Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Artificial Intelligence dan Kreativitas Siswa: Ketika Mesin Menjadi Partner Imajinasi Waode Nurmuhaemin
Almufi Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 2 No 3: November (2025)
Publisher : Yayasan Almubarak Fil Ilmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63821/ash.v2i3.661

Abstract

Kecerdasan buatan generatif membuka peluang baru bagi siswa untuk mengeksplorasi gagasan, mengembangkan alternatif, dan menghasilkan karya. Namun, kemudahan memperoleh keluaran dari mesin juga menimbulkan pertanyaan tentang orisinalitas, kepercayaan diri kreatif, dan posisi siswa dalam proses penciptaan. Artikel ini bertujuan menyintesis temuan penelitian mengenai hubungan antara penggunaan AI generatif dan kreativitas siswa. Penelitian menggunakan meta-sintesis kualitatif dengan sintesis tematik terhadap sepuluh artikel terpilih yang membahas kreativitas, pemecahan masalah kreatif, penulisan berbantuan AI, serta kolaborasi manusia dan mesin. Sintesis menghasilkan empat tema: AI sebagai pemantik ide dan perluasan kemungkinan; peran manusia dalam pemilihan, penilaian, dan pengembangan gagasan; risiko ketergantungan serta homogenisasi karya; dan kebutuhan akan desain pembelajaran yang menjaga agensi kreatif siswa. Temuan menunjukkan bahwa AI dapat membantu tahap awal penciptaan, terutama menghasilkan variasi dan mengembangkan gagasan, tetapi manfaat tersebut tidak otomatis menjamin kreativitas yang mendalam. Pembelajaran perlu menempatkan AI sebagai mitra eksplorasi, sementara siswa tetap bertanggung jawab merumuskan masalah, menilai keluaran, membuat keputusan, dan menyempurnakan karya.
Pendidikan di Era Krisis Iklim: dari Climate Literacy Menuju Climate Action Waode Nurmuhaemin
Almufi Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 3 No 2: Juli (2026)
Publisher : Yayasan Almubarak Fil Ilmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63821/ash.v3i2.662

