Faisal Abdullah
Ma’had Aly Walindo Pekalongan

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Kesempurnaan Ciptaan Allah dalam Keseimbangan Alam: Relevansi QS.  Ar-Rahman:  7–9 Perspektif Al-Qur'an dan Sains Modern Dinda Kartika; Faisal Abdullah
JPIK – Jurnal Pendidikan Islam dan Studi Keislaman Vol. 1 No. 1 (2025): Desember
Publisher : PT Rizkarya Cendekia Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya Allah SWT tercermin dalam kesempurnaan ciptaan-Nya yang seimbang, sebagaimana digambarkan dalam QS. Ar-rahman ayat 7-9 yang menekankan harmoni langit, bumi, dan keseimbangan alam semesta. Tulisan ini menganalisis relevansi ayat-ayat tersebut dari perspektif Al-Qur'an dan sains modern, dengan tujuan mengungkap sinergi antara wahyu ilahi dan penemuan empiris kontemporer. Pendekatan yang digunakan adalah tafsir tematik (tafsir maudu'i) berbasis Al-Qur'an, dikombinasikan dengan kajian interdisipliner sains seperti fisika kosmologi, ekologi, dan hukum termodinamika.Hasil analisis menunjukkan bahwa deskripsi Qur'ani tentang "langit yang ditinggikan tanpa tiang" (ayat 7) selaras dengan konsep ekspansi alam semesta (Big Bang theory), sementara "keseimbangan bumi" (ayat 8-9) merefleksikan prinsip homeostasis ekosistem dan hukum kekekalan energi dalam sains. Perspektif ini tidak hanya memperkuat keyakinan umat Islam terhadap mukjizat ilmiah Al-Qur'an, tetapi juga membuka dialog konstruktif antara agama dan sains untuk mengatasi krisis lingkungan global. Kesimpulannya, kesempurnaan ciptaan Allah menuntut manusia menjaga keseimbangan alam sebagai amanah ilahi.  
Ilmu Psikologi dalam Al-Qur’an Perspektif I’jaz Tibbi: Analisis Konsep Jiwa, Perilaku, dan Kesehatan Mental Fadhlika Maulidia; Faisal Abdullah; Khomsa Maulana
JPIK – Jurnal Pendidikan Islam dan Studi Keislaman Vol. 2 No. 3 (2026): September
Publisher : PT Rizkarya Cendekia Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas ilmu psikologi dalam Al-Qur’an perspektif I‘jaz Tibbi dengan fokus pada konsep jiwa, perilaku, dan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep jiwa dalam Al-Qur’an, hubungan jiwa dengan perilaku dan kesehatan manusia, serta peran Al-Qur’an dalam menjaga ketenangan jiwa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari Al-Qur’an, kitab tafsir, buku, dan artikel ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an menggambarkan dimensi psikologis manusia melalui konsep al-ruh, al-nafs, al-qalb, al-‘aql, dan al-fiṭrah yang saling berkaitan dalam membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku. Kondisi jiwa juga memiliki hubungan dengan kesehatan manusia, karena keseimbangan batin dapat mendukung terbentuknya perilaku positif dan kesehatan mental. Selain itu, Al-Qur’an memberikan petunjuk untuk menjaga ketenangan jiwa melalui keimanan, dzikir, doa, harapan kepada Allah, serta fungsi Al-Qur’an sebagai syifa’ bagi penyakit yang terdapat dalam dada. Dengan demikian, perspektif I‘jaz Tibbi menunjukkan relevansi petunjuk Al-Qur’an dengan pemeliharaan kesehatan mental secara holistik.
