Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

ANALISIS KANDUNGAN KALIUM PADA AIR IRIGASI DI DAERAH IRIGASI GLUNDENGAN KECAMATAN WULUHAN KABUPATEN JEMBER Adi Mustika
JURNAL BIOSENSE Vol 5 No 2 (2022): Edisi Desember 2022
Publisher : Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas PGRI Banyuwangi, Jalan Ikan Tongkol No 01, Telp (0333) 421593, 428592 Banyuwangi 68416

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.472 KB) | DOI: 10.36526/biosense.v5i2.2241

Abstract

Utilization of water for agricultural purposes is the highest, reaching 70% of the total utilization of water resources globally. In the Glundengan Irrigation Area, Wuluhan District, Jember Regency, with an area of ​​4996 ha, irrigation water is taken from the Bedadung River, and the excess water is discharged from the Glundengan Irrigation Area to the Bedadung River. This encourages research on the quality of irrigation water in these irrigation areas. This study aims to analyze the quality of irrigation water, especially the elemental content of potassium in the Glundengan irrigation channel. In the analysis of the quality of irrigation water, temporary sampling was carried out at two points, namely in the primary channel which carries water to the paddy fields and in the drainage channel which removes excess water from the irrigation area. The temperature and pH parameter analysis method used the standard SNI 6989.57:2008, while the K parameter analysis was carried out in the CDAST laboratory using the Flame Photometry-AAS method. The results of the analysis are compared with the water quality standards in Government Regulation No. 82 of 2001 (PP 82/2001): Management of Water Quality and Control of Water Pollution. The results of the analysis show that the temperature parameters in the primary and exhaust channels are 24°C respectively. The pH parameters in the primary and sewer channels were 7.5 and 7.2, respectively. The K parameters in the primary and sewer channels were 0.00593 mg/l and 0.00745 mg/l respectively, these figures were relatively small. These three parameters meet the water quality standards of Class II according to PP 82/2001.
Mapping of Electrical Distribution Networks at Jampit Distribution Substations Using ArcGIS Agung Herdianto; Adi Mustika; Harjo Utomo
Jurnal Inotera Vol. 7 No. 2 (2022): July-December 2022
Publisher : LPPM Politeknik Aceh Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31572/inotera.Vol7.Iss2.2022.ID189

Abstract

In the Ijen sub-district, care must be taken to avoid overlapping uses of PTPN XII-owned plantations, resident fields, and the medium-voltage power distribution network. To lessen the interference factor in the distribution of electricity, the proper power distribution path must be chosen. The contact between trees and lightning is one of the variables that disturbs the distribution pathway. It is well known that the Jampit distribution substation in the Ijen district is situated in a region with plantations and private fields, making it susceptible to lightning and contact with trees. The position of distribution substations, medium-voltage overhead lines, and the location of energy users are among the issues examined in this study. In order to create a map of the electricity distribution network at Jampit distribution substations that pass through agricultural land and plantation areas, ArcGIS is used to help process spatial data including regional administration data, type of conductor, power capacity, distribution substation poles and electricity users.
TINJAUAN EUTROFIKASI TERHADAP BANGUNAN IRIGASI (STUDI KASUS BENDUNG WALAHAR, KABUPATEN KARAWANG) Mustika, Adi
JERNIH : Journal of Environmental Engineering and Hygiene Vol. 1 No. 01 (2023): Jernih: Journal of Environmental Engineering and Hygiene
Publisher : Universitas PGRI Argopuro Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/jernih.v1i01.1184

Abstract

Bendung Walahar dibangun untuk mengatur debit Sungai Citarum guna mengairi 87.306 ha sawah di Kabupaten Karawang. Bendung Walahar sendiri membentuk area genangan seluas 15 ha. Sungai Citarum yang mensuplai air ke bendung ini di bagian hulu telah mengalami pencemaran baik dari limbah domestik, industri, maupun limbah pertanian yang kaya unsur hara. Pencemaran oleh bahan-bahan organik tersebut menyebabkan eutrofikasi, yang dapat diindikasikan dengan pertumbuhan fitoplankton dan tumbuhan air seperti eceng gondok (Eichornia crassipes) yang menutupi permukaan genangan di bendung Walahar. Setiap tahun Perum Jasa Tirta II (PJT II) mengangkat 20 ton eceng gondok dari bendung Walahar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pencemaran air di bendung Walahar berdasarkan parameter fisika dan kimia kemudian menentukan status mutu air, mengetahui pengaruh eutrofikasi terhadap pertumbuhan eceng gondok, dan untuk mengetahui pengaruh keberadaan eceng gondok terhadap bangunan irigasi. Sebanyak 3 (tiga) sampel air dikumpulkan dari 3 titik sampling yang selanjutnya dianalisis di laboratorium PJT II. Hasil analisis laboratorium dibandingkan dengan Baku Mutu Air (BMA) berdasarkan PP No. 82/2001 tentang pengelolaan kualitas air, kemudian ditentukan status mutu air menggunakan metode Indeks Pencemaran. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui di titik 1 dan 2, yang berada di bagian hulu bendung Walahar, parameter kualitas air memenuhi BMA, sedangkan di titik 3 yang berada di bendung Walahar parameter BOD melampaui ambang batas BMA. Dari perhitungan Indeks Pencemaran diketahui di titik 1 dan 2 memenuhi BMA sedangkan di titik 3 menunjukkan tercemar ringan. Pencemaran yang berasal dari bahan-bahan organik memberikan nutrisi bagi tumbuhan air eceng gondok yang tumbuh menutupi hampir 20% dari luas area genangan. Penutupan permukaan perairan oleh eceng gondok ini di satu sisi akan meningkatkan laju evapotranspirasi sehingga kehilangan air lebih tinggi dibanding perairan terbuka, di sisi lain keberadaan eceng gondok menyebabkan pendangkalan oleh karena adanya sisa-sisa seresah dari eceng gondok. Pendangkalan tersebut akan menurunkan kapasitas tampungan bendung Walahar dan memperpendek umur fungsi bending.
KAJIAN PENERAPAN EKO-DRAINASE DI PERUMAHAN BUMI MANGLI PERMAI JEMBER Mustika, Adi
JERNIH : Journal of Environmental Engineering and Hygiene Vol. 1 No. 02 (2023): JERNIH: Journal of Environmental Engineering and Hygiene
Publisher : Universitas PGRI Argopuro Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan perumahan Bumi Mangli Permai Jember adalah kawasan pemukiman yang tergolong padat dan dilalui oleh sungai Semangir, sehingga perlu perhatian lebih. Perubahan iklim menyebabkan curah hujan pada tahun-tahun terakhir cenderung meningkat, sehingga debit limpasan air hujan dari kawasan perumahan meningkat. Penerapan drainase berwawasan lingkungan, disebut juga ekodrainase, adalah salah satu upaya mengurangi debit limpasan air hujan dengan meresapkan air hujan ke dalam tanah, misalnya dengan sumur resapan. Ekodrainase juga bermanfaat dalam upaya konservasi air tanah. Berdasarkan hal tersebut, dilakukian kajian penerapan sumur resapan. Lokasi penelitian di perumahan Bumi Mangli Permai Jember. Analisis hidrologi didasarkan dari 3 stasiun hujan yang berdekatan. Analisis hidrolika untuk menghitung debit limpasan air hujan dari kawasan perumahan dan debit sumur resapan. Berdasarkan hasil analisis dan perhitungan, didapatkan debit limpasan air hujan dari kawasan perumahan adalah 3,14 m3/detik. Asumsi sumur resapan dibangun di setiap rumah yaitu sejumlah 1780 buah di perumahan tersebut mampu meresapkan air hujan sebesar 0,516 m3/detik. Penerapan sumur resapan air hujan ini dapat mengurangi debit limpasan air hujan sebesar 16,42%.
KUALITAS MATA AIR LANGSEPAN DITINJAU DARI PARAMETER pH, TDS, DAN DHL Mustika, Adi
JERNIH : Journal of Environmental Engineering and Hygiene Vol. 2 No. 01 (2024): JERNIH: Journal of Environmental Engineering and Hygiene
Publisher : Universitas PGRI Argopuro Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mata air Langsepan di kelurahan Kranjingan Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember, timbul dari bekas lahan tambang pasir. Mata air ini sepanjang tahun dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi persawahan setempat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kualitas mata air Langsepan. Parameter yang diukur adalah temperatur, pH, TDS dan DHL yang diukur secara in situ. Hasil penelitian ini memberi gambaran secara umum temperatur air 29°C, sedangkan temperatur udara di atas permukaan air adalah 31°C. Hasil pengukuran pH air 6,7 sedangkan TDS 216 mg/L dan nilai DHL 300 ?S/cm. Hasl pengukuran parameter ini menunjukkan kualitas air pada mata air Langsepan memenuhi BMA kelas 1 berdasarkan PP No.22 Tahun 2021.
Analisis Kualitas Air Hujan Berdasarkan Parameter Temperatur, pH, TDS, DHL dan ORP di Wilayah Kota Jember Mustika, Adi
JERNIH : Journal of Environmental Engineering and Hygiene Vol. 2 No. 02 (2024): JERNIH: Journal of Environmental Engineering and Hygiene
Publisher : Universitas PGRI Argopuro Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian difokuskan pada analisis kualitas air hujan berdasarkan parameter suhu, pH, TDS, DHL, dan ORP di wilayah Kota Jember. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kualitas air hujan di wilayah perkotaan dan kelayakannya untuk dikonsumsi. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, selama tiga hari berturut-turut pada musim hujan. Parameter yang diamati meliputi suhu, DHL, TDS, pH, dan ORP yang selanjutnya dibandingkan dengan baku mutu air minum yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu air hujan berkisar antara 24 sampai dengan 25,1°C yang memenuhi baku mutu air bersih. Nilai DHL berkisar antara 169 sampai dengan 428 µS/cm yang menunjukkan adanya ion-ion terlarut dalam air. Kadar TDS berkisar antara 113 sampai dengan 290 mg/L yang juga memenuhi baku mutu air bersih. Nilai pH berkisar antara 6,7 ??sampai dengan 7,3 yang termasuk dalam baku mutu air minum. Namun, nilai ORP lebih rendah dari kisaran standar 200 hingga 600 mV, yang menunjukkan bahwa mungkin diperlukan pengolahan lebih lanjut agar aman digunakan. Penelitian ini merekomendasikan untuk melakukan penelitian yang lebih luas dengan lebih banyak parameter untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang kualitas air hujan di Kabupaten Jember.
Kualitas Mata Air Langsepan Ditinjau dari Parameter pH, TDS, dan DHL: Review of Water Quality of Langsepan Springs According to the Parameters of pH, TDS, and DHL Mustika, Adi
JERNIH : Journal of Environmental Engineering and Hygiene Vol. 2 No. 01 (2024): JERNIH: Journal of Environmental Engineering and Hygiene
Publisher : Universitas PGRI Argopuro Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/jernih.v2i01.1877

Abstract

Mata air Langsepan di kelurahan Kranjingan Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember, timbul dari bekas lahan tambang pasir. Mata air ini sepanjang tahun dimanfaatkan sebagai sumber air irigasi persawahan setempat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kualitas mata air Langsepan. Parameter yang diukur adalah temperatur, pH, TDS dan DHL yang diukur secara in situ. Hasil penelitian ini memberi gambaran secara umum temperatur air 29°C, sedangkan temperatur udara di atas permukaan air adalah 31°C. Hasil pengukuran pH air 6,7 sedangkan TDS 216 mg/L dan nilai DHL 300 ?S/cm. Hasl pengukuran parameter ini menunjukkan kualitas air pada mata air Langsepan memenuhi BMA kelas 1 berdasarkan PP No.22 Tahun 2021.
Pembinaan Tentang Teknik Budidaya Tanaman Hias Pada Panti Asuhan Di Kawasan Pedesaan Salim, Noor; Mustika, Adi
ABDIMASTEK Vol. 1 No. 1 (2022): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/abdimastek.v1i1.78

Abstract

Pengurus Panti Asuhan pada Yayasan Pengemban Pendidikan Anak Yatim dan Terlantar Panti Asuhan YPPAY yang berada di desa Karanganyar kecamatan Ambulu kabupaten Jember tidak mempunyai pengetahuan khusus berkenaan dengan Teknik Budidaya Tanaman Hias Berdasarkan permasalahan mitra tersebut, maka diperlukan adanya solusi yang nyata untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu mengadakan pembinaan yang berjudul Pembinaan tentang teknik budidaya tanaman hias pada panti asuhan Di kawasan pedesaan Dari hasil kegiatan ini diperoleh kesimpulan bahwa peserta mengikuti kegiatan pembinaan dengan penuh antusias. Selain itu peserta juga telah mengetahui bagaimana cara pengolahan Teknik Budidaya Tanaman Hias dengan baik dan benar. Disarankan agar enambahan materi bahasan mengenai pemasaran dari hasi budi daya tanaman hias tersebut. Peserta terus mempraktikkan pelatihan yang didapat pada kegiatan pengabdian untuk meningkatkan keahliannya
Estimasi Beban Pencemaran dari Kegiatan Pertanian terhadap Sungai Citarum Segmen Kota Karawang Mustika, Adi
BIO-CONS : Jurnal Biologi dan Konservasi Vol. 6 No. 2 (2024): BIO-CONS: Jurnal Biologi dan Konservasi
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/biocons.v6i2.2117

Abstract

Sungai Citarum, yang mengalir sepanjang 297 km di Provinsi Jawa Barat, adalah sungai terbesar dan terpanjang di wilayah tersebut. Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum meliputi 12 kabupaten/kota dengan luas 6.614 km². Status air Citarum tercemar sedang berdasarkan Indeks Kualitas Air (IKA). Salah satu sumber pencemarannya adalah limbah pertanian, yang dapat mencemari sungai melalui aliran permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi beban pencemaran dari kegiatan pertanian di segmen Citarum Hilir, dengan fokus pada parameter BOD (Biochemical Oxygen Demand), Total Nitrogen (TN), dan Total Phosphorus (TP). Penelitian ini dilakukan di segmen Bendung Walahar-Kota Karawang sepanjang 17,54 km. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan menghitung potensi beban pencemaran berdasarkan luas lahan, faktor emisi, dan jumlah musim tanam. Penelitian ini mencakup 14 desa di 5 kecamatan, dengan total luas lahan pertanian yang diteliti mencapai 120,6 km². Berdasarkan perhitungan, potensi beban pencemaran untuk parameter BOD adalah 38,681 kg/hari. Faktor-faktor yang menyebabkan tingginya BOD termasuk penggunaan pupuk dan pestisida serta sisa tanaman yang terurai. Untuk parameter Total-N, potensi beban pencemaran mencapai 3,439 kg/hari, dengan sumber utama dari penggunaan pupuk nitrogen. Sedangkan untuk Total-P, potensi beban pencemaran adalah 1,719 kg/hari, yang disebabkan oleh penggunaan pupuk fosfor dan penguraian bahan organik dari tanaman. Peningkatan kadar nitrogen dan fosfor dapat menyebabkan eutrofikasi, yang mengurangi oksigen terlarut dan membahayakan ekosistem perairan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyoroti dampak limbah pertanian terhadap kualitas air di Sungai Citarum, yang berpotensi merusak ekosistem akuatik dan mengurangi kemampuan sungai untuk melakukan pemulihan alami (self-purification).
Analisis Kualitas Air Hujan Berdasarkan Parameter Temperatur, pH, TDS, DHL dan ORP di Wilayah Kota Jember: Rainwater Quality Analysis Based on Temperature, pH, TDS, DHL and ORP Parameters in Jember City Area Mustika, Adi
JERNIH : Journal of Environmental Engineering and Hygiene Vol. 2 No. 02 (2024): JERNIH: Journal of Environmental Engineering and Hygiene
Publisher : Universitas PGRI Argopuro Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/jernih.v2i02.2184

Abstract

Penelitian difokuskan pada analisis kualitas air hujan berdasarkan parameter suhu, pH, TDS, DHL, dan ORP di wilayah Kota Jember. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kualitas air hujan di wilayah perkotaan dan kelayakannya untuk dikonsumsi. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, selama tiga hari berturut-turut pada musim hujan. Parameter yang diamati meliputi suhu, DHL, TDS, pH, dan ORP yang selanjutnya dibandingkan dengan baku mutu air minum yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu air hujan berkisar antara 24 sampai dengan 25,1°C yang memenuhi baku mutu air bersih. Nilai DHL berkisar antara 169 sampai dengan 428 µS/cm yang menunjukkan adanya ion-ion terlarut dalam air. Kadar TDS berkisar antara 113 sampai dengan 290 mg/L yang juga memenuhi baku mutu air bersih. Nilai pH berkisar antara 6,7 ??sampai dengan 7,3 yang termasuk dalam baku mutu air minum. Namun, nilai ORP lebih rendah dari kisaran standar 200 hingga 600 mV, yang menunjukkan bahwa mungkin diperlukan pengolahan lebih lanjut agar aman digunakan. Penelitian ini merekomendasikan untuk melakukan penelitian yang lebih luas dengan lebih banyak parameter untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang kualitas air hujan di Kabupaten Jember.