Abstract

Krisis iklim menghadirkan tantangan pendidikan yang tidak cukup dijawab melalui penambahan informasi tentang pemanasan global ke dalam materi pelajaran. Peserta didik perlu memahami dasar ilmiah perubahan iklim, mengenali dampaknya dalam konteks kehidupan, menilai informasi secara kritis, serta memiliki ruang untuk terlibat dalam tindakan kolektif. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana literatur pendidikan menggambarkan pergeseran dari climate literacy menuju climate action dan mengidentifikasi kondisi pembelajaran yang mendukung pergeseran tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui sintesis tematik terhadap sepuluh sumber terpilih yang mencakup panduan kebijakan, laporan, dan publikasi ilmiah tentang pendidikan iklim. Analisis menghasilkan tiga tema: literasi iklim sebagai fondasi pemahaman dan penalaran; pembelajaran kontekstual dan partisipatif sebagai jembatan menuju tindakan; serta dukungan kelembagaan, kompetensi guru, dan kemitraan komunitas sebagai prasyarat keberlanjutan. Sintesis menunjukkan bahwa pengetahuan iklim penting, tetapi tidak otomatis menghasilkan tindakan. Pembelajaran perlu menghubungkan bukti ilmiah dengan pengalaman lokal, memberi kesempatan kepada peserta didik merancang solusi, dan menempatkan sekolah sebagai lingkungan yang mempraktikkan keberlanjutan. Artikel ini merekomendasikan integrasi pendidikan iklim lintas mata pelajaran, penguatan kapasitas guru, serta asesmen yang memperhatikan penalaran dan partisipasi, bukan hanya hafalan istilah.
Sekolah yang Membuat Siswa Merasa Dimiliki: School Belonging dan Kesejahteraan Peserta Didik Waode Nurmuhaemin
Almufi Journal of Measurement, Assessment, and Evaluation Education Vol 4 No 2: Desember (2024)
Publisher : Yayasan Almubarak Fil Ilmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rasa memiliki terhadap sekolah (school belonging) merujuk pada pengalaman siswa bahwa dirinya diterima, dihargai, dan menjadi bagian bermakna dari komunitas sekolah. Artikel ini bertujuan menganalisis bagaimana literatur pendidikan dan kesehatan remaja menjelaskan hubungan school belonging dengan kesejahteraan peserta didik serta mengidentifikasi kondisi sekolah yang mendukungnya. Penelitian menggunakan kajian literatur kualitatif dengan sintesis tematik terhadap sumber-sumber ilmiah terpilih, terutama publikasi tentang keterhubungan siswa dengan sekolah, kesehatan mental, iklim sekolah, dan partisipasi siswa. Sintesis menunjukkan bahwa school belonging dibentuk melalui kualitas relasi dengan guru dan teman sebaya, rasa aman, keadilan dalam perlakuan, kesempatan berpartisipasi, serta pengalaman diakui sebagai individu. Literatur mengaitkan keterhubungan sekolah dengan sejumlah indikator kesejahteraan, meskipun kekuatan hubungan dan hasilnya tidak selalu seragam. Karena itu, rasa memiliki tidak tepat diperlakukan sebagai program seremonial atau tanggung jawab siswa semata. Sekolah perlu membangun lingkungan sehari-hari yang membuat setiap peserta didik merasa terlihat, didengar, dan diperlakukan secara adil.
Kesenjangan Digital dalam Pendidikan: Meta-Sintesis Kualitatif Tentang Akses, Keterampilan, dan Kesetaraan Belajar Waode Nurmuhaemin
Almufi Jurnal Pendidikan Vol 4 No 3: Desember (2024)
Publisher : Yayasan Almubarak Fil Ilmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenjangan digital dalam pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan perangkat dan ketersediaan internet, tetapi juga mencakup keterampilan digital, pola pemanfaatan teknologi, dukungan lingkungan belajar, dan kemampuan mengubah akses menjadi manfaat pendidikan. Artikel ini bertujuan menyintesis temuan penelitian mengenai dimensi kesenjangan digital serta implikasinya terhadap kesempatan belajar. Penelitian menggunakan meta-sintesis kualitatif dengan sintesis tematik terhadap sepuluh artikel terpilih yang membahas pengalaman belajar digital, ketimpangan akses, kesiapan siswa dan sekolah, serta faktor sosial-ekonomi dan geografis. Hasil sintesis membentuk empat tema utama: akses terhadap perangkat dan konektivitas sebagai prasyarat, tetapi bukan jaminan; kesenjangan keterampilan dan kualitas penggunaan; pengaruh kondisi keluarga, wilayah, gender, dan dukungan institusi; serta konsekuensi ketimpangan digital terhadap partisipasi dan hasil belajar. Temuan menunjukkan bahwa penyediaan perangkat dan jaringan perlu disertai pengembangan literasi digital, dukungan guru, rancangan pembelajaran yang fleksibel, serta pemantauan berbasis kebutuhan. Kesenjangan digital lebih tepat dipahami sebagai persoalan keadilan pendidikan yang berlapis, bukan semata-mata persoalan teknis.
Pendidikan Karakter di Sekolah: Meta-Sintesis Kualitatif tentang Keteladanan, Budaya Sekolah, dan Internalisasi Nilai Waode Nurmuhaemin
Almufi Jurnal Pendidikan Vol 6 No 1: April (2026)
Publisher : Yayasan Almubarak Fil Ilmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter kerap dipahami sebagai program penanaman nilai melalui mata pelajaran atau kegiatan khusus. Namun, pembentukan karakter juga berlangsung melalui keteladanan guru, kebiasaan sehari-hari, relasi sosial, dan budaya sekolah. Artikel ini bertujuan menyintesis temuan penelitian mengenai proses internalisasi nilai karakter di lingkungan pendidikan. Penelitian menggunakan meta-sintesis kualitatif dengan sintesis tematik terhadap sepuluh artikel terpilih yang membahas praktik guru, budaya sekolah, pembelajaran, nilai moral, serta keterlibatan keluarga dan komunitas. Hasil sintesis menunjukkan empat tema utama: keteladanan dan agensi guru; pembiasaan dan budaya sekolah; integrasi nilai dalam pembelajaran; serta kemitraan sekolah, keluarga, dan komunitas. Temuan memperlihatkan bahwa pendidikan karakter tidak cukup dijalankan sebagai slogan atau daftar nilai. Nilai menjadi bermakna ketika diterjemahkan ke dalam praktik yang konsisten, relasi yang adil, kesempatan berdialog, dan lingkungan yang memberi ruang bagi siswa untuk mengambil keputusan moral. Penguatan pendidikan karakter memerlukan keselarasan antara kebijakan, perilaku orang dewasa, pengalaman belajar, dan kehidupan sosial sekolah.
Kemitraan Keluarga dan Sekolah: Membangun Kolaborasi yang Setara untuk Mendukung Pembelajaran Peserta Didik Waode Nurmuhaemin
Almufi Jurnal Pendidikan Vol 6 No 1: April (2026)
Publisher : Yayasan Almubarak Fil Ilmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemitraan keluarga dan sekolah merupakan bagian penting dalam membangun lingkungan belajar yang konsisten antara rumah dan sekolah. Artikel ini bertujuan mengkaji bagaimana literatur pendidikan menjelaskan bentuk, prasyarat, dan tantangan kemitraan keluarga–sekolah serta implikasinya bagi pembelajaran peserta didik. Penelitian menggunakan tinjauan literatur kualitatif dengan analisis tematik terhadap sepuluh sumber ilmiah terpilih yang membahas keterlibatan keluarga, komunikasi, kolaborasi, kesetaraan peran, dan konteks sosial-budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa kemitraan tidak cukup diukur melalui kehadiran orang tua dalam kegiatan sekolah. Kemitraan yang bermakna ditandai oleh komunikasi dua arah, kepercayaan, pengakuan terhadap pengetahuan keluarga, tujuan bersama, serta ruang bagi orang tua untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Literatur juga menunjukkan bahwa bentuk keterlibatan keluarga dipengaruhi oleh waktu, sumber daya, bahasa, pengalaman sekolah, dan norma budaya. Karena itu, rendahnya kehadiran dalam kegiatan formal tidak dapat langsung ditafsirkan sebagai ketidakpedulian terhadap pendidikan anak. Sekolah perlu membangun pola komunikasi yang fleksibel, inklusif, dan berorientasi pada hubungan, sekaligus menghindari pendekatan yang menyalahkan keluarga. Kajian ini menyimpulkan bahwa kemitraan yang setara memerlukan perubahan dari pola komunikasi satu arah menuju kolaborasi yang mengakui keluarga sebagai mitra pendidikan.
Literasi AI Siswa di Era Generative AI: Tantangan Pendidikan dari Pengguna Menjadi Pemikir Kritis Waode Nurmuhaemin
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i2.3412

