Fasdarsyah Fasdarsyah
Jurusan Teknik Sipil, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Studi Analisis Kehilangan Air pada Saluran Irigasi Sekunder Muara Batu Kabupaten Aceh Utara Andrian Andrian; Fasdarsyah Fasdarsyah; T. Mudi Hafli
Jurnal Rekayasa Sipil dan Teknologi Vol. 1 No. 1 (2025): March
Publisher : Universitas Malikussaleh, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jrst.v1i1.25278

Abstract

Daerah Irigasi Krueng Tuan memiliki luas 1.788 ha dengan luas fungsional 1.600 ha. Penelitian ini bertujuan menganalisis efisiensi dan kehilangan air pada jaringan irigasi sekunder yang terletak di Desa Meunasah Pulo, Meunasah Drang, dan Krueng Mane, Kabupaten Aceh Utara. Kerusakan pada penampang saluran seperti retakan menyebabkan meningkatnya kehilangan air pada saluran primer dan sekunder. Analisis dilakukan menggunakan metode perbandingan debit masuk dan debit keluar dengan data primer berupa pengukuran kecepatan aliran menggunakan current meter, serta data sekunder dari Dinas PUPR dan BMKG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehilangan air akibat evaporasi tertinggi terjadi pada saluran BMP2 sebesar 98,07%, akibat rembesan tertinggi pada saluran BMD2 sebesar 0,63%, dan akibat faktor lain tertinggi pada saluran BM3 sebesar 82,29%. Tingkat efisiensi saluran sekunder di Meunasah Pulo sebesar 21,07%, Meunasah Drang 36,05%, dan Krueng Mane 55,09%. Nilai ini jauh di bawah standar efisiensi normal saluran sekunder sebesar 90%, sehingga jaringan irigasi dinilai tidak efisien dan membutuhkan perbaikan menyeluruh. Kehilangan air terbesar disebabkan oleh kondisi fisik saluran yang rusak, seperti retakan akibat akar tanaman, tumpukan sampah, pertumbuhan liar, pengikisan dinding, dan kebocoran akibat kurangnya perawatan. Perbaikan dan pembersihan saluran diperlukan untuk meningkatkan efisiensi penyaluran air dan mendukung kebutuhan irigasi masyarakat sekitar.
Perbandingan Anggaran Biaya Menggunakan Analisis AHSP 2016 dan AHSP 2022 Rauzatul Munawarah; Muthmainnah Muthmainnah; Said Jalalul Akbar; Nura Usrina; Fasdarsyah Fasdarsyah
Jurnal Rekayasa Sipil dan Teknologi Vol. 2 No. 1 (2026): March
Publisher : Universitas Malikussaleh, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jrst.v2i1.26757

Abstract

Perencanaan anggaran biaya merupakan tahapan penting dalam pelaksanaan proyek konstruksi guna menjamin efisiensi, ketepatan perhitungan, dan pengendalian biaya. Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) pada proyek konstruksi di Indonesia umumnya mengacu pada Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) yang ditetapkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Seiring dengan perkembangan teknologi konstruksi, perubahan metode kerja, serta dinamika kondisi ekonomi, pemerintah melakukan pembaruan standar AHSP dari AHSP 2016 menjadi AHSP 2022. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi pembentukan koefisien alat dan tenaga kerja yang berdampak langsung pada besarnya anggaran biaya proyek. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pembentuk koefisien alat dan tenaga kerja antara AHSP 2016 dan AHSP 2022 serta menganalisis pengaruh perbedaan tersebut terhadap total anggaran biaya proyek konstruksi jalan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif komparatif dengan pendekatan studi kasus pada Proyek Preservasi Jalan Buket Rata. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang meliputi dokumen RAB, Bill of Quantity (BoQ), serta data harga bahan, upah tenaga kerja, dan biaya alat. Analisis dilakukan dengan menghitung kembali harga satuan pekerjaan berdasarkan kedua standar AHSP, kemudian membandingkan hasil total biaya yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada nilai koefisien alat dan tenaga kerja antara AHSP 2016 dan AHSP 2022 yang berdampak pada perubahan total anggaran biaya proyek. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan bahan pertimbangan bagi praktisi konstruksi dalam menyusun estimasi biaya yang lebih akurat dan sesuai dengan regulasi terbaru.
Analisis Stabilitas Lereng Jalan Tol Ruas Sigli - Banda Aceh Muhammad Iqbal Alfathan; Fasdarsyah Fasdarsyah; Lis Ayu Widari; Said Jalalul Akbar; Muthmainnah Muthmainnah
Jurnal Rekayasa Sipil dan Teknologi Vol. 2 No. 1 (2026): March
Publisher : Universitas Malikussaleh, Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jrst.v2i1.26465

Abstract

Pembangunan jalan tol sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional memerlukan perencanaan geoteknik yang cermat, khususnya pada pekerjaan timbunan di daerah dengan topografi tidak seragam. Salah satu permasalahan utama yang sering dihadapi adalah ketidakstabilan lereng timbunan akibat variasi sudut kemiringan dan penambahan beban konstruksi, yang berpotensi menimbulkan longsor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai faktor keamanan (safety factor) lereng timbunan pada proyek Jalan Tol Ruas Sigli–Banda Aceh STA 8+650 serta mengevaluasi pengaruh variasi sudut kemiringan lereng terhadap stabilitas timbunan sebelum dan sesudah pembebanan. Metode yang digunakan meliputi perhitungan manual dengan metode Bishop yang disederhanakan dan pemodelan numerik menggunakan perangkat lunak GeoStudio (Slope/W). Data penelitian berupa parameter tanah, geometri lereng, serta beban perkerasan dan lalu lintas diperoleh dari laporan geoteknik proyek. Hasil analisis lereng asli dengan sudut kemiringan 30° bahwa sebelum pembebanan nilai safety factor sebesar 2,32 untuk geostudio dan 2,30 untuk metode bishop, setelah ditambahkan pembebanan nilai faktor keamanan menurun menjadi 1,69 dan 1,67. Pada sudut kemiringan bervariasi menunjukkan kemiringan 25° nilai safety factor sebesar 2,66 dan terus menurun hingga 1,36 pada kemiringan 60° sebelum pembebanan, pola yang sama juga terjadi pada kondisi sesudah pembebanan, dimana nilai safety factor turun dari 1,93 pada kemiringan 25° menjadi 0,94 pada kemiringan 60°. Temuan ini menegaskan bahwa sudut kemiringan lereng merupakan parameter dominan dalam menentukan stabilitas timbunan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perencanaan lereng yang lebih landai diperlukan untuk menjaga keamanan konstruksi, serta merekomendasikan penelitian lanjutan dengan mempertimbangkan pengaruh muka air tanah, curah hujan, dan beban gempa.