p-Index From 2021 - 2026
0.751
P-Index
This Author published in this journals
All Journal EBSJ SOLUSI
Fredericho Mego Sundoro
State University of Semarang

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Fisheries Blue Economy Role in Sorong City SEZ Policy Fredericho Mego Sundoro; Deky Aji Suseno; Grace Naralia Marpaung; Lesta Karolina Br Sebayang; Adinda Wulan Ayu Saputri; Sumayyah; Linggar Pradista Kuncoro; Yeskiel Christian
Economics and Business Solutions Journal Vol. 10 No. 1 (2026): Economics and Business Solutions Journal
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/ebsj.v10i1.12961

Abstract

This study aimed to analyze the potential of the blue economy concept in the fisheries sector to support the development of the Sorong Special Economic Zone (SEZ) in West Papua. The research focused on evaluating the contribution of the fisheries sector to the regional economy and its role in ensuring sustainable marine resource management. A quantitative descriptive method was employed, utilizing Location Quotient (LQ) and Shift Share Analysis (SSA) to identify key sectors and assess regional competitiveness. The findings revealed that the agriculture, forestry, and fisheries sector in Sorong experienced fluctuating contributions to the Gross Regional Domestic Product (GRDP) between 2019 and 2023, with a notable decline in 2020 due to the COVID-19 pandemic. Nevertheless, the sector demonstrated a recovery in the following years and was identified as a base sector in 2023, as indicated by an LQ value greater than one. These results emphasized the strategic importance of the fisheries sector in driving regional economic growth and underscored the need for a sustainable development framework. Strengthening investment, enhancing fisheries infrastructure, and empowering local fishers were identified as crucial strategies. The integration of the blue economy approach into SEZ policies could promote inclusive and sustainable economic growth while supporting the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goals 8 and 14
Penerapan Inflasi Targeting di Indonesia dalam Analisis Bibliometrik Fredericho Mego Sundoro; Nesa Indriyani; Adilla Rahmaini; Riky Dwi Setianingsih; Alfiah Prima Sejati; Yanuar Zerina Nur Istiqomah
Solusi Vol. 23 No. 1 (2025): January
Publisher : Fakultas Ekonomi, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slsi.v23i1.11213

Abstract

Inflation targeting Framework (ITF) pertama kali diterapkan di Indonesia pada 1 Juli tahun 2005 sebagai respons terhadap tantangan ekonomi domestik dan internasional. Kebijakan ini bertujuan untuk mencapai stabilitas inflasi melalui penerapan sasaran inflasi yang realistis, sehingga memperkuat kemampuan Bank Indonesia dalam melaksanakan kebijakan moneter. Kata kunci inflation targeting memiliki hubungan yang kuat dengan monetary policy karena konsep inflation targeting merupakan salah satu strategi utama yang diterapkan dalam kebijakan moneter modern. Strategi ini melibatkan penetapan target inflasi tertentu oleh bank sentral untuk menjaga stabilitas harga, yang merupakan salah satu tujuan utama kebijakan moneter. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif- kualitatif dengan analisis data sekunder dari berbagai sumber terpercaya, antara lain Bank Indonesia, BPS, dan IMF. Data yang sudah terkumpul kemudian diproses di VOSviewer untuk menghasilkan peta visual. Analisis dilakukan pada beberapa aspek utama, seperti kolaborasi antar peneliti (co-authorship), referensi yang sering dikutip bersama (co-citation), dan analisis kata kunci untuk melihat fokus utama penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ITF telah berhasil menganalisis inflasi di Indonesia, dengan inflasi saat ini masih sering berada dalam kisaran sasarannya sejak tahun 2009. Namun demikian, masih ada beberapa hal yang masih perlu diperhatikan, seperti krisis global dan dampak fluktuasi harga komoditas. Visualisasi bibliometrik menunjukkan bahwa penelitian tentang ITF di Indonesia masih relatif mendekati penelitian di negara lain. Implementasi ITF yang konsisten diyakini dapat meningkatkan stabilitas ekonomi nasional dan penanganan krisis.
Menelusuri Evolusi Penelitian Quantitative Easing: Analisis Bibliometrik atas Respons terhadap Krisis Global Irawan Prasetyo; Fredericho Mego Sundoro; Fita Amalia Nur Aini; Fitri Anjarwani; Sefrida Ainun Fajriyah; Rina Fitri Achyani; Nismawati Nikmah
Solusi Vol. 23 No. 3 (2025): July
Publisher : Fakultas Ekonomi, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slsi.v23i3.12436

