Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Adaptasi dan Transformasi Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Popodu Sejak Krisis Moneter (1998–2023) Febriana Eka Putri Rahmat; Tonny Iskandar Mondong; Renol Hasan
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 4 (2026): Oktober
Publisher : CV Putra Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/isihumor.v4i4.2499

Abstract

Dinamika sosial ekonomi masyarakat pedesaan kerap diuji oleh guncangan nasional seperti krisis moneter 1998 dan tantangan arus modernisasi. Mengambil fokus di Desa Popodu, Bolaang Mongondow Selatan, kajian ini menelusuri riwayat perekonomian masyarakat sekaligus menganalisis proses adaptasi mereka sepanjang rentang tahun 1998 hingga 2023. Menggunakan metode penelitian sejarah melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi, data historis dalam kajian ini digali dari arsip RPJMDes, Profil Desa 2023, catatan statistik BPS Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan 2022–2023, serta wawancara mendalam bersama tokoh masyarakat dan pelaku ekonomi setempat. Analisis terhadap sumber-sumber tersebut memperlihatkan pola ketahanan ekonomi berbasis lokal yang kuat, yang diindikasikan secara konkret oleh konsistensi warga mempertahankan profesi utamanya saat krisis serta tren produktivitas panen yang terus bertumbuh. Saat menghadapi lonjakan inflasi dan pelemahan rupiah pada 1998, masyarakat tidak mengubah profesi secara drastis, melainkan bertahan pada pekerjaan utama di sektor pertanian dan perikanan sambil mengoptimalkan perdagangan sebagai penyokong pendapatan alternatif. Sektor pertanian terbukti terus bertumbuh, terlihat dari peningkatan produksi padi dari 5.742,75 ton pada 2021 menjadi 8.177,58 ton pada 2022. Memasuki era modernisasi, struktur ekonomi desa semakin beragam lewat pertumbuhan UMKM dan adopsi teknologi berupa media sosial serta platform pembayaran digital, meski penggunaannya belum merata di seluruh kalangan warga. Perubahan ini juga berjalan beriringan dengan membaiknya tingkat pendidikan dasar hingga menengah serta akses ke fasilitas kesehatan dasar. Kesimpulannya, daya tahan ekonomi Desa Popodu bertumpu pada penguasaan mata pencaharian tradisional yang perlahan berintegrasi ke dalam ekosistem digital
Dari Tradisional ke Digital: Transformasi dan Adaptasi Ekonomi di Desa Popodu Pasca-Krisis Febriana Eka Putri Rahmat; Tonny Iskandar Mondong; Renol Hasan
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.14007

Abstract

Krisis moneter nasional tahun 1998 memberikan dampak kelumpuhan yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia, termasuk menyasar masyarakat pedesaan yang rentan. Desa Popodu di Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, merupakan potret nyata komunitas pedesaan dengan karakteristik agraris dan maritim yang harus berhadapan dengan hantaman tersebut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika pemulihan sosial-ekonomi masyarakat Desa Popodu pasca-krisis serta memetakan proses adaptasi ekonomi dari pola tradisional menuju pemanfaatan teknologi digital. Metode: Penelitian ini menggunakan metode sejarah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka (literatur relevan) dan wawancara semi-terstruktur dengan para pelaku ekonomi lokal (petani, nelayan, dan pedagang) di Desa Popodu. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masa awal pasca-krisis, masyarakat Desa Popodu membangun ketahanan ekonomi lewat optimalisasi sektor mata pencaharian tradisional, dengan dominasi peralihan ke sektor perdagangan lokal akibat hambatan geografis wilayah maritim. Memasuki era modern, lanskap ekonomi desa bertransformasi melalui akselerasi digital. Pelaku usaha mulai mengadopsi peralatan modern, memanfaatkan media sosial sebagai media distribusi eksternal, hingga menerapkan teknologi keuangan (FinTech/payment gateway) untuk efisiensi transaksi. Kesimpulan: Meskipun pemerataan teknologi masih menghadapi kendala aksesibilitas infrastruktur lokal, transformasi ekonomi dari pola tradisional ke digital ini terbukti mampu memperluas jangkauan pasar, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat kapasitas adaptasi ekonomi desa terhadap guncangan makroekonomi di masa depan.