I'jāz Ṭibbī dalam Pengharaman Khamr: Analisis Al-Qur'an dalam Perspektif Kedokteran Modern Septiana Meliani; Faisal Abdullah; Khomsa Maulana
JPIK – Jurnal Pendidikan Islam dan Studi Keislaman Vol. 2 No. 3 (2026): September
Publisher : PT Rizkarya Cendekia Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas I’jāz Ṭibbī terkait larangan khamr dalam Al-Qur’an dan relevansinya dengan temuan kedokteran modern. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji tahapan larangan khamr dalam Al-Qur’an serta dampak konsumsi alkohol terhadap kesehatan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan analisis deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larangan khamr ditetapkan secara bertahap hingga mencapai ketentuan final dalam Q.S. al-Mā’idah ayat 90–91. Larangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual dan moral, tetapi juga bertujuan menjaga akal dan jiwa manusia. Temuan kedokteran modern menunjukkan bahwa konsumsi alkohol dapat menyebabkan kerusakan hati, gangguan sistem saraf, penyakit kardiovaskular, serta meningkatkan risiko kanker. Kesesuaian antara larangan khamr dalam Al-Qur’an dan fakta medis modern menunjukkan relevansi I’jāz Ṭibbī dalam memahami hikmah pengharaman khamr.
I'jāz Al-Iqtiṣādī dalam Qs. Al-Baqarah Ayat 282: Konsep Akuntansi dalam Perspektif Al-Qur'an Miftakhul Karimah; Faisal Abdullah
JPIK – Jurnal Pendidikan Islam dan Studi Keislaman Vol. 2 No. 3 (2026): September
Publisher : PT Rizkarya Cendekia Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas I'jāz al-Iqtiṣādī dalam QS. Al-Baqarah ayat 282 yang berkaitan dengan konsep akuntansi syariah, khususnya dalam pencatatan transaksi utang-piutang. Ayat tersebut memberikan perhatian yang kuat terhadap pentingnya pencatatan, keadilan, kesaksian, dan kejelasan dalam transaksi ekonomi. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis prinsip-prinsip akuntansi yang terkandung dalam QS. Al-Baqarah ayat 282 serta relevansinya terhadap akuntansi syariah. Hasil kajian menunjukkan bahwa QS. Al-Baqarah ayat 282 mengandung prinsip pencatatan, transparansi, keadilan, amanah, kesaksian, dan akuntabilitas dalam aktivitas ekonomi. Perintah faktubūhu menunjukkan pentingnya pencatatan transaksi sebagai upaya menjaga hak dan kewajiban para pihak, sedangkan perintah untuk menuliskannya dengan adil menunjukkan bahwa pencatatan harus dilakukan secara objektif dan tidak merugikan salah satu pihak. Kandungan tersebut menunjukkan aspek I'jāz al-Iqtiṣādī dalam Al-Qur’an, karena Al-Qur’an telah memberikan prinsip pengelolaan transaksi ekonomi yang tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menekankan nilai moral dan tanggung jawab. Prinsip-prinsip tersebut memiliki relevansi dengan akuntansi syariah yang menempatkan kejujuran, keadilan, transparansi, dan pertanggungjawaban sebagai bagian penting dalam pengelolaan transaksi keuangan.
Konsep Pemanfaatan Waktu dalam Bisnis Perspektif Al-Qur’an Dinda Kartika; Faisal Abdullah
JPIK – Jurnal Pendidikan Islam dan Studi Keislaman Vol. 2 No. 3 (2026): September
Publisher : PT Rizkarya Cendekia Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Waktu merupakan aspek penting dalam kehidupan dan aktivitas bisnis yang harus dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep pemanfaatan waktu dalam bisnis berdasarkan perspektif Al-Qur’an melalui QS. Al-‘Ashr ayat 1–3, QS. Al-Jumu‘ah ayat 10, QS. Al-Insyirah ayat 7–8, QS. Quraisy, QS. An-Naba’ ayat 11, QS. Al-Qashash ayat 73, dan QS. At-Taubah ayat 105. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research dan tafsir tematik (maudhu‘i). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memandang waktu sebagai amanah yang harus dimanfaatkan dengan produktif, disiplin, bertanggung jawab, serta seimbang antara kepentingan bisnis dan ibadah. Pemanfaatan waktu dalam bisnis tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga kejujuran, kemaslahatan, dan rida Allah.