Abstract

Kebijakan moneter memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi suatu negara. Ketika instrumen konvensional seperti pemangkasan suku bunga tidak lagi efektif, bank sentral sering kali mengadopsi langkah-langkah non-konvensional seperti Quantitative Easing (QE). Quantitative Easing bertujuan untuk menjaga stabilitas jumlah uang beredar, mendorong lembaga perbankan agar meningkatkan penyaluran kredit, serta memperkuat likuiditas dalam perekonomian. Kebijakan ini telah digunakan oleh bank sentral terkemuka, seperti Bank of England dan The Fed untuk menstabilkan pasar keuangan selama krisis ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan serta menganalisis terkait kebijakan Quantitative Easing serta dampaknya terhadap perekonomian global melalui pendekatan bibliometrik. Analisis dilakukan dengan menggunakan data bibliografi dari Scopus pada periode 1994-2024. Analisis bibliometrik digunakan untuk memahami perkembangan penelitian tentang Quantitative Easing dalam database Scopus. Penelitian ini menggunakan alat analisis seperti Vos Viewer dan R Studio untuk memetakan hasil penelitian ilmiah terkait Quantitative Easing dan mengidentifikasi topik utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Quantitative Easing telah menjadi topik penelitian yang semakin populer, terutama setelah krisis keuangan global tahun 2008. Kebijakan ini terbukti efektif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi dan menstabilkan pasar keuangan, namun juga menimbulkan berbagai dampak samping seperti apresiasi nilai tukar, peningkatan aliran modal, dan ketidakstabilan harga komoditas di negara-negara berkembang. Penelitian ini juga mengidentifikasi tren penelitian terbaru terkait Quantitative Easing yang banyak menyoroti bagaimana dampaknya pada ekonomi negara berkembang, terutama dalam hal fluktuasi nilai tukar, arus modal, dan ketimpangan ekonomi. Selain itu, kajian terkini juga menekankan pentingnya sinergi antara Quantitative Easing dan kebijakan fiskal sebagai respons terpadu terhadap krisis.  Kata Kunci : Quantitative Easing; kebijakan moneter; bibliometrik; krisis keuangan; ekonomi global.
Telemedicine dan Transformasi Digital Kesehatan Global 1999–2025 Fredericho Mego Sundoro; Adinda Wulan Ayu Saputri; Sumayyah; Linggar Pradista Kuncoro; Yeskiel Christian
Solusi Vol. 23 No. 4 (2025): October
Publisher : Fakultas Ekonomi, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/slsi.v23i4.13058

Abstract

Peningkatan jumlah startup teknologi, khususnya di bidang industri kesehatan (healthtech), terjadi sejak pandemi COVID-19 (Coronavirus Disease 2019). Menyebabkan terjadinya perubahan teknologi di bidang kesehatan, salah satunya adalah pengobatan jarak jauh atau sering disebut Telemedicine.  Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi elektronik digunakan secara maksimal melalui telemedicine. Pada dasarnya, telemedicine memudahkan pelayanan kesehatan ketika jarak fisik antara pasien dengan penyedia layanan kesehatan. Tren positif terus berkembang tidak hanya pada telemedicine namun juga layanan apotek dan edukasi kesehatan secara daring. Sehingga penting untuk melihat kontribusi telemedicine terhadap infrastruktur kesehatan di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tren terkait telemedicine secara global. Analisis bibliometrik digunakan untuk mengukur penggunaan kata “telemedicine” yang tertulis dalam judul artikel, abstrak dan kata kunci. Pengumpulan data menggunakan basis data Scopus yang secara keseluruhan mencapai 2.550 dokumen dan dipublikasikan sejak tahun 1999 hingga tahun 2025. Setelah diolah melalui aplikasi R Studio, menujukkan dokumen-dokumen tersebut melibatkan 6.109 penulis dengan 284 di antaranya sebagai penulis tunggal. Hasil olah data melalui R Studio menunjukkan peningkatan jumlah penelitian tentang telemedicine dari tahun 1999 hingga 2025. Selanjutnya 2.550 dokumen tersebut dibagi berdasarkan asal negara, apabila dihitung berdasarkan jumlah kutipan maka negara China menduduki peringkat teratas dengan 7.464 kutipan disusul Amerika Serikat dengan 1.904 kutipan dan Inggris sejumlah 1.372 kutipan. Hasil analisis pemetaan menggunakan Vos Viewer menunjukkan hubungan kata “telemedicine” dengan beberapa kata lain seperti “quality of life” dan “digital health” meningkat pesat di tahun 2023. Hal ini menandakan  telemedicine berhubungan dengan kualitas kehidupan dan layanan kesehatan berbasis digital.