Kompetensi dan efikasi diri perawat merupakan aspek penting dalam mendukung mutu asuhan keperawatan dan keselamatan pasien. Supervisi klinik yang terstruktur berperan dalam pengembangan profesional perawat, namun pelaksanaannya di rumah sakit masih cenderung berorientasi administratif dan belum terstandar. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas penerapan Model Supervisi Klinik Siklus Edukatif-Suportif-Administratif (ESA-C) terhadap kompetensi dan efikasi diri Perawat Klinis II. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental one-group pretest-posttest terhadap 49 responden Perawat Klinis II yang dipilih melalui total sampling di RSPAD Gatot Soebroto. Intervensi berupa penerapan supervisi klinik ESA-C yang mengintegrasikan fungsi edukatif, suportif, dan administratif selama 8 minggu. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Nurse Professional Competence Scale (NPC Scale) dan General Self-Efficacy Scale (GSES) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis menggunakan paired t-test dengan α = 0,05. Rata-rata kompetensi meningkat dari 4,12 menjadi 4,37 (p=0,023), sedangkan efikasi diri meningkat dari 3,21 menjadi 3,50 (p=0,001). Kualitas pelaksanaan supervisi meningkat pada seluruh fungsi ESA-C, dengan peningkatan paling menonjol pada fungsi edukatif (mean 5,76 menjadi 7,41). Terdapat hubungan positif antara kualitas supervisi ESA-C dengan kompetensi (r=0,283; p=0,049) dan efikasi diri (r=0,306; p=0,032). Penerapan supervisi klinik ESA-C efektif meningkatkan kompetensi dan efikasi diri Perawat Klinis II. Integrasi fungsi edukatif, suportif, dan administratif berpotensi menjadi pendekatan manajerial dalam memperkuat pembinaan kompetensi dan efikasi diri perawat secara berkelanjutan.