Anakita, Cantika
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

OSCS (One Step Conservative Surgery) vs MOSCUS (Modified One Step Conservative Uterine Surgery) for Placenta Accreta Spectrum (PAS) Surgery, Which One Is More Preferred? A Literature Review Anakita, Cantika; Simanjuntak, Arya Marganda; S., Donel; Noviardi, Noviardi; Razali, Renardy Reza
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.898

Abstract

Introduction: Placenta Accreta Spectrum (PAS) is a severe obstetric complication causing hemorrhage, maternal morbidity, and mortality. Two widely adopted approaches to treatment are OSCS and MOSCUS. This literature review compares OSCS and MOSCUS to provide evidence-based insights for optimizing PAS treatment.Objective: This study aims to compare the preferred conservative uterine surgical approaches in the management of Placenta Accreta Spectrum (PAS).Methods: A literature review was undertaken following the scale assessment of narrative review articles (SANRA). We utilized various databases to evaluate current evidence for OSCS and MOSCUS in treating PAS. Relevant articles were reviewed to perform a comparative analysis between OSCS and MOSCUS in order to address the objective.Result: The key difference between OSCS and MOSCUS lies in bleeding control by optimal uterine reconstruction with transverse b-lynch suture and selective vascular ligation. While OSCS is ideal for simpler cases due to its efficiency and practicality, MOSCUS is better suited for complex PAS cases, offering reduced complications and improved outcomes.Conclusion: MOSCUS may be preferable to OSCS in terms of technique with optimal uterine reconstruction by adding several techniques to potentially preserve the uterus. More comparative research between the two required to evaluate the results prospectively. AbstrakPendahuluan: Placenta Accreta Spectrum (PAS) merupakan komplikasi obstetri berat yang menyebabkan perdarahan, morbiditas dan mortalitas ibu. Dua pendekatan yang banyak diadopsi adalah OSCS dan MOSCUS. Tinjauan literatur ini membandingkan OSCS dan MOSCUS untuk memberikan wawasan berbasis bukti untuk mengoptimalkan tatalaksana PASTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pilihan tindakan bedah uterus konservatif yang lebih disukai dalam penatalaksanaan Placenta Accreta Spectrum (PAS).Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tinjauan literatur yang mengikuti penilaian kualitas SANRA. Kami menggunakan berbagai basis data untuk mengevaluasi bukti terkini OSCS dan MOSCUS dalam tatalaksana PAS. Artikel didiskusikan untuk membuat tinjauan yang komprehensif dan membuat analisis komparatif antara OSCS dan MOSCUS untuk menjawab tujuan penelitian.Hasil: Perbedaan antara OSCS dan MOSCUS bergantung pada kontrol perdarahan dengan rekonstruksi uterus yang optimal dengan jahitan b-lynch melintang dan ligasi pembuluh darah selektif. OSCS ideal untuk kasus-kasus yangKesimpulan: MOSCUS dapat menjadi pilihan dibandingkan dengan OSCS dalam hal teknik dengan rekonstruksi rahim yang optimal dengan menambahkan beberapa teknik yang berpotensi mempertahankan rahim. Penelitian komparatif lebih lanjut antara keduanya diperlukan untuk mengevaluasi hasilnya secara prospektif. 
Septate Uterus: Implications in Malpresentation and Infertility History Maryuni, Sri Wahyu; Anakita, Cantika
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.897