Abstract

Literasi membaca merupakan fondasi pembelajaran karena memungkinkan siswa memahami informasi, membangun pengetahuan, dan menilai gagasan dalam berbagai konteks. Namun, kemampuan membaca tidak cukup dipahami sebagai kecakapan melafalkan kata. Siswa juga perlu menemukan gagasan utama, menghubungkan informasi, membuat inferensi, memahami kosakata, serta mengevaluasi isi bacaan. Artikel ini bertujuan mengkaji tantangan literasi membaca dalam pembelajaran dan mengidentifikasi faktor serta praktik pedagogis yang dibahas dalam literatur. Penelitian menggunakan tinjauan literatur kualitatif dengan sintesis tematik terhadap sebelas artikel jurnal yang relevan, mencakup kajian literasi sekolah dasar, pemahaman bacaan, kebiasaan membaca, pembelajaran digital, dan tantangan membaca akademik. Hasil sintesis menunjukkan bahwa kesulitan membaca bersifat berlapis: mencakup aspek kebahasaan dan kognitif, motivasi serta kebiasaan membaca, strategi pengajaran, dukungan keluarga, dan akses terhadap sumber bacaan. Teknologi dapat memperluas akses, tetapi manfaatnya bergantung pada tujuan penggunaan, pendampingan, dan kualitas bahan. Pembelajaran literasi perlu bergerak dari kegiatan membaca yang berorientasi pada penyelesaian tugas menuju praktik membaca aktif, dialogis, kontekstual, dan reflektif. Artikel ini menekankan pentingnya pengajaran strategi pemahaman secara eksplisit, pemilihan teks yang bermakna, pembiasaan membaca, serta kolaborasi sekolah dan keluarga.
Pendidikan Inklusif di Sekolah Reguler: Meta-Sintesis Kualitatif Tentang Hambatan, Dukungan, dan Pengalaman Belajar Waode Nurmuhaemin
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.3415

