Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEPATUHAN MINUM TABLET TAMBAH DARAH PADA SISWI SMP Evanjelina Pristica; Noviansyah Noviansyah; Christin Angelina Febriani
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 2 (2026): AGUSTUS 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i2.61557

Abstract

Tablet Tambah Darah (TTD) merupakan suplemen zat besi yang penting untuk mencegah anemia pada remaja putri (rematri), namun kepatuhannya masih rendah. Anemia dapat mengganggu konsentrasi belajar, kebugaran, kesehatan reproduksi. Rematri mendapatkan dan mengonsumsi TTD di Lampung pada tahun 2025 sebesar 74,94%, sedangkan di Kabupaten Pesawaran hanya 50,90%. Prevalensi anemia pada rematri kelas 7 di Provinsi Lampung mencapai 15,23% dan di Kabupaten Pesawaran 8,62%. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum TTD. Metode penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional, populasi penelitian 397 siswi dan sampel 359 yang dipilih dengan teknik proportional random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Responden tidak patuh minum TTD 194 (54,0%), pengetahuan rendah 194 (54,0%), dukungan guru tinggi 287 (79,9%), dukungan teman sebaya rendah 218 (60,7%), dukungan orang tua rendah 208 (57,9%), dan paparan media promosi kesehatan rendah 197 (54,9%). Ada hubungan pengetahuan siswi (p=0,001 OR=2,7), dukungan guru (p=0,023 OR=1,9), teman sebaya (p=0,001 OR=2,3), dukungan orang tua (p=0,010 OR=2,1), media promosi kesehatan (p=0,001 OR=3,2)dengan kepatuhan minum tablet tambah darah. Paparan media promosi kesehatan adalah faktor yang paling dominan berhubungan dengan kepatuhan minum tablet tambah darah (p=0,001 OR=3,0). Sekolah dan puskesmas perlu memperkuat edukasi serta penyebaran informasi tentang manfaat, cara konsumsi, dan pentingnya kepatuhan minum TTD melalui media promosi kesehatan yang menarik, mudah dipahami, dan diberikan secara berkelanjutan dengan melibatkan guru, teman sebaya, dan orang tua.    
KEPATUHAN MENGONSUMSI TABLET TAMBAH DARAH PADA REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI 15 BANDAR LAMPUNG Lintang Dhyta Kinantie; Wayan Aryawati; Christin Angelina Febriani
Maternity and Neonatal : Jurnal Kebidanan Vol. 14 No. 2 (2026): Maternity and Neonatal : Jurnal Ilmu Kebidanan
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30606/jmn.v14i2.5009

Abstract

Rendahnya kepatuhan ini menjadi permasalahan utama dalam efektivitas program pencegahan anemia. Data Riskesdas menunjukkan dari 76,2% remaja putri yang menerima TTD, hanya 1,4% yang patuh mengonsumsinya sesuai anjuran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor Health Belief Model yang berhubungan dengan kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah. Populasi dan sampel penelitian berjumlah 132 rematri dengan teknik proportional random sampling. Penelitian analitik kuantitatif desain cross-sectional, menggunakan data primer penyebaran kuisioner. Data dianalisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian sebagian besar siswi tidak patuh (60,6%), persepsi kerentanan kurang baik (56,1%), persepsi keparahan baik (56,8%), persepsi manfaat baik (64,4%), persepsi hambatan kurang baik (68,2%), isyarat bertindak kurang baik (52,3%), dan efikasi diri kurang baik (55,3%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara persepsi kerentanan (p=0,043; OR=2,217), persepsi keparahan (p=0,043; OR=2,217), persepsi manfaat (p=0,025; OR=2,593), persepsi hambatan (p=0,008; OR=2,952), isyarat bertindak (p=0,002; OR=3,322), dan efikasi diri (p=0,003; OR=3,141) dengan kepatuhan mengonsumsi TTD. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan berhubungan dengan kepatuhan mengonsumsi TTD adalah efikasi diri dengan nilai OR sebesar 2,848. Peningkatan kepatuhan konsumsi TTD perlu difokuskan pada penguatan efikasi diri, peningkatan edukasi kesehatan, pengurangan hambatan yang dirasakan, serta peningkatan dukungan dari sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan