Helman Kurniadi
Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Adiwangsa Jambi, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Penggunaan Hormon Progesteron Pada Pasien Abortus Iminens di Klinik Utama Ascott Medika Jambi Tahun 2025 Teresa Porman Pakpahan; Helman Kurniadi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Delima Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Kesehatan Delima
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Salsabila Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60010/jikd.v9i1.222

Abstract

Abortus iminens merupakan kondisi perdarahan pada awal kehamilan yang terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu dengan keadaan serviks masih tertutup dan janin masih berada di dalam uterus. Salah satu terapi yang umum digunakan untuk mempertahankan kehamilan pada kondisi tersebut adalah pemberian hormon progesteron. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan hormon progesteron terhadap outcome terapi pada pasien abortus iminens di Klinik Utama Ascott Medika Jambi Tahun 2025 Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Data diperoleh dari rekam medis pasien abortus iminens periode Januari–Desember 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 95 rekam medis yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher Exact Test dengan tingkat kepercayaan 95% (?=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada pada kelompok usia 20–35 tahun sebanyak 46 responden (48,42%) dan usia kehamilan terbanyak yaitu 8–10 minggu sebanyak 35 responden (36,84%). Lama terapi progesteron yang paling banyak digunakan adalah 8–14 hari sebanyak 41 responden (43,16%) dan seluruh pasien menggunakan progesteron melalui rute oral. Outcome terapi menunjukkan sebagian besar pasien mengalami keberhasilan terapi sebanyak 90 responden (94,74%). Hasil uji Fisher Exact Test menunjukkan nilai p-value sebesar 0,018 (p<0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara penggunaan hormon progesteron dengan outcome terapi pada pasien abortus iminens. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan hormon progesteron memiliki hubungan terhadap keberhasilan terapi pada pasien abortus iminens sehingga dapat membantu mempertahankan kehamilan.
Tingkat Kesadaran Pemohon SIM Terhadap Risiko Mengkonsumsi Obat Antihistamin Saat Mengemudi (Studi Kasus Di Pelayanan SIM Kota Jambi) Ella Riska Sadilah; Helman Kurniadi; Siti Marwah Lestari
Jurnal Ilmiah Kesehatan Delima Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Kesehatan Delima
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Salsabila Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60010/jikd.v9i1.223

Abstract

Antihistamin adalah obat yang digunakan untuk mengatasi reaksi alergi dengan menghambat kerja histamin dalam tubuh. Efek samping antihistamin, terutama generasi pertama, dapat berupa kantuk, pusing, dan penurunan konsentrasi yang berisiko mengganggu kemampuan mengemudi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dengan tingkat kesadaran pemohon SIM terhadap risiko penggunaan obat antihistamin saat mengemudi. Desaain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square menggunakan program SPSS. Hasil penelitian dari 113 responden menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori usia dewasa (44,2%), dengan jenis kelamin laki-laki (56,6%), berdasarkan pendidikan terakhir sebagian besar responden memiliki pendidikan menengah (SMP/SMA) (50,4%), dan berdasarkan riwayat konsumsi responden banyak yang memilih pernah konsumsi (78,8%). Hasil penelitian menunjukan mayoritas tingkat kesadaran responden terhadap penggunaan obat antihistamin di pelayanan SIM Kota Jambi pada kategori baik yaitu 83 responden (73,5%), kemudian tingkat pengetahuan juga baik yaitu 91 responden (80,5%) dan pada sikap mayoritas responden di kategori baik yaitu 99 responden (87,6%). Hubungan antara tingkat kesadaran dengan pengetahuan serta sikap terdapat hubungan yang signifikan karena p-value (<0,05). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan sikap berhubungan dengan tingkat kesadaran pemohon SIM terhadap risiko penggunaan obat antihistamin saat mengemudi.
Analisis Perencanaan dan Pengendalian Obat di Instalasi Farmasi Rumah Sakit X Kota Jambi Tahun 2024 Laily Rahmi; Siti Marwah Lestari; Helman Kurniadi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Delima Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Kesehatan Delima
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Salsabila Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60010/jikd.v9i1.229

Abstract

Pengelolaan persediaan obat merupakan salah satu aspek penting dalam pelayanan kefarmasian rumah sakit karena berpengaruh terhadap efisiensi biaya dan kualitas pelayanan. Ketidaktepatan dalam perencanaan dan pengendalian obat dapat menyebabkan terjadinya kekosongan stok maupun penumpukan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan dan pengendalian obat standar rumah sakit menggunakan metode ABC, Economic Order Quantity (EOQ), dan Reorder Point (ROP) di Instalasi Farmasi RS X Kota Jambi Tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif menggunakan data sekunder berupa data pemakaian dan harga obat tahun 2024. Analisis dilakukan menggunakan metode ABC untuk menentukan kelompok prioritas obat, metode EOQ untuk menentukan jumlah pemesanan optimal, dan metode ROP untuk menentukan titik pemesanan kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 416 item obat yang dianalisis, kelompok A terdiri dari 13% item obat dengan penyerapan biaya sebesar 75%, kelompok B terdiri dari 17% item obat dengan penyerapan biaya sebesar 15%, dan kelompok C terdiri dari 70% item obat dengan penyerapan biaya sebesar 10%. Hasil perhitungan EOQ menunjukkan bahwa jumlah pemesanan optimal lebih efisien dibandingkan sistem pemesanan yang diterapkan rumah sakit. Analisis ROP menunjukkan bahwa beberapa item obat memerlukan pemesanan kembali lebih awal untuk mencegah kekosongan stok. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode ABC, EOQ, dan ROP dapat membantu meningkatkan efektivitas pengendalian persediaan obat di Instalasi Farmasi RS X Kota Jambi.