Transformasi teknologi digital telah mengubah proses pembentukan pengetahuan keagamaan peserta didik, terutama melalui media sosial berbasis algoritma yang memengaruhi visibilitas, pengulangan, dan personalisasi informasi keagamaan. Artikel ini bertujuan menganalisis perubahan pembentukan pengetahuan keagamaan dalam lingkungan algoritmik, mengidentifikasi dialog konseptual antara conscientization Paulo Freire dan prinsip tabayyun dalam Islam, serta merekonstruksi kerangka pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan metode integrative literature review, analisis konseptual, analisis tematik, dan sintesis teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa conscientization menjadi landasan pedagogis dalam membangun kesadaran kritis, sedangkan tabayyun berfungsi sebagai landasan epistemologis dan etis untuk memverifikasi sumber, isi, konteks, otoritas, dan dampak informasi. Penelitian ini menawarkan Conscientization–Tabayyun Framework (CTF) yang terdiri atas lima tahap: kesadaran algoritmik, problem-posing, tabayyun, dialog dan refleksi kritis, serta praksis digital transformatif. Kerangka ini mendukung terbentuknya peserta didik yang kritis, reflektif, dan bertanggung jawab secara epistemik dalam lingkungan keagamaan digital.