p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Serina Abdimas
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMERIKSAAN CARCINOEMBRYONIC ANTIGEN (CEA) UNTUK DETEKSI AWAL RISIKO KEGANASAN PADA POPULASI LANSIA Sony Sugiharto; Alexander Halim Santoso; Muhammad Fikri Dzakwan; Diana Dinali
Jurnal Serina Abdimas Vol 4 No 3 (2026): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v4i3.38810

Abstract

Cancer is one of the leading causes of morbidity and mortality among older adults. The risk of malignancy increases with advancing age due to the accumulation of genetic damage, impaired DNA repair mechanisms, and age-related decline in immune function. Nevertheless, many cancers in older adults are diagnosed at advanced stages because of nonspecific clinical manifestations and limited participation in screening programs. This community service program aimed to facilitate the early detection of malignancy risk through carcinoembryonic antigen (CEA) screening combined with community-based health education. The program was conducted using the Plan–Do–Check–Act (PDCA) approach, encompassing biomarker screening, health education, evaluation, and appropriate follow-up. A total of 38 older adults with a mean age of 77.29±7.49 years participated, including 29 women (76.3%) and 9 men (23.7%). Blood samples were collected to assess CEA levels, a biomarker associated with several types of malignancies. The results demonstrated that all participants (100%) had negative CEA findings, and no positive cases were identified. These findings indicate the absence of elevated CEA levels suggestive of malignancy based on the parameter assessed at the time of screening. In addition, participants received education regarding cancer risk factors, the importance of early detection, warning signs of malignancy, and healthy lifestyle practices. This program demonstrates that community-based CEA screening may support health promotion and preventive efforts by improving cancer awareness and facilitating early identification of individuals at potential risk for malignancy among older adults. Abstrak Kanker merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada populasi lansia. Risiko keganasan meningkat seiring bertambahnya usia akibat akumulasi kerusakan genetik, penurunan mekanisme perbaikan DNA, serta perubahan fungsi sistem imun yang terjadi selama proses penuaan. Namun, banyak kasus kanker pada lansia terdiagnosis pada stadium lanjut karena gejala yang tidak spesifik dan rendahnya partisipasi dalam program skrining. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan melakukan deteksi dini risiko keganasan melalui pemeriksaan carcinoembryonic antigen (CEA) yang dikombinasikan dengan edukasi kesehatan berbasis komunitas. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA) yang mencakup skrining biomarker, penyuluhan kesehatan, evaluasi hasil, dan tindak lanjut sesuai kebutuhan peserta. Sebanyak 38 lansia dengan rerata usia 77,29±7,49 tahun mengikuti kegiatan, terdiri atas 29 perempuan (76,3%) dan 9 laki-laki (23,7%). Pemeriksaan dilakukan menggunakan sampel darah vena untuk menilai kadar CEA sebagai biomarker yang berkaitan dengan berbagai jenis keganasan. Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh peserta (100%) memiliki hasil CEA negatif dan tidak ditemukan peserta dengan hasil positif. Temuan ini menunjukkan tidak adanya peningkatan kadar CEA yang mengarah pada kecurigaan proses keganasan berdasarkan parameter yang diperiksa pada saat kegiatan berlangsung. Selain pemeriksaan laboratorium, peserta memperoleh edukasi mengenai faktor risiko kanker, pentingnya deteksi dini, gejala yang perlu diwaspadai, serta penerapan gaya hidup sehat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa skrining CEA berbasis komunitas dapat mendukung upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan kesadaran kesehatan serta deteksi dini risiko keganasan pada lansia.
PEMERIKSAAN SPIROMETRI SEBAGAI UPAYA SKRINING GANGGUAN VENTILASI PARU PADA POPULASI LANSIA Enny Irawaty; Alexander Halim Santoso; Ayleen Nathalie Jap; Stanislas Kotska Marvel Mayello Teguh
Jurnal Serina Abdimas Vol 4 No 3 (2026): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v4i3.38858

Abstract

Age-related physiological changes in the respiratory system contribute to a progressive decline in lung function and increase the risk of ventilatory impairment among older adults. This community service program aimed to conduct spirometry-based screening for the early detection of pulmonary ventilatory disorders in older adults. The program was implemented using the Plan–Do–Check–Act (PDCA) approach, integrating spirometry examinations with respiratory health education. A total of 38 older adults with a mean age of 77.29±7.49 years participated in the program. The mean Forced Vital Capacity (FVC) was 47.97±20.12%, while the mean Forced Expiratory Volume in One Second (FEV₁) was 56.63±23.62%. The mean FEV₁/FVC ratio was 1.20±0.17. Reduced FVC and FEV₁ values indicated a decline in ventilatory capacity among a proportion of participants, whereas the relatively preserved FEV₁/FVC ratio suggested that airflow obstruction was not the predominant pattern. Community-based spirometry screening combined with health education may facilitate early identification of respiratory impairment and improve awareness of strategies for maintaining lung health. Such an approach may contribute to preserving functional capacity, independence, and quality of life among older adults. ABSTRAK Perubahan fisiologis sistem respirasi akibat proses penuaan dapat menyebabkan penurunan fungsi paru dan meningkatkan risiko gangguan ventilasi pada lansia. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan melakukan skrining fungsi paru menggunakan spirometri sebagai upaya deteksi dini gangguan ventilasi paru pada lansia. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA) yang mengintegrasikan pemeriksaan spirometri dan edukasi kesehatan respirasi. Sebanyak 38 lansia dengan rerata usia 77,29±7,49 tahun mengikuti kegiatan. Parameter yang diperiksa meliputi Forced Vital Capacity (FVC), Forced Expiratory Volume in One Second (FEV₁), dan rasio FEV₁/FVC. Hasil pemeriksaan menunjukkan rerata nilai FVC sebesar 47,97±20,12%, FEV₁ sebesar 56,63±23,62%, dan rasio FEV₁/FVC sebesar 1,20±0,17. Nilai FVC dan FEV₁ yang rendah menunjukkan adanya penurunan kapasitas ventilasi paru pada sebagian peserta, sedangkan rasio FEV₁/FVC mengindikasikan bahwa gangguan obstruktif bukan merupakan pola dominan. Skrining spirometri berbasis komunitas yang disertai edukasi kesehatan berpotensi mendukung deteksi dini gangguan respirasi, meningkatkan kesadaran kesehatan paru, serta membantu mempertahankan kapasitas fungsional dan kualitas hidup lansia.