Dimensi I’jaz Tibbi dalam Larangan Mendekati Zina: Analisis QS. AL-Isra’ Ayat 32 Perspektif I’jaz Tibbi fi Al-Qur’an Karya Dr. Sayyid Al-Jumaili Nabrisa Faiqoh; Faisal Abdullah; Khomsa Maulana
JPIK – Jurnal Pendidikan Islam dan Studi Keislaman Vol. 2 No. 3 (2026): September
Publisher : PT Rizkarya Cendekia Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zina merupakan salah satu perbuatan yang dilarang secara tegas dalam Islam. Larangan tersebut tidak hanya ditujukan terhadap perbuatan zina, tetapi juga terhadap segala sesuatu yang dapat mendekati dan mengantarkan seseorang kepadanya, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Isra’ ayat 32. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis larangan mendekati zina dalam QS. Al-Isra’ ayat 32 serta mengungkap dimensi I’jaz Ṭibbī yang terkandung di dalamnya berdasarkan perspektif Dr. Sayyid Al-Jumaili. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) dan jenis penelitian deskriptif-analitik. Sumber primer penelitian adalah kitab I’jaz Ṭibbī fi Al-Qur’an karya Dr. Sayyid Al-Jumaili, sedangkan sumber sekundernya berupa berbagai artikel ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para mufasir, baik klasik maupun kontemporer, memandang larangan mendekati zina sebagai bentuk pencegahan terhadap segala jalan yang dapat mengantarkan kepada perzinaan. Zina dinilai sebagai perbuatan keji dan jalan yang buruk karena berdampak pada kerusakan kehormatan, nasab, keluarga, dan kehidupan sosial. Dalam perspektif I’jaz Ṭibbī, perzinaan juga memiliki dampak terhadap kesehatan fisik dan psikologis, termasuk risiko berbagai penyakit menular seksual, tekanan batin, penyesalan, dan gangguan kehidupan sosial. Oleh karena itu, larangan mendekati zina menunjukkan dimensi preventif Al-Qur’an dalam menjaga kesehatan, kehormatan, keturunan, dan kemaslahatan manusia secara menyeluruh.
Anatomi Embrio dan Janin sebagai Bukti I’jāz Ṭibbī dalam Al-Qur’an Tsabita Salsabila; Faisal Abdullah; Khomsa Maulana
JPIK – Jurnal Pendidikan Islam dan Studi Keislaman Vol. 2 No. 3 (2026): September
Publisher : PT Rizkarya Cendekia Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh diskursus hubungan antara wahyu dan sains modern, khususnya mengenai deskripsi perkembangan embrio dan janin di dalam Al-Qur'an. Masalah utama yang dikaji adalah bagaimana deskripsi tekstual Al-Qur'an mengenai fase intrauterin manusia membuktikan eksistensi i’jāz ṭibbī (kemukjizatan medis) di tengah ketiadaan teknologi canggih pada abad ke-7 Masehi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian antara istilah embriologi Qur'ani dengan temuan anatomi medis modern melalui metode kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir ilmi dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan perkembangan janin dalam Al-Qur'an—seperti nuṭfah (fase pembuahan), ‘alaqah (fase implantasi/melekat), mudghah (gumpalan daging/somit), hingga pembentukan tulang (‘iẓām) dan otot (laḥm)—memiliki kesesuaian kronologis dan morfologis yang sangat presisi dengan perkembangan embrio modern. Kesimpulannya, keselarasan terminologi anatomi janin dalam Al-Qur'an yang melampaui pengetahuan zaman tersebut menjadi bukti konkret i’jāz ṭibbī bahwa Al-Qur'an merupakan wahyu ilahi yang sejalan dengan kebenaran ilmu pengetahuan.
