Lisa Adhia Garina
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perbedaan Lama Rawat Inap Berdasarkan Jenis Antibiotik pada Pasien Pneumonia Anak di RSAU dr. M. Salamun Levi Zulfa Fauziah; Lisa Adhia Garina; Miranti Kania Dewi
Bandung Conference Series: Medical Science 215-222
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22122

Abstract

Abstract. Bacterial pneumonia is a major cause of morbidity and mortality in children in developing countries. Appropriate antibiotic selection and length of hospital stay are important indicators of treatment effectiveness. This study aims to analyze the difference in length of hospital stay based on the type of antibiotic administered to pediatric pneumonia patients at RSAU dr. M. Salamun. The study design was analytical observational with a cross-sectional approach conducted during May–December 2025. Sample collection used total sampling technique with 116 patients meeting inclusion criteria. Study variables include type of antibiotic (ampicillin and ceftriaxone) as independent variable and length of hospital stay (≤4 days and >4 days) as dependent variable. Data analysis used Chi-Square test with significance level α = 0.05. Results showed that most patients received ampicillin therapy (74.1%) and were hospitalized for ≤4 days (77.6%). There was a significant difference between antibiotic type and length of hospital stay (p < 0.001), with ampicillin more associated with length of hospital stay ≤4 days (90.7%), while ceftriaxone was more associated with length of hospital stay >4 days (60%). These findings suggest that the selection of ampicillin as a rational first-line antibiotic may contribute to shorter hospital stay duration in pediatric pneumonia without severe risk factors. Abstrak. Pneumonia bakteri merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di negara berkembang. Pemilihan antibiotik yang tepat dan lama rawat inap merupakan indikator penting dalam menilai efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan lama rawat inap berdasarkan jenis antibiotik yang diberikan pada pasien pneumonia anak di RSAU dr. M. Salamun. Desain penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan potong lintang yang dilakukan pada periode Mei–Desember 2025. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan 116 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel penelitian meliputi jenis antibiotik (ampisilin dan seftriakson) sebagai variabel bebas dan lama rawat inap (≤4 hari dan >4 hari) sebagai variabel terikat. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil menunjukkan sebagian besar pasien menerima terapi ampisilin (74,1%) dan menjalani rawat inap ≤4 hari (77,6%). Terdapat perbedaan bermakna antara jenis antibiotik dan lama rawat inap (p < 0,001), di mana ampisilin lebih banyak terkait dengan lama rawat inap ≤4 hari (90,7%), sedangkan seftriakson lebih banyak terkait dengan lama rawat inap >4 hari (60%). Temuan ini menunjukkan bahwa pemilihan ampisilin sebagai antibiotik lini pertama yang rasional berpotensi berkontribusi terhadap durasi rawat inap yang lebih singkat pada pneumonia anak tanpa faktor risiko berat.
Hubungan Bayi Berat Lahir Rendah Dengan Kejadian Hiperbilirubinemia Di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung Bulan Januari 2022-Desember 2023 Aliciana Anajwa Asyifa; Lisa Adhia Garina
Bandung Conference Series: Medical Science 971-978
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22446

Abstract

Abstract. Hyperbilirubinemia in newborns is the most common problem. It is usually characterized by yellowing of the skin due to the accumulation of unconjugated, nonpolar, fat-soluble bilirubin pigment. There is also one factor that can increase the occurrence of hyperbiliruninemia is babies with low birth weight (<2500 grams). This study aims to analyze the relationship between low birth weight and the incidence of hyperbilirubinemia at Al-Ihsan Regional General Hospital (RSUD) Bandung Regency in 2022-2023. This study used observational analytic method with cross sectional research design. Samples were taken from patient medical record data with a total sample of 100 infants at Al-Ihsan Hospital in 2022-2023. There were 57 infants experiencing hyperbilirubinemia and 40 infants who did not experience hyperbilirubinemia. Based on Chi Square statistical analysis test, it can be decided that there is an insignificant relationship between infant weight and hyperbilirubinemia. (p=0.151, OR=0.950). Abstrak. Hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir merupakan masalah umum yang paling sering terjadi. Biasanya,ditandai dengan kulit yang menguning akibat penumpukan pigmen bilirubin yang tidak terkonjugasi, nonpolar, dan larut dalam lemak. Ada pun salah faktor yang dapat meningkatkan terjadinya hiperbiliruninemia adalah bayi dengan berat badan lahir yang rendah (<2500 gram). Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan yang terjadi antara berat badan lahir rendah terhadap kejadian hyperbilirubinemia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Al-Ihsan Kabupaten Bandung tahun 2022-2023. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel diambil berasal dari data rekam medis pasien dengan jumlah sample adalah 100 bayi di RSUD Al-Ihsan di tahun 2022-2023. Terdapat 57 bayi mengalami hyperbilirubinemia dan 40 bayi yang tidak mengalami hyperbilirubinemia. Hasil ini berdasarkan uji analisis statistik Chi Square di dapatkan bahwa hasil tersebut dapat diputuskan terdapat pengaruh hubungan yang tidak signifikan antara berat badan bayi dengan hiperbilirubinemia. (p=0.151, OR=0.950).
Hubungan Status Gizi Perkembangan Anak Usia 1–6 Tahun Panti Asuhan Amelia Ghani Muthmainnah; Eva Rianti Indrasari; Lisa Adhia Garina
Bandung Conference Series: Medical Science 1191-1198
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22523

Abstract

Abstract. Nutritional status is an important determinant of child growth and development, particularly during early childhood. Children living in orphanages are at higher risk of nutritional problems that may affect their developmental outcomes. This study aimed to examine the association between nutritional status and development among children aged 1–6 years in orphanages in Bandung City. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted using total sampling. Nutritional status was assessed through anthropometric measurements based on World Health Organization standards, while child development was evaluated using the Developmental Pre-Screening Questionnaire (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan/KPSP). Data were analyzed using univariate and bivariate statistical analyses. The results demonstrated an association between nutritional status and child development, with undernourished children showing a higher risk of developmental delay compared to those with normal nutritional status. In conclusion, nutritional status is associated with the development of children aged 1–6 years in orphanages, emphasizing the need for regular nutritional monitoring and appropriate developmental stimulation. Abstrak. Status gizi berperan penting dalam proses tumbuh kembang anak, terutama pada usia dini yang merupakan periode emas perkembangan. Anak yang tinggal di panti asuhan memiliki risiko mengalami masalah gizi yang dapat memengaruhi perkembangan, selain itu masih jarang penelitian yang dilakukan secara spesifik terkait status gizi dan perkembangan anak di panti bandung oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan perkembangan anak usia 1–6 tahun di panti asuhan Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian adalah anak usia 1–6 tahun yang dipilih menggunakan metode total sampling. Status gizi dinilai berdasarkan indikator antropometri menurut standar WHO, sedangkan perkembangan anak dinilai menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara status gizi dengan perkembangan anak, di mana anak dengan status gizi kurang cenderung memiliki risiko keterlambatan perkembangan dibandingkan anak dengan status gizi normal. Disimpulkan bahwa status gizi berhubungan dengan perkembangan anak usia 1–6 tahun di panti asuhan Kota Bandung, sehingga diperlukan pemantauan status gizi dan stimulasi perkembangan secara berkelanjutan.