Abstract

Pendidikan inklusif menempatkan setiap peserta didik sebagai individu yang berhak memperoleh akses, partisipasi, dan dukungan belajar yang bermakna. Namun, penerimaan siswa berkebutuhan pendidikan khusus di sekolah reguler belum selalu diikuti perubahan sistem pembelajaran dan penyediaan dukungan yang memadai. Artikel ini bertujuan menyintesis temuan penelitian mengenai hambatan implementasi pendidikan inklusif, kesiapan guru, dukungan kelembagaan, serta pengalaman peserta didik. Penelitian menggunakan meta-sintesis kualitatif dengan pendekatan sintesis tematik terhadap sepuluh artikel jurnal terpilih yang membahas konteks Indonesia dan kajian internasional. Temuan dikelompokkan ke dalam tema kesiapan dan pengembangan kompetensi guru, keterbatasan sumber daya dan tenaga pendukung, adaptasi kurikulum dan pembelajaran, budaya sekolah serta sikap sosial, kolaborasi keluarga-profesional, dan suara peserta didik. Sintesis menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak dapat bergantung pada komitmen individual guru saja. Pelaksanaannya memerlukan kepemimpinan sekolah, pelatihan berkelanjutan, aksesibilitas lingkungan, dukungan tenaga ahli, serta mekanisme kolaborasi yang jelas. Pengalaman siswa juga perlu menjadi sumber utama evaluasi, karena keberadaan di kelas reguler belum tentu menjamin rasa memiliki, partisipasi, atau dukungan yang sesuai. Artikel ini menyimpulkan bahwa inklusi perlu dipahami sebagai transformasi sistem sekolah untuk mengurangi hambatan belajar dan partisipasi, bukan sekadar penempatan peserta didik dalam ruang kelas yang sama.
Kesejahteraan Guru di Tengah Tuntutan Pendidikan: Burnout, Beban Kerja, dan Dukungan Organisasi Sekolah Waode Nurmuhaemin
Arus Jurnal Pendidikan Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajup.v5i3.3410

Abstract

Kesejahteraan guru merupakan persoalan penting dalam keberlanjutan mutu pendidikan, tetapi sering diperlakukan sebagai tanggung jawab individual. Artikel ini menelaah literatur tentang hubungan kesejahteraan guru dengan burnout, beban kerja, dan dukungan organisasi sekolah. Penelitian menggunakan kajian literatur kualitatif dengan analisis tematik terhadap artikel jurnal relevan yang terbit pada 2022–2026. Sintesis menunjukkan bahwa kesejahteraan bersifat multidimensional; tuntutan kerja yang tinggi dapat menguras sumber daya psikologis; dukungan organisasi, kepemimpinan, otonomi, dan relasi kolegial dapat menjadi sumber daya pelindung; serta intervensi individual perlu disertai perbaikan sistemik. Artikel ini menegaskan bahwa kesejahteraan guru bukan sekadar kemampuan bertahan menghadapi tekanan, melainkan kondisi kerja yang perlu dibangun melalui tata kelola sekolah yang adil dan suportif.
Implementasi Kurikulum Merdeka: antara Fleksibilitas Kurikulum, Kesiapan Guru, dan Ketimpangan Dukungan Sekolah Waode Nurmuhaemin
Arus Jurnal Pendidikan Vol 6 No 2: Agustus (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajup.v6i2.3411

Abstract

Kurikulum Merdeka dirancang untuk memberi ruang lebih luas bagi satuan pendidikan dan guru dalam mengembangkan pembelajaran yang kontekstual, fleksibel, dan berpusat pada peserta didik. Namun, fleksibilitas kebijakan tidak otomatis menghasilkan perubahan praktik di kelas. Artikel ini bertujuan mengkaji bagaimana literatur menggambarkan implementasi Kurikulum Merdeka, terutama terkait pemahaman dan kesiapan guru, perencanaan pembelajaran, pembelajaran berdiferensiasi, asesmen, serta dukungan kelembagaan. Penelitian menggunakan tinjauan literatur kualitatif dengan sintesis tematik terhadap sepuluh artikel jurnal yang relevan, terutama terbit pada 2023–2025. Hasil sintesis menunjukkan bahwa implementasi berlangsung melalui proses adaptasi yang tidak seragam. Guru memperoleh peluang untuk merancang pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa, tetapi menghadapi tantangan dalam menerjemahkan capaian pembelajaran menjadi tujuan dan modul ajar, menerapkan diferensiasi di kelas besar, mengembangkan asesmen, serta memanfaatkan teknologi. Perbedaan fasilitas, pelatihan, kepemimpinan sekolah, dan akses terhadap sumber belajar turut membentuk variasi pelaksanaan. Artikel ini menegaskan bahwa keberhasilan Kurikulum Merdeka tidak cukup diukur dari dokumen administrasi atau status penerapan, melainkan dari perubahan pengalaman belajar siswa dan dukungan nyata bagi guru.