Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dominasi India-Tiongkok dan emerging themes dalam riset emotion recognition: studi bibliometrik scopus Andri Dermawan; Ta Ali; Dedy Irfan; Hansi Effendi; Khayla Tsabita
Lentera Negeri Vol. 6 No. 2 (2025): Lentera Negeri
Publisher : Indonesian Institute For Counseling, Education and Therapy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/994110

Abstract

Pengenalan emosi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence-based emotion recognition) berkembang pesat seiring meluasnya penerapan pembelajaran mendalam pada domain suara, wajah, teks, dan sinyal multimodal. Meskipun jumlah publikasi meningkat tajam, peta struktur intelektual bidang ini siapa yang mendominasi, negara mana yang menjadi pusat kolaborasi, tema mana yang matang dan mana yang baru tumbuh belum banyak disajikan secara sistematis. Penelitian ini bertujuan memetakan perkembangan riset emotion recognition berbasis AI secara global melalui pendekatan bibliometrik. Data diperoleh dari basis data Scopus menggunakan kombinasi boolean yang menautkan istilah pengenalan emosi, metode kecerdasan buatan, dan modalitas emosi (wajah, suara, teks, multimodal), kemudian disaring berdasarkan tahun terbit (2021–2025), jenis dokumen (artikel), bahasa (Inggris), jenis sumber (jurnal), dan tahap publikasi (final), sehingga diperoleh 1.168 artikel dari 415 jurnal. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak Biblioshiny (Bibliometrix) dan VOSviewer, mencakup analisis tren produksi ilmiah, analisis sitasi, hukum Bradford, jejaring co-occurrence kata kunci, peta tematik, peta kolaborasi negara, serta model daur hidup dan pertumbuhan kumulatif publikasi. Hasil menunjukkan produksi ilmiah tahunan meningkat konsisten dari 102 artikel (2021) menjadi 368 artikel (2025), dengan proyeksi puncak siklus hidup topik pada pertengahan tahun 2026 (R² = 0,987). India (339 dokumen) dan Tiongkok (267 dokumen) menjadi kontributor paling produktif, sementara IEEE Access (86 dokumen), Multimedia Tools and Applications (55), dan Applied Sciences (38) menjadi jurnal inti sesuai hukum Bradford (13 jurnal inti, R² = 0,9843). Jejaring co-occurrence kata kunci mengidentifikasi tiga klaster utama speech emotion recognition/deep learning, convolutional neural network/face recognition, dan klaster deskriptor demografis (human, emotion) yang dikonfirmasi oleh peta tematik sebagai tema motor (motor themes) dengan sentralitas dan densitas tinggi. Studi ini memberikan peta terkini struktur intelektual bidang emotion recognition berbasis AI serta mengidentifikasi celah penelitian pada integrasi multimodal lintas budaya dan generalisasi lintas dataset sebagai agenda riset masa depan.
Virtual production dalam animasi digital: analisis bibliometrik mengungkap kesenjangan konseptualisasi dalam literatur global 2021-2025 Andri Dermawan; Fahmi Rizal; Rijal Abdullah; Muhammad Anwar; Khayla Tsabita
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 4 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30037000000

Abstract

Penelitian bibliometrik ini berfokus untuk memetakan struktur intelektual serta evolusi tematik dari virtual production dan persirisannya dengan industri animasi digital berdasarkan analisis terhadap 3.032 artikel jurnal terindeks Scopus pada rentang tahun 2021 hingga 2025. Hasil audit data menunjukkan adanya lonjakan tren publikasi yang sangat signifikan, yakni dari 343 dokumen pada tahun 2021 meningkat tajam menjadi 978 dokumen pada tahun 2025, dengan IEEE Transactions on Visualization and Computer Graphics tercatat sebagai sumber publikasi terbanyak. Melalui pemetaan co-occurrence kata kunci menggunakan VOSviewer, teridentifikasi beberapa klaster tematik yang mendominasi, seperti virtual reality, mixed reality, real-time rendering, deep learning, dan 3D reconstruction. Kendati demikian, temuan paling menarik dari studi ini mengungkapkan bahwa istilah "virtual production" secara eksplisit hanya muncul pada 5 dari total 3.032 dokumen atau sekitar 0,16% saja. Kondisi ini menyoroti adanya kesenjangan riset yang cukup lebar: sementara wacana ilmiah mengenai teknologi pendukungnya berkembang dengan pesat, konseptualisasi serta pelabelan eksplisit mengenai virtual production sebagai sebuah bidang kajian tersendiri—terutama dalam konteks industri animasi digital—masih sangat jarang diteliti secara langsung. Sebagai respons atas temuan tersebut, artikel ini mengusulkan agenda penelitian masa depan yang berorientasi pada penggabungan kajian teknis mutakhir seperti 3D Gaussian splatting dan digital twin dengan realitas praktik industri animasi. Melalui kontribusi ini, studi tersebut diharapkan mampu menghadirkan peta jalan konseptual yang komprehensif bagi para akademisi, praktisi, maupun pembuat kebijakan dalam mengarahkan pengembangan riset virtual production di masa mendatang.