Ardyarini Dyah Savitri
Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peningkatan Pengetahuan Higiene Pribadi dan Sanitasi Makanan sebagai Upaya Pencegahan Risiko Infeksi Helicobacter pylori pada Santri Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Danny Irawan; Lea Maera Shanty; Ardyarini Dyah Savitri; Rifky Dwi Aditya Iryawan; Akbar Reza Muhammad; Diva Najlacesa Zefanya Purwanto; Keysa Dhia Kamila; Faizzatur Salma Ratnaduhita; Raffy Firdaus Xxafier; Mikail Nur Ramadhani; Muhammad Reihan Putra Purnama
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 5 (2026): JAMSI - September 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.3329

Abstract

Pondok pesantren merupakan hunian komunal dengan kepadatan tinggi dan pola penyediaan makanan terpusat, sehingga memiliki risiko terhadap transmisi patogen saluran cerna termasuk Helicobacter pylori melalui jalur oral–oral dan fekal–oral. Praktik higiene pribadi dan sanitasi makanan yang belum optimal dapat meningkatkan risiko paparan infeksi saluran cerna pada santri. Meningkatkan pengetahuan santri mengenai higiene pribadi dan sanitasi makanan sebagai upaya pencegahan risiko infeksi Helicobacter pylori di lingkungan pondok pesantren. Kegiatan dilaksanakan pada 22 Juli 2026 di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kabupaten Probolinggo, melibatkan 50 santri dalam lima kelompok edukasi paralel, menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat partisipatif dengan desain evaluasi one-group pretest–posttest. Kegiatan meliputi sosialisasi, edukasi interaktif, simulasi cuci tangan pakai sabun, penerapan media edukasi, dan evaluasi. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner sepuluh butir yang dikonversi ke rentang nilai 0–100 dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon signed-rank dengan tingkat signifikansi 5%. Meskipun nilai awal peserta telah berada pada kategori tinggi (90,00 ± 9,26), skor pengetahuan meningkat menjadi 97,40 ± 6,00 setelah edukasi. Peningkatan tersebut bermakna secara statistik berdasarkan uji Wilcoxon signed-rank (Z = −5,018; p <0,001) dengan besar efek kuat (r = 0,71). Proporsi peserta berkategori pengetahuan baik meningkat dari 90,0% menjadi 98,0%. Edukasi higiene pribadi dan sanitasi makanan berbasis partisipasi menunjukkan peningkatan pengetahuan santri segera setelah intervensi. Evaluasi lanjutan diperlukan untuk menilai keberlanjutan pengetahuan, perubahan perilaku higiene, serta dampaknya terhadap keluhan gastritis.
Program SIAGA MANIS: Edukasi dan Skrining Kesehatan Metabolik untuk Pencegahan Diabetes Melitus dan Sindrom Metabolik pada Santri Pondok Pesantren Wachid Hasyim Ardyarini Dyah Savitri; Danny Irawan; Faizal Armando Nugroho; Rifky Dwi Aditya Iryawan; Akbar Reza Muhammad; Keysa N. S.; Gigih Dwi Septa Pribadi; Ahmad Maulana Madhani; Eva Maharani Septiani Adiputri; Muchammad Ghifari Azhar; Elysia Talitha Iona Ardianto
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 5 (2026): JAMSI - September 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.3331

Abstract

Latar Belakang: Jumlah penyandang diabetes melitus meningkat tajam secara global, dengan sebagian besar faktor risiko berasal dari pola makan tidak seimbang dan rendahnya aktivitas fisik yang dapat dimodifikasi. Lingkungan pondok pesantren dengan penyediaan makanan terpusat, jadwal kegiatan yang padat, serta keterbatasan aktivitas fisik terstruktur dapat menjadi lingkungan yang memengaruhi pembentukan kebiasaan kesehatan metabolik sejak usia muda. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan santri mengenai gizi seimbang, aktivitas fisik, serta pencegahan diabetes melitus dan sindrom metabolik melalui edukasi kesehatan dalam program SIAGA MANIS yang disertai skrining kesehatan metabolik. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 17 Juli 2026 di Pondok Pesantren Wachid Hasyim dengan melibatkan 10 santri putri menggunakan pendekatan partisipatif dan desain evaluasi one-group pretest–posttest. Kegiatan meliputi sosialisasi, edukasi gizi seimbang dan penyakit metabolik, pengenalan gerakan hidup aktif, serta skrining antropometri, tekanan darah, dan gula darah. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner sepuluh butir dengan rentang nilai 0–100 dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon signed-rank sebagai analisis utama (α = 5%). Hasil: Rerata nilai pengetahuan meningkat dari 69,00 ± 16,63 pada pretest menjadi 81,00 ± 17,29 pada posttest, dengan selisih 12,00 poin (IK 95%: 6,36–17,64) atau 17,39%. Peningkatan tersebut bermakna secara statistik (Wilcoxon signed-rank eksak p = 0,008) dengan besar efek kuat (r = 0,82) dan N-gain 0,39 (kategori sedang). Delapan peserta (80,0%) mengalami kenaikan nilai dan proporsi peserta berkategori pengetahuan baik meningkat dari 30,0% menjadi 80,0%. Kesimpulan: Program SIAGA MANIS menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan santri mengenai pencegahan diabetes melitus dan sindrom metabolik segera setelah kegiatan edukasi. Peserta dengan pengetahuan awal rendah memerlukan pendekatan pendampingan yang lebih individual. Keberlanjutan program dapat didukung melalui kader kesehatan santri, penyesuaian menu dapur, dan skrining berkala.