Elshadai Charis Hariyanto
Sekolah Tinggi Teologi Kristus Alfa Omega

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Urgensi Pelatihan Penginjilan Kreatif Kepada Anak bagi Mahasiswa STT KAO dalam Rangka Mengimplementasikan Amanat Agung Eni Rombe; Elshadai Charis Hariyanto; Ragil Kristiawan
Tikkun-Olam: Jurnal Penelitian & PKM Vol 3, No 1 (2026): Tikkun-Olam: Jurnal Penelitian & PKM - April 2026
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/jto.v3i1.310

Abstract

A mission gap occurred at STT KAO when the spirit of the Great Commission, which serves as the institution's lifeblood, was not accompanied by adequate attention to children's evangelism. Students focused more on evangelism among adults while children's ministry was neglected. This Community Service activity aimed to equip students with biblical understanding of children's evangelism, awareness of children's world and spiritual needs, and creative skills to communicate the Gospel effectively and relevantly. The implementation method consisted of a preparation stage through literature study to develop training materials, and an implementation stage using interactive lectures supported by engaging PowerPoint presentations. The training materials covered two main sessions: the theological foundation of children's evangelism and the practice of creative methods. Evaluation results from 22 participants showed very high satisfaction levels, with the majority of respondents giving the highest scores to all aspects, including material relevance, ease of understanding, practical solutions, speaker competency, and increased participant understanding. Qualitative testimonies revealed that the training not only transferred knowledge but also touched students' affective awareness to engage in children's ministry. This activity successfully bridged the mission gap and prepared students to implement the Great Commission comprehensively across all generations.AbstrakKesenjangan misi terjadi di STT KAO ketika semangat Amanat Agung yang menjadi nafas hidup kampus tidak diimbangi dengan perhatian terhadap penginjilan anak. Mahasiswa lebih terfokus pada penginjilan orang dewasa, sementara pelayanan anak terabaikan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman alkitabiah tentang penginjilan anak, kesadaran akan dunia dan kebutuhan rohani anak, serta keterampilan kreatif menyampaikan Injil secara efektif. Metode pelaksanaan terdiri atas tahap persiapan melalui studi pustaka untuk menyusun bahan pelatihan, dan tahap pelaksanaan menggunakan ceramah interaktif berbantuan PowerPoint yang menarik. Materi pelatihan mencakup dua sesi utama, yaitu fondasi teologis penginjilan anak dan praktik metode kreatif. Hasil evaluasi dari 22 peserta menunjukkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi, dengan mayoritas responden memberikan penilaian tertinggi pada seluruh aspek, meliputi kesesuaian materi, kemudahan pemahaman, solusi praktis, kompetensi narasumber, serta peningkatan pemahaman peserta. Testimoni kualitatif mengungkapkan bahwa pelatihan tidak hanya mentransfer pengetahuan tetapi juga menyentuh kesadaran afektif mahasiswa untuk terlibat dalam pelayanan anak. Kegiatan ini berhasil menjembatani kesenjangan misi dan mempersiapkan mahasiswa mengimplementasikan Amanat Agung secara utuh kepada semua generasi.
Analisis Komparatif Tujuan Pendidikan Amsal 1:1-7 dan Pemikiran Ki Hajar Dewantara untuk Pendidikan Tinggi Teologi di Indonesia Eni Rombe; Ragil Kristiawan; Elshadai Charis Hariyanto
Manthano: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 5 No 1 (2026): Maret
Publisher : Institut Kristen Teologi REAL Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/fcvg4x16

Abstract

Abstract: This study aims to compare the concept of educational objectives in Proverbs 1:1-7 with the thoughts of Ki Hajar Dewantara, and to formulate their implications for higher education in Indonesia. Employing a qualitative approach with library research methods, primary data sources include Proverbs 1:1-7 and Ki Hajar Dewantara's works, while secondary data are derived from relevant theological and pedagogical literature. Data analysis was conducted using qualitative content analysis and comparative approaches. The findings reveal that Proverbs 1:1-7 emphasises "the fear of the Lord" as the foundation of education oriented toward forming wise, just, and honest individuals. Ki Hajar Dewantara's thoughts emphasise education that liberates humans through a balance of thought, feeling, physical development, and heart, rooted in the nation's cultural values. The convergence of both concepts lies in their holistic vision and rejection of educational reductionism, while their divergence lies in the source of authority and orientation of ultimate goals. The implications for Indonesian higher education include formulating a holistic graduate profile, strengthening character education, and developing contextual curricula that integrate spiritual values and local wisdom.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif konsep tujuan pendidikan dalam Amsal 1:1-7 dan pemikiran Ki Hajar Dewantara serta merumuskan implikasinya bagi pendidikan tinggi Teologi di Indonesia. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan, data primer bersumber dari Kitab Amsal 1:1-7 dan karya Ki Hajar Dewantara, sementara data sekunder berasal dari literatur teologis dan pedagogis yang relevan. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi kualitatif dan pendekatan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amsal 1:1-7 menekankan "takut akan Tuhan" sebagai fondasi pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia berhikmat, adil, dan jujur. Pemikiran Ki Hajar Dewantara menekankan pendidikan yang memerdekakan manusia melalui keseimbangan olah pikir, rasa, raga, dan hati serta berakar pada nilai budaya bangsa. Titik temu kedua konsep terletak pada visi holistik dan penolakan terhadap reduksionisme pendidikan Teoligi di Inonesia, sementara perbedaannya terletak pada sumber otoritas dan orientasi tujuan akhir. Implikasi bagi pendidikan tinggi Teologi di Indonesia meliputi perumusan profil lulusan utuh, penguatan pendidikan karakter, dan pengembangan kurikulum kontekstual yang mengintegrasikan nilai spiritual dan kearifan lokal.