Kemampuan membaca siswa sekolah menengah pertama dibentuk oleh interaksi keterampilan bahasa, pengalaman pembelajaran, lingkungan literasi rumah, dan dukungan sekolah. Penelitian eksploratif ini bertujuan menggambarkan kemampuan membaca delapan siswa SMP Negeri 9 Palangka Raya dan mengestimasi keterkaitannya dengan persepsi pola asuh keluarga. Penelitian menggunakan desain potong lintang. Persepsi pola asuh diukur dengan angket 16 butir berskala empat respons, sedangkan kemampuan membaca diamati melalui pengenalan huruf, pengejaan, penggabungan kata, pembedaan huruf, dan pembacaan kombinasi huruf. Catatan observasi dikategorikan menjadi skor ordinal 1–4. Rata-rata skor pola asuh adalah 45.38 (SD = 6.41), sedangkan rata-rata skor membaca adalah 2.38 (SD = 0.74). Empat siswa berada pada kategori membaca cukup, tiga rendah, dan satu sangat rendah; tidak ada siswa pada kategori baik. Analisis Pearson yang dipertahankan dari rancangan awal menghasilkan korelasi positif tetapi tidak signifikan, r(6) = .356, p = .387, 95% CI [-.465, .848]. Interval yang sangat lebar menunjukkan bahwa data kompatibel dengan hubungan negatif sedang hingga positif kuat. Dengan demikian, penelitian ini tidak menyediakan bukti yang memadai tentang hubungan pola asuh dan kemampuan membaca, terlebih mengenai pengaruh kausal atau kecerdasan intelektual. Temuan terutama berguna sebagai pemetaan kebutuhan dukungan membaca individual. Penelitian berikutnya perlu menggunakan sampel yang memadai, instrumen tervalidasi, ukuran membaca kontinu, analisis nonparametrik atau ordinal, serta pengendalian faktor bahasa, pembelajaran, sosial ekonomi, dan riwayat kesulitan membaca.