Chronic Kidney Disease (CKD) sering disertai penyakit komorbiditas kompleks, sehingga memerlukan strategi polifarmasi yang tepat dan aman. Evaluasi berkala pola peresepan sangat krusial dilakukan untuk mencegah komplikasi nefrotoksik sekunder, namun data epidemiologi klinik di wilayah rujukan kepulauan Maluku Utara masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik klinis, profil penyakit penyerta, dan pola terapi farmakologis pada pasien CKD dengan komplikasi. Desain penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif dijalankan di RSUD Dr. H. Chasan Boesoirie Ternate periode 2023–2025. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling hingga diperoleh sebanyak 72 pasien rawat jalan non-dialisis yang memenuhi kriteria inklusi. Subjek penelitian didominasi oleh kelompok laki-laki (53%), rentang usia 58–67 tahun (37%), dan sebagian besar berada pada fase awal-menengah atau stadium 2 (46%). Manifestasi penyakit komplikasi tertinggi yang dialami pasien adalah hipertensi (30%). Pola intervensi farmakologis utama didominasi oleh peresepan golongan antihipertensi renoprotektif (ARB/CCB), suplemen metabolik, dan antidiabetik. Penatalaksanaan CKD rawat jalan di rumah sakit ini dinilai cukup rasional dan berfokus pada intervensi sekunder untuk menunda progresi kegagalan organ. Implikasi klinis dari temuan ini menekankan pentingnya bagi tenaga kesehatan untuk melakukan pemantauan nilai klirens kreatinin berkala, penyesuaian dosis obat (dosing adjustment), serta pembatasan penggunaan obat lini tambahan yang berisiko nefrotoksik tinggi demi menjamin keamanan terapi pasien.