Muhammad Jalzuli
Mahasiswa Prodi Teknik Sipil, Universitas Malikussaleh, Aceh, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Genangan Banjir pada Sungai Krueng Pasee di Zona Hilir Menggunakan HEC-RAS Muhammad Jalzuli; Fadhliani Fadhliani; T. Mudi Hafli; Fasdarsyah Fasdarsyah; Syibral Malasyi
Jurnal Rekayasa Sipil dan Teknologi Vol. 2 No. 2 (2026): September
Publisher : Universitas Malikussaleh, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jrst.v2i2.29039

Abstract

Sungai Krueng Pasee di Kabupaten Aceh Utara merupakan daerah aliran sungai yang rawan bencana banjir, terutama pada zona hilir yang mencakup Kecamatan Samudera dan sekitarnya. Peristiwa banjir berulang, termasuk kejadian pada September 2023, menimbulkan kerugian pada permukiman, lahan pertanian, dan sarana prasarana masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis luas dan ketinggian genangan banjir pada zona hilir Sungai Krueng Pasee menggunakan perangkat lunak HEC-RAS. Data yang digunakan meliputi curah hujan harian maksimum Stasiun Malikussaleh selama sepuluh tahun (2016–2025), data topografi DEMNAS, dan data tutupan lahan. Analisis hidrologi dilakukan dengan metode distribusi Log Pearson Type III yang diuji kesesuaiannya melalui uji Chi-Kuadrat dan Smirnov-Kolmogorov, dilanjutkan dengan penyusunan hujan jam-jaman menggunakan rumus Mononobe serta perhitungan debit banjir rancangan menggunakan Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Nakayasu untuk periode ulang 50 dan 100 tahun. Debit hasil analisis kemudian disimulasikan secara hidraulik dua dimensi dalam HEC-RAS. Hasil penelitian menunjukkan debit puncak banjir rancangan sebesar 1031,065 m³/detik untuk periode ulang 50 tahun (Q50) dan 1185,793 m³/detik untuk periode ulang 100 tahun (Q100). Simulasi genangan menghasilkan luas genangan sebesar 1,1379 km² pada Q50 dengan ketinggian genangan bervariasi antara 2–5 meter, serta luas genangan sebesar 2,883 km² pada Q100 dengan ketinggian genangan antara 2–7 meter. Hasil ini konsisten dengan informasi ketinggian banjir yang diperoleh dari wawancara masyarakat setempat. Penelitian ini menegaskan bahwa keterbatasan kapasitas penampang sungai menjadi faktor utama penyebab genangan, sehingga diperlukan upaya normalisasi sungai pada titik-titik kritis sebagai langkah mitigasi banjir di masa mendatang.