Batik Muara Takus merupakan salah satu komoditas ekonomi kreatif unggulan berbasis warisan budaya lokal yang berkembang di Kecamatan Bangkinang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Walaupun memiliki keunikan motif bernilai historis dan estetika tinggi yang terinspirasi dari situs cagar budaya Candi Muara Takus dan ornamen Melayu, mitra pengrajin (K.U.B Maju Jaya Bersama) dihadapkan pada kendala mendasar pada rantai hulu hingga hilir, meliputi teknik produksi manual yang lambat, keterbatasan alat, tidak adanya standarisasi mutu (SOP), pencatatan keuangan yang belum tertib, serta jangkauan pemasaran yang terbatas pada pasar lokal. Kegiatan Pengabdian Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi, memperbaiki tata kelola keuangan usaha, serta memperluas penetrasi pasar melalui difusi teknologi tepat guna dan digital marketing berbasis kearifan lokal. Metode pelaksanaan mengadopsi pendekatan partisipatif yang terbagi dalam lima tahapan terstruktur selama 8 bulan: persiapan dan Focus Group Discussion (FGD), pelatihan teknis dan manajerial, penerapan teknologi tepat guna (kompor batik listrik, cetakan cap komplementer, platform digital), pendampingan intensif dan evaluasi berbasis indikator terukur, serta penjaminan keberlanjutan usaha mandiri. Hasil kegiatan membuktikan peningkatan kapasitas produksi mitra lebih dari 30% per bulan, penurunan tingkat cacat pewarnaan di bawah 5%, terpisahnya keuangan usaha dan rumah tangga dengan formulasi Harga Pokok Penjualan (HPP) yang presisi, serta aktifnya saluran pemasaran daring pada media sosial dan lokapasar nasional. Program ini berhasil mewujudkan transformasi UMKM batik yang adaptif, berdaya saing tinggi, dan mandiri secara berkelanjutan.