Andri Ashadi
Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Living Qur’an dan Transformasi Digital Qira’at: Studi Penggunaan Aplikasi Mushaf At-Taisir pada Peserta MTQ Cabang Qira’at M Khalyl Fadhlan Darwis; Andri Ashadi; Novizal Wendry
Jurnal Keilmuan dan Keislaman Vol. 5, No. 1, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jkk.v5i1.859

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan transformasi signifikan dalam praktik keberagamaan umat Islam, termasuk dalam tradisi qira’at al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan aplikasi Mushaf At-Taisir oleh peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) cabang Qira’at sebagai bentuk aktualisasi living Qur’an di era digital. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif dalam paradigma studi living Qur’an, penelitian ini memfokuskan pada pengalaman, pemaknaan, serta dinamika praktik pembelajaran qira’at yang memadukan tradisi talaqqi dengan media digital. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi terbatas, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik melalui tahapan reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Mushaf At-Taisir berfungsi sebagai media bantu yang efektif dalam memahami variasi qira’at, memperkuat latihan mandiri, serta memperluas akses pembelajaran. Digitalisasi tidak menggantikan peran guru bersanad, tetapi membentuk model pembelajaran hibrida yang mengintegrasikan otoritas tradisional dan teknologi. Dari perspektif living Qur’an, interaksi digital dengan al-Qur’an tetap menghadirkan pengalaman spiritual yang reflektif dan personal. Selain itu, penggunaan aplikasi turut mentransformasi struktur komunitas belajar qira’at menjadi lebih terbuka dan lintas wilayah. Meskipun demikian, ditemukan pula ketegangan antara kemudahan teknologi dan berkurangnya intensitas talaqqi langsung. Penelitian ini menegaskan bahwa digitalisasi qira’at merupakan bentuk adaptasi dinamis tradisi Islam, di mana al-Qur’an terus dihidupkan dalam konteks media dan budaya kontemporer tanpa kehilangan otoritas keilmuan dan dimensi spiritualnya.
Ragam Pemaknaan Konsep Khalifah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 30: Studi Living Qur’an terhadap Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama Muhammad Rifky Alfares; Andri Ashadi; Novizal Wendry
Jurnal Keilmuan dan Keislaman Vol. 5, No. 1, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jkk.v5i1.868

Abstract

Konsep khalifah merupakan salah satu tema sentral dalam Al-Qur’an yang berkaitan erat dengan hakikat manusia dan tanggung jawabnya di bumi. Namun, dalam sejarah pemikiran Islam, istilah ini sering mengalami pergeseran makna dari konsep etis-antropologis menjadi legitimasi politik melalui gagasan khilafah. Perbedaan pemaknaan tersebut memunculkan perdebatan serius, khususnya di Indonesia, antara kelompok yang memandang khilafah sebagai sistem politik wajib dan kelompok yang menolaknya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ragam pemaknaan QS. Al-Baqarah [2]: 30 tentang konsep khalifah dalam perspektif tiga organisasi Islam besar di Indonesia, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama, serta mengkaji implikasi sosial dan ideologis dari penafsiran tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Living Qur’an, berbasis studi kepustakaan terhadap kitab tafsir, dokumen resmi organisasi, karya tokoh, serta literatur akademik terkait. Analisis dilakukan melalui pendekatan analisis isi dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hizbut Tahrir Indonesia menafsirkan konsep khalifah secara ideologis sebagai legitimasi teologis penegakan Khilafah Islamiyyah. Sebaliknya, Muhammadiyah memaknai khalifah sebagai amanah eksistensial manusia untuk menciptakan kemaslahatan melalui pendekatan etis, humanistik, dan ekologis. Sementara itu, Nahdlatul Ulama menempatkan konsep khalifah dalam kerangka etis dan maqāṣid al-syarī‘ah, serta menegaskan bahwa khilafah sebagai sistem politik merupakan konstruksi historis, bukan ajaran eksplisit Al-Qur’an. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep khalifah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 30 memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kekuasaan politik, meliputi dimensi spiritual, etis, sosial, dan kemanusiaan. Dengan demikian, pemaknaan kontekstual terhadap ayat ini menjadi penting dalam menjawab tantangan masyarakat Muslim modern yang plural dan bernegara.
Konstruksi Makna Wahyu dan Peran Pesantren Salafi dalam Aksi Kemanusiaan Pascabencana: Studi Kasus Pesantren Ma’had Baitussalam Fikramsyah Putra Ramadhan; Andri Ashadi; Novizal Wendry
Jurnal Keilmuan dan Keislaman Vol. 5, No. 1, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jkk.v5i1.877

