumsi junk food yang tinggi kalori namun rendah zat gizi, sehingga dapat meningkatkan risiko gizi lebih dan obesitas. Pengetahuan gizi berperan penting dalam memengaruhi perilaku pemilihan makanan pada remaja. Selain itu, tingginya penggunaan media sosial juga meningkatkan paparan iklan makanan cepat saji yang dapat memengaruhi pola konsumsi remaja. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan gizi, paparan iklan media sosial, dan frekuensi konsumsi junk food dengan kejadian gizi lebih pada remaja di SMA Negeri 3 Banjarbaru. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional pada 88 responden yang dipilih secara simple random sampling. Data dianalisis menggunakan uji Rank Spearman (α = 0,05). Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner pengetahuan gizi, kuesioner paparan iklan media sosial, dan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk mengukur frekuensi konsumsi junk food. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 47,7% responden mengalami gizi lebih, 48,9% memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori cukup, 48,9% terpapar iklan media sosial dalam kategori tinggi, serta 53,4% memiliki frekuensi konsumsi junk food kategori jarang. Analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan antara pengetahuan gizi (p=0,018, r=-0,252) dan paparan iklan media sosial (p=0,045, r=0,214) dengan kejadian gizi lebih. Sementara itu, frekuensi konsumsi junk food tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,059, r=0,202). Berdasarkan hasil penelitian, responden diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan gizi dan lebih bijak membatasi pengaruh iklan makanan di media sosial.