Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

A Simple Protocol for Managing Post-Operative Urinary Retention (POUR): An Experience and Evidence Fakhrizal, Edy; Maryuni, Sri Wahyu; Koerslo, Hamka; Novri, Dhini Aiyulie; Yuda, Dika Putra
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No 6 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6i6.4021

Abstract

Proposing a simple protocol in the management of urinary retention in postoperative patients that can provide promising results. Methods: We analyzed women who underwent pelvic organ prolapse surgery for 6 years from January 2018 to July 2023. The incidence of postoperative urinary retention was identified and we implemented a simple protocol and assessed its success rate.Result : There were 503 surgeries due to POP incidence in Arifin Achmad General Hospital, Riau Province - Indonesia for 6 years. One hundred sixteen cases (23 %) experienced POUR, with mean first residual urine was about 393 ml (110–1.200 ml). The protocol was applied, and 81 % cases revealed satisfying results. In successful group, the patients were discharged after 4±1 days. There were significant differences in the first residual urine between patients who were successfully treated with the simple protocol (350±227 ml) and patients requiring physiotherapy consultation (576±325 ml), with p = 0.005. Conclusion: Most cases of postoperative urinary retention can be managed using this protocol. So this protocol can be considered to be applied.
Analisis Faktor Risiko Prolaps Organ Panggul Pada Pasien Ginekologi di RSUD Arifin Achmad: Studi Retrospektif 2022–2025 Sihotang, Jojor; Fakhrizal, Edy; Maryuni, Sri Wahyu; Hutagaol, Imelda E.B; Bagariang, Agnes Regina; Sitangang, Clarentia; Butarbutar, Artia Martha Vania
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 12, No 3 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.114434

Abstract

Latar Belakang: Prolaps organ panggul (POP) merupakan kondisi ginekologis yang signifikan menurunkan kualitas hidup perempuan, terutama pada populasi lanjut usia dan multipara. Prevalensi globalnya diperkirakan mencapai 30,9% (95% CI 24,4–38,2%). Di Indonesia, khususnya di rumah sakit rujukan regional seperti RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau, data epidemiologis komprehensif mengenai POP dan faktor risikonya masih sangat terbatas, sehingga menghambat pengembangan strategi pencegahan dan tata laksana klinis yang tepat sasaran.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor risiko demografis dan klinis utama yang berhubungan dengan POP serta menganalisis hubungan faktor risiko dengan pola diagnosis prolaps organ panggul (sistokel, rektokel, dan prolaps uteri) pada pasien ginekologi yang ditangani di RSUD Arifin Achmad periode 2022–2025.Metode: Studi analitik potong lintang retrospektif dilakukan dengan menggunakan rekam medis pasien ginekologi yang didiagnosis POP. Variabel yang diekstraksi meliputi usia, paritas, jenis persalinan, status menopause, indeks massa tubuh (IMT), dan riwayat penyakit kronis. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, analisis bivariat dengan uji chi-square, dan regresi logistik multivariat untuk menentukan faktor risiko independen.Hasil dan Pembahasan: Analisis terhadap 515 rekam medis pasien ginekologi menunjukkan bahwa diagnosis prolaps organ panggul yang paling banyak ditemukan adalah rektokel. Mayoritas pasien berada pada kelompok usia ≥50 tahun, telah memasuki masa menopause, dan memiliki status multiparitas. Temuan ini menunjukkan bahwa prolaps organ panggul bersifat multifaktorial dan lebih dipengaruhi oleh faktor obstetri.Kesimpulan: POP merupakan kondisi multifaktorial yang sangat berkaitan dengan usia, paritas, persalinan pervaginam, menopause, dan obesitas pada populasi kami. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya langkah pencegahan terstruktur seperti pelatihan otot dasar panggul, program pengelolaan berat badan, dan edukasi pasien yang ditargetkan untuk kelompok berisiko tinggi. Studi ini menyediakan dasar bukti penting bagi pengembangan pedoman klinis dan intervensi kesehatan masyarakat di bidang uroginekologi di tingkat lokal.
Septate Uterus: Implications in Malpresentation and Infertility History Maryuni, Sri Wahyu; Anakita, Cantika
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.897

Abstract

Introduction: A septate uterus is a congenital uterine anomaly linked to increased risks of infertility, recurrent miscarriage, and fetal malpresentation. Although often asymptomatic, it may significantly affect pregnancy outcomes. Early diagnosis and management are vital to reduce complications.Case Report: This case was conducted at Siak Hospital involving a 38-year-old G4P0A3 woman presenting with preterm labor. A partial uterine septum was identified during an emergency cesarean section. The patient had a history of multiple miscarriages. Ultrasound revealed a transverse fetal position with oligohydramnios, prompting cesarean delivery of a 1700-gram neonate. Both maternal recovery and neonatal progress were favorable.Conclusion: This case highlights the importance of individualized care in pregnancies complicated by uterine anomalies. While pre-conception surgical correction may improve outcomes, antenatal diagnosis requires close monitoring. Decisions regarding preterm termination depend on fetal presentation, amniotic fluid, and placental function. Imaging modalities support delivery planning. Although routine screening is not universal, it should be considered in women with recurrent loss or infertility. Multidisciplinary management is essential to optimize maternal and neonatal outcomes. Continued research is needed to establish standardized guidelines for managing pregnancies with septate uterus. AbstrakPendahuluan: Septum uteri adalah kelainan bawaan pada uterus yang berhubungan dengan peningkatan risiko infertilitas, keguguran berulang, dan malpresentasi janin. Meskipun sering tanpa gejala, kondisi ini dapat berdampak signifikan terhadap luaran kehamilan. Deteksi dan penanganan dini penting untuk mencegah komplikasi.Laporan Kasus: Laporan kasus ini dilakukan di RSUD Siak, pada seorang wanita G4P0A3 usia 38 tahun yang datang dengan persalinan prematur. Saat operasi sesar emergensi ditemukan adanya septum uterus parsial. Riwayat kehamilan menunjukkan keguguran berulang. Ultrasonografi menunjukkan posisi janin melintang dan oligohidramnion sehingga dilakukan tindakan sesar dengan bayi perempuan lahir seberat 1700gram. Pemulihan ibu dan bayi berjalan stabil.Kesimpulan: Kasus ini menekankan pentingnya tata laksana individual pada kehamilan dengan kelainan rahim. Koreksi bedah sebelum kehamilan dapat memperbaiki prognosis, namun jika terdiagnosis saat hamil, diperlukan pemantauan ketat. Keputusan terminasi prematur bergantung pada posisi janin, jumlah cairan ketuban, dan fungsi plasenta. Modalitas pencitraan canggih membantu perencanaan persalinan. Skrining rahim tidak wajib untuk semua wanita, namun perlu dipertimbangkan pada kasus infertilitas atau keguguran berulang. Pendekatan multidisiplin diperlukan untuk meningkatkan hasil ibu dan bayi. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menetapkan panduan tata laksana yang baku.