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pesantren berbasis manhaj salafi dalam merespons persoalan kemanusiaan pascabencana, dengan menekankan pada konstruksi makna wahyu yang melandasi keterlibatan santri dalam aksi kemanusiaan. Studi ini dilakukan di Pesantren Ma’had Baitussalam yang berlokasi di Lubuk Minturun, Kota Padang, wilayah yang memiliki tingkat kerentanan terhadap bencana alam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan pengajar dan santri, serta dokumentasi kegiatan kemanusiaan pascabencana. Analisis data dilakukan secara deskriptif-interpretatif dengan menerapkan teknik triangulasi untuk menjaga keabsahan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren berperan aktif sebagai aktor sosial-keagamaan dalam aksi kemanusiaan pascabencana. Keterlibatan tersebut didasarkan pada pemaknaan Q.S. Al-Mā’idah ayat 2 sebagai perintah untuk mengamalkan nilai tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Wahyu dipahami tidak hanya sebagai teks normatif, tetapi sebagai pedoman praktis yang membentuk orientasi moral dan tindakan santri. Keunikan pesantren ini terletak pada kecepatan respons dalam situasi darurat, keterlibatan langsung pengajar dan santri di lapangan, serta integrasi aksi kemanusiaan ke dalam proses pembinaan karakter. Penelitian ini menegaskan bahwa pesantren berbasis manhaj salafi memiliki potensi signifikan dalam mengintegrasikan kesalehan religius dengan praktik solidaritas sosial dalam konteks kebencanaan.
Aktualisasi Qs. al-‘Asr dalam Pengelolaan Waktu Keluarga Profesional: Pendekatan Living Qur’an Faiza Marhamah Elyafi; Andri Ashadi; Novizal Wendry
Jurnal Keilmuan dan Keislaman Vol. 5, No. 1, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jkk.v5i1.878

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji resepsi dan aktualisasi nilai-nilai Qs. al-‘Asr dalam praktik manajemen waktu keluarga profesional melalui perspektif living Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan (field research) dan pendekatan sosiologis. Lokasi penelitian berada di Perumahan Kordang Damai, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, dengan subjek penelitian keluarga profesional yang memiliki pekerjaan tetap di sektor formal. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif melalui tahapan reduksi data, kategorisasi tema, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Qs. al-‘Asr diresepsi oleh keluarga profesional secara fungsional dan reflektif. Lafaz wal-‘ashr dimaknai sebagai simbol keterbatasan waktu dan medan ujian kehidupan, yang melahirkan kesadaran akan pentingnya disiplin dan penetapan prioritas. Nilai iman dan amal saleh diaktualisasikan secara integratif dalam aktivitas profesional dan kehidupan keluarga, sehingga mengaburkan dikotomi antara aktivitas keagamaan dan duniawi. Nilai tawāṣau bil ḥaqq berfungsi sebagai prinsip tata kelola keluarga melalui komunikasi dan evaluasi internal, sementara tawāṣau bil ṣabr menjadi modal psikospiritual dalam menghadapi tekanan waktu dan dinamika kehidupan profesional. Secara keseluruhan, Qs. al-‘Asr berfungsi sebagai ethical framework dalam manajemen waktu keluarga profesional. Temuan ini menegaskan bahwa al-Qur’an tidak hanya dipahami sebagai teks normatif, tetapi juga diaktualisasikan sebagai pedoman hidup yang kontekstual dan relevan dengan realitas sosial modern.