Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Globalisasi terhadap Nilai-Nilai Pancasila Dikalangan Mahasiswa di Indonesia Heri Kurnia; Hendri; Saepudin Karta Sasmita; Julia Dwi Ratnasari; Fathur Ilham Hariyanto
Academy of Education Journal Vol. 17 No. 2 (2026): Academy of Education Journal
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47200/aoej.v17i2.3900

Abstract

This study examines the influence of globalization on Pancasila values among university students in Indonesia. Globalization has intensified interconnectedness through information technology, knowledge mobility, social media, popular culture, and economic and educational exchanges. These processes generate dual consequences: they broaden students’ global knowledge and competencies, but may also reshape identity, social solidarity, consumption patterns, and interpretations of national values. The study employed a quantitative associative survey design. The respondents were 2,312 students of Pancasila and Civic Education (PPKn) from Pamulang University, Universitas Negeri Jakarta, and STKIP Arrahmaniyah Depok. The instrument consisted of 15 items for globalization and 15 items for Pancasila values. All items were valid, with Corrected Item-Total Correlation values ranging from 0.542 to 0.821. Reliability was very high, with Cronbach’s Alpha of 0.931 for globalization and 0.947 for Pancasila values. Data were analyzed using descriptive statistics, Pearson correlation, simple linear regression, coefficient of determination, t-test, and F-test. The findings indicate a positive and significant relationship between globalization and Pancasila values, expressed by Y = 34.782 + 0.620X, r = 0.671, and R² = 0.450. Thus, globalization explains 45.0% of the variance in Pancasila values within the model, while 55.0% is attributable to other factors. The t value of 43.47 and F value of 1,889.72, both with p < .05, support the alternative hypothesis. The findings suggest that globalization does not inevitably erode Pancasila; its influence can become constructive when students possess information-filtering skills, critical thinking, digital literacy, and strong internalization of national values.
Cancel Culture sebagai Bentuk Sanksi Sosial di Era Digital Achmad Baihaki; Fathur Ilham Hariyanto; Moh Ragil Rekol
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11417

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah lanskap interaksi masyarakat dengan melahirkan fenomena cancel culture sebagai bentuk kontrol sosial baru di ruang publik digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam mengenai karakteristik, mekanisme pelaksanaan, serta dampak yang ditimbulkan oleh fenomena cancel culture sebagai bentuk sanksi sosial modern. Metode penelitian yang diterapkan adalah kualitatif deskriptif dengan mengintegrasikan pendekatan studi pustaka terhadap berbagai literatur ilmiah terkini serta analisis tematik terhadap dinamika interaksi pengguna media sosial. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga temuan utama yang krusial. Pertama, cancel culture berfungsi sebagai mekanisme sanksi sosial digital kolektif yang diwujudkan melalui tindakan boikot massal, kecaman publik, dan pengucilan virtual bagi pihak yang dinilai melanggar norma etika atau moral. Kedua, media sosial berperan aktif sebagai ruang penggerak utama yang mempercepat eskalasi fenomena ini akibat faktor viralitas informasi yang instan, manipulasi algoritma, serta rendahnya budaya verifikasi data oleh netizen. Ketiga, praktik ini memberikan dampak dualistik yang signifikan; di satu sisi mampu meningkatkan aspek akuntabilitas sosial pelaku publik, namun di sisi lain berisiko tinggi menyebabkan kerusakan reputasi permanen, tekanan psikologis berupa stres dan kecemasan, hingga menciptakan polarisasi sosial yang tajam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas penegakan norma di ruang siber sangat bergantung pada penguatan literasi digital yang komprehensif serta kesadaran etis pengguna. Diperlukan regulasi diri yang bijaksana agar fungsi kontrol sosial digital dapat berjalan secara proporsional, adil, dan berkeadilan bagi seluruh pihak tanpa memicu penghakiman massa yang destruktif.