Pulau Sebesi, sebuah desa kepulauan di Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, memiliki potensi besar dalam produksi gula merah berbasis nira kelapa dan pengembangan desa wisata. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal akibat keterbatasan kualitas produksi, lemahnya pengelolaan kelembagaan, rendahnya literasi pemasaran digital, serta kondisi geografis yang terisolasi dan berada di kawasan rawan bencana karena berdekatan dengan Gunung Anak Krakatau. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui Program Mahasiswa Berdampak Universitas Indonesia Mandiri dengan menerapkan pendekatan Sistem Bisnis dan Ekonomi Rakyat (SIBER) yang mengintegrasikan teknologi tepat guna, digitalisasi, inovasi branding, pengembangan ekowisata, dan penguatan kelembagaan. Kegiatan dilaksanakan selama delapan minggu menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) bagi UMKM gula merah dan Community-Based Tourism (CBT) bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, evaluasi, dan penyusunan rencana keberlanjutan. Program ini juga mengembangkan platform digital yang terdiri atas Digital Production Logbook, Marketplace Aggregator, dan Smart Dashboard untuk mendukung pencatatan produksi, pemasaran, dan pemantauan keuangan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan konsistensi pencatatan produksi sebesar 30–45 persen, peningkatan jangkauan promosi sebesar 10–12 persen, serta peningkatan volume produksi sebesar 10–15 persen pada sebagian mitra. Selain itu, tata kelola kelembagaan Pokdarwis juga mengalami penguatan. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi tepat guna, pemasaran digital, dan penguatan kapasitas kelembagaan mampu meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat kepulauan sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).