A mission gap occurred at STT KAO when the spirit of the Great Commission, which serves as the institution's lifeblood, was not accompanied by adequate attention to children's evangelism. Students focused more on evangelism among adults while children's ministry was neglected. This Community Service activity aimed to equip students with biblical understanding of children's evangelism, awareness of children's world and spiritual needs, and creative skills to communicate the Gospel effectively and relevantly. The implementation method consisted of a preparation stage through literature study to develop training materials, and an implementation stage using interactive lectures supported by engaging PowerPoint presentations. The training materials covered two main sessions: the theological foundation of children's evangelism and the practice of creative methods. Evaluation results from 22 participants showed very high satisfaction levels, with the majority of respondents giving the highest scores to all aspects, including material relevance, ease of understanding, practical solutions, speaker competency, and increased participant understanding. Qualitative testimonies revealed that the training not only transferred knowledge but also touched students' affective awareness to engage in children's ministry. This activity successfully bridged the mission gap and prepared students to implement the Great Commission comprehensively across all generations.AbstrakKesenjangan misi terjadi di STT KAO ketika semangat Amanat Agung yang menjadi nafas hidup kampus tidak diimbangi dengan perhatian terhadap penginjilan anak. Mahasiswa lebih terfokus pada penginjilan orang dewasa, sementara pelayanan anak terabaikan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman alkitabiah tentang penginjilan anak, kesadaran akan dunia dan kebutuhan rohani anak, serta keterampilan kreatif menyampaikan Injil secara efektif. Metode pelaksanaan terdiri atas tahap persiapan melalui studi pustaka untuk menyusun bahan pelatihan, dan tahap pelaksanaan menggunakan ceramah interaktif berbantuan PowerPoint yang menarik. Materi pelatihan mencakup dua sesi utama, yaitu fondasi teologis penginjilan anak dan praktik metode kreatif. Hasil evaluasi dari 22 peserta menunjukkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi, dengan mayoritas responden memberikan penilaian tertinggi pada seluruh aspek, meliputi kesesuaian materi, kemudahan pemahaman, solusi praktis, kompetensi narasumber, serta peningkatan pemahaman peserta. Testimoni kualitatif mengungkapkan bahwa pelatihan tidak hanya mentransfer pengetahuan tetapi juga menyentuh kesadaran afektif mahasiswa untuk terlibat dalam pelayanan anak. Kegiatan ini berhasil menjembatani kesenjangan misi dan mempersiapkan mahasiswa mengimplementasikan Amanat Agung secara utuh kepada semua generasi.