Abstract

Introduction: A septate uterus is a congenital uterine anomaly linked to increased risks of infertility, recurrent miscarriage, and fetal malpresentation. Although often asymptomatic, it may significantly affect pregnancy outcomes. Early diagnosis and management are vital to reduce complications.Case Report: This case was conducted at Siak Hospital involving a 38-year-old G4P0A3 woman presenting with preterm labor. A partial uterine septum was identified during an emergency cesarean section. The patient had a history of multiple miscarriages. Ultrasound revealed a transverse fetal position with oligohydramnios, prompting cesarean delivery of a 1700-gram neonate. Both maternal recovery and neonatal progress were favorable.Conclusion: This case highlights the importance of individualized care in pregnancies complicated by uterine anomalies. While pre-conception surgical correction may improve outcomes, antenatal diagnosis requires close monitoring. Decisions regarding preterm termination depend on fetal presentation, amniotic fluid, and placental function. Imaging modalities support delivery planning. Although routine screening is not universal, it should be considered in women with recurrent loss or infertility. Multidisciplinary management is essential to optimize maternal and neonatal outcomes. Continued research is needed to establish standardized guidelines for managing pregnancies with septate uterus. AbstrakPendahuluan: Septum uteri adalah kelainan bawaan pada uterus yang berhubungan dengan peningkatan risiko infertilitas, keguguran berulang, dan malpresentasi janin. Meskipun sering tanpa gejala, kondisi ini dapat berdampak signifikan terhadap luaran kehamilan. Deteksi dan penanganan dini penting untuk mencegah komplikasi.Laporan Kasus: Laporan kasus ini dilakukan di RSUD Siak, pada seorang wanita G4P0A3 usia 38 tahun yang datang dengan persalinan prematur. Saat operasi sesar emergensi ditemukan adanya septum uterus parsial. Riwayat kehamilan menunjukkan keguguran berulang. Ultrasonografi menunjukkan posisi janin melintang dan oligohidramnion sehingga dilakukan tindakan sesar dengan bayi perempuan lahir seberat 1700gram. Pemulihan ibu dan bayi berjalan stabil.Kesimpulan: Kasus ini menekankan pentingnya tata laksana individual pada kehamilan dengan kelainan rahim. Koreksi bedah sebelum kehamilan dapat memperbaiki prognosis, namun jika terdiagnosis saat hamil, diperlukan pemantauan ketat. Keputusan terminasi prematur bergantung pada posisi janin, jumlah cairan ketuban, dan fungsi plasenta. Modalitas pencitraan canggih membantu perencanaan persalinan. Skrining rahim tidak wajib untuk semua wanita, namun perlu dipertimbangkan pada kasus infertilitas atau keguguran berulang. Pendekatan multidisiplin diperlukan untuk meningkatkan hasil ibu dan bayi. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menetapkan panduan tata laksana yang baku.
EDUKASI HIV BERBASIS SEKOLAH UNTUK PENCEGAHAN PERILAKU BERISIKO PADA REMAJA Andri, Sofyan; Simanjuntak, Asnika Putri; Novri, Dhini Aiyulie; Anakita, Cantika; S., Donel; Razali, Renardy Reza
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.37760

Abstract

Abstrak: Remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap risiko penularan HIV akibat keterbatasan pengetahuan dan masih adanya sikap serta perilaku berisiko. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan HIV pada remaja melalui edukasi berbasis sekolah. Metode yang digunakan berupa penyuluhan dan diskusi interaktif tentang HIV yang dilaksanakan kepada 240 siswa sebagai mitra kegiatan. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan HIV setelah kegiatan, yang terdiri dari 61 pertanyaan. Hasil menunjukkan bahwa 52,5% peserta memiliki tingkat pengetahuan baik, 58,8% menunjukkan sikap positif terhadap pencegahan HIV, dan 84,6% telah menerapkan perilaku pencegahan yang baik. Capaian ini menunjukkan bahwa edukasi HIV berbasis sekolah berkontribusi positif dalam memperkuat literasi kesehatan dan mendorong pencegahan perilaku berisiko pada remaja. Program ini berpotensi menjadi model intervensi promotif dan preventif di lingkungan sekolah.Abstract: Adolescents are a vulnerable group for HIV transmission due to limited knowledge and the persistence of risky attitudes and behaviors. This community service program aimed to enhance knowledge, attitudes, and HIV preventive behaviors among adolescents through school-based education. The program was conducted through health education sessions and interactive discussions involving 240 students as program partners. Evaluation was carried out using a questionnaire assessing knowledge, attitudes, and HIV-related preventive behaviors after the activity, consisting of 61 questions. The results indicated that 52.5% of participants had good knowledge, 58.8% demonstrated positive attitudes toward HIV prevention, and 84.6% reported good preventive behaviors. These findings suggest that school-based HIV education contributes to improved health literacy and supports the reduction of risky behaviors among adolescents. This program has the potential to serve as a promotive and preventive model for HIV education in school settings.