Makna Tiga Puluh Bulan dalam QS. Al-Ahqaf Ayat 15: Analisis Komparatif antara Istinbāṭ Fiqh dan Limit of Viability Medis Tamama Nikmatika; Faisal Abdullah; Khomsa Maulana
JPIK – Jurnal Pendidikan Islam dan Studi Keislaman Vol. 2 No. 3 (2026): September
Publisher : PT Rizkarya Cendekia Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Frasa “tsalātsūna syahrā” (tiga puluh bulan) dalam QS. Al-Ahqaf: 15 merupakan isyarat numerik dalam Al-Qur'an yang menyatukan durasi mengandung dan menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk membedah makna mendalam di balik angka tiga puluh bulan tersebut melalui pendekatan interdisipliner, yakni mengomparasikan metode istinbāṭ hukum fiqh klasik dengan teori neonatologi modern. Metodologi yang digunakan adalah riset kepustakaan (library research) dengan analisis isi (content analysis) terhadap teks ayat dan literatur kedokteran. Hasil kajian menunjukkan bahwa angka tiga puluh bulan berfungsi sebagai "kunci matematika" Al-Qur'an. Ketika dikurangi dengan durasi menyusui sempurna selama 24 bulan (dua tahun) dalam QS. Luqman: 14 dan QS. Al-Baqarah: 233, ia menghasilkan angka mutlak 6 bulan sebagai batas minimal usia kehamilan hidup. Secara medis modern, angka 6 bulan ini bermakna sebagai limit of viability (batas kemampuan hidup janin) karena bertepatan dengan fase kanalikuler paru-paru dan awal produksi zat surfaktan alami. Keselarasan ini menegaskan bahwa makna tiga puluh bulan tidak hanya berfungsi secara normatif-yuridis dalam fikih nasab, melainkan sebuah bukti nyata dari mukjizat medis (I’jāz Ṭibbī).
Dari Petunjuk Ekonomi Menuju I‘Jāz Iqtishādī: Kajian Metodologis terhadap Ayat-Ayat Ekonomi Al-Qur’an Alvin Ilham Riyadi; Faisal Abdullah
JPIK – Jurnal Pendidikan Islam dan Studi Keislaman Vol. 2 No. 3 (2026): September
Publisher : PT Rizkarya Cendekia Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian i‘jāz iqtishādī dalam Al-Qur’an berkembang seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap kandungan ekonomi dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, keberadaan petunjuk ekonomi dalam Al-Qur’an tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai kemukjizatan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis petunjuk ekonomi dalam Al-Qur’an serta merumuskan batas metodologis antara tafsir ekonomi dan i‘jāz iqtishādī. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dan pendekatan tafsir mauḍū‘ī (tematik). Data diperoleh dari Al-Qur’an, kitab tafsir, literatur ‘ulūm al-Qur’ān, buku ekonomi Islam, dan artikel ilmiah yang relevan. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis melalui identifikasi ayat, analisis bahasa dan konteks, kajian penafsiran mufasir, perumusan prinsip ekonomi, serta dialog dengan teori ekonomi modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memuat prinsip-prinsip ekonomi yang berkaitan dengan kepemilikan dan pengelolaan harta, perdagangan, transaksi, konsumsi, distribusi kekayaan, keadilan, serta larangan terhadap praktik ekonomi yang merugikan. Namun, prinsip-prinsip tersebut tidak secara otomatis menunjukkan i‘jāz iqtishādī. I‘jāz iqtishādī memerlukan pembuktian terhadap adanya aspek keistimewaan tertentu yang melampaui sekadar kesesuaian antara ayat dan teori ekonomi modern. Dengan demikian, kajian i‘jāz iqtishādī perlu dilakukan secara sistematis melalui tahapan identifikasi ayat, analisis konteks, penafsiran, perumusan prinsip ekonomi, analisis relevansi, dan pengujian aspek keistimewaan.