Adyan Donastin
Fakultas Kedokteran, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Edukasi Kesehatan Paru untuk Pencegahan Penyakit Paru Obstruktif Kronis Akibat Paparan Asap Rokok dan Biomassa pada Santri Pondok Pesantren Sunan Drajat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur Adyan Donastin; Paul Agus Dwiyanu; Titin Sholihah Agustina; Yuriske Agnovianto; Mohammad Abhyrama Gymnastiar Taufiqul Hakim; Zahrotul Aini; Alvi Octavia Manzilatur Rahmah; Nafatul Masyaroh; Aizyah Farah Annabila; Anjhely Andreani
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 5 (2026): JAMSI - September 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.3267

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronis merupakan penyakit respirasi kronis yang berkaitan dengan paparan partikel dan gas berbahaya, termasuk asap rokok dan asap biomassa. Lingkungan pesantren dengan pola hunian komunal menjadi setting strategis untuk edukasi promotif dan preventif kesehatan paru. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan santri mengenai bahaya paparan asap rokok dan biomassa serta upaya pencegahan Penyakit Paru Obstruktif Kronis. Kegiatan dilaksanakan pada 20 Juni 2026 di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, dan diikuti oleh 50 santri. Intervensi meliputi edukasi interaktif, diskusi, pemutaran media audiovisual, penggunaan media visual, demonstrasi, dan Focus Group Discussion. Pengetahuan dievaluasi menggunakan desain one-group pretest-posttest. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 90,80 pada pretest menjadi 96,00 pada posttest, dengan selisih 5,20 poin atau 5,73% dari nilai awal. Uji paired sample t-test menunjukkan p = 0,022. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Karena skor awal sudah relatif tinggi, peningkatan tersebut perlu ditafsirkan secara proporsional dan mempertimbangkan kemungkinan ceiling effect. Kegiatan pembekalan kader santri sehat diposisikan sebagai rencana keberlanjutan, sedangkan capaian kader belum dievaluasi sebagai luaran kuantitatif. Edukasi kesehatan paru dapat menjadi strategi awal untuk meningkatkan pengetahuan santri mengenai faktor risiko penyakit paru, tetapi evaluasi lanjutan diperlukan untuk menilai retensi pengetahuan, perubahan perilaku, dan pengurangan paparan asap.
Edukasi dan Skrining Tuberkulosis melalui Program SIKAT TB di Wilayah Kerja Puskesmas Medokan Ayu Surabaya Nathalya Dwi Kartika; Adyan Donastin; Rifky Dwi Aditya Iryawan; Akbar Reza Muhammad; Ersalina Nidianti; Robert Aditya Wijanarko; Najmy Najah Anisah; Qoyyum Meikasari; Fatikasari Zain
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 5 (2026): JAMSI - September 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.3332

Abstract

Latar Belakang: Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam beban tuberkulosis dengan estimasi sekitar 1,1 juta kasus pada tahun 2024, sementara sebagian kasus belum terdeteksi akibat rendahnya literasi masyarakat mengenai gejala dan pentingnya skrining. Wilayah kerja Puskesmas Medokan Ayu Surabaya merupakan kawasan dengan karakteristik permukiman padat dan mobilitas penduduk tinggi sehingga memerlukan penguatan upaya pencegahan dan penemuan kasus berbasis komunitas. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai gejala, penularan, pencegahan, dan pentingnya deteksi dini tuberkulosis melalui penyuluhan SIKAT TB. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 7 Juni 2026 di wilayah kerja Puskesmas Medokan Ayu Surabaya dengan melibatkan 100 warga. Kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif berbasis komunitas dengan desain evaluasi one-group pretest–posttest. Intervensi meliputi sosialisasi, penyuluhan interaktif menggunakan media poster, leaflet, dan video, serta layanan skrining sederhana. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner sepuluh butir dan dilaporkan sebagai persentase jawaban benar pada setiap butir soal. Analisis dilakukan pada tingkat butir soal menggunakan uji paired sample t-test dan Wilcoxon signed-rank dengan tingkat kemaknaan α = 5%. Hasil: Rerata persentase jawaban benar meningkat dari 56,80% ± 14,26 pada pretest menjadi 97,70% ± 2,87 pada posttest, dengan selisih 40,90 poin persentase (IK 95%: 30,32–51,48) atau peningkatan relatif sebesar 72,01%. Peningkatan tersebut bermakna secara statistik (t(9) = 8,749; p < 0,001) dengan besar efek yang sangat kuat (Cohen’s dz = 2,77) dan nilai N-gain kategori tinggi (0,95). Seluruh sepuluh butir soal mengalami peningkatan, dan lima butir mencapai persentase jawaban benar 100%. Analisis menggunakan butir soal sebagai unit evaluasi sehingga hasil menggambarkan perubahan capaian pengetahuan pada setiap topik edukasi. Kesimpulan: Penyuluhan SIKAT TB efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai tuberkulosis, terutama pada materi yang sebelumnya memiliki tingkat penguasaan lebih rendah. Keberlanjutan program perlu didukung melalui penguatan kader kesehatan, pengulangan edukasi secara berkala, serta penguatan keterhubungan antara masyarakat dan layanan kesehatan primer untuk mendukung penemuan kasus aktif.