Eva Rianti Indrasari
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Emotional Eating dengan Kadar Lemak Viseral Tubuh Mahasiswa Kedokteran Unisba Muhammad Rafi' Parwanda; Susan Fitriyana; Eva Rianti Indrasari
Bandung Conference Series: Medical Science 781-788
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22388

Abstract

Abstract. Obesity is a global health problem that contributes to increased risks of metabolic syndrome and cardiovascular diseases. These conditions are closely associated with elevated visceral fat levels. Medical students are particularly vulnerable to high academic stress, which may trigger emotional eating. A pattern of food consumption influenced by negative emotions that can potentially increase visceral fat accumulation. This study aimed to examine the relationship between emotional eating and visceral fat levels among medical students at Universitas Islam Bandung. A cross-sectional design was employed involving 96 respondents selected through consecutive sampling, all of whom were active medical students who had completed at least one year of study. Emotional eating was assessed using the Emotional Eater Questionnaire (EEQ), and visceral fat levels were measured using Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) OMRON HBF-375. Data were analyzed using Fisher’s exact test. The results showed that 43.71% of respondents had low emotional eating tendencies, and 80.21% had normal visceral fat levels. The study concluded that there was a significant association between emotional eating and visceral fat levels, with a p-value of 0.003 (p < 0.05). These findings suggest the need for interventions aimed at managing emotional eating within this population. Abstrak. Obesitas menjadi masalah kesehatan global dan menyebabkan masalah kesehatan seperti peningkatan risiko sindroma metabolik dan penyakit kardiovaskular. Kondisi tersebut memiliki keeratan dengan kadar lemak viseral tubuh. Mahasiswa kedokteran merupakan kelompok yang rentan mengalami stres akademik tinggi, yang dapat memicu kondisi emotional eating. Pola makan yang dipengaruhi oleh emosi negatif dan berpotensi meningkatkan kadar lemak viseral tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara emotional eating dengan kadar lemak tubuh pada mahasiswa kedokteran Unisba. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan melibatkan 96 responden yang diambil dengan metode cosequtive sampling dan memenuhi kriteria sebagai mahasiswa aktif fakultas kedokteran Unisba yang telah menjalani satu tahun masa studi. Data emotional eating diambil melalui kuesioner EEQ (Emotional Eater Questionnairree) dan pengkuran lemak viseral diukur dengan BIA (Bioelectrical Impendence Analysis) OMRON HBF-375 analisis data menggunakan uji fisher exact. Hasil menunjukan bahwa 43,71% responden mengalami emotional eater rendah dan 80,21% responden memiliki kadar lemak viseral normal. Kesimpulan penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan p-value 0,003 (p<0,05) antara emotional eating dengan kadar lemak viseral tubuh pada mahasiswa kedokteran Unisba. Implikasi dari hasil penelitian ini merekomendasikan intervensi untuk pengelolahan emotional eating pada populasi ini.
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Massa Lemak Tubuh pada Siswi SMA Islam Nurul Fikri Boarding School Lembang Dinda Aulia Ramadina; Meta Maulida Damayanti; Eva Rianti Indrasari
Bandung Conference Series: Medical Science 805-812
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22396

Abstract

Abstract. Physical activity is an important factor that affects the body composition of adolescents, especially in controlling body fat mass. Adolescents who attend boarding schools have the potential to have low levels of physical activity due to their busy academic schedules and limited time for physical activity. This study aims to determine the relationship between physical activity and body fat mass in female students at Nurul Fikri Islamic Boarding School in Lembang. This study used a cross-sectional design involving 72 female students as research subjects. Physical activity was measured using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), while body fat mass was measured using Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. The results showed that most students had a low level of physical activity and body fat mass in the excess category. Statistical analysis shows a significant relationship between physical activity and body fat mass. This indicates that the lower the level of physical activity, the higher the body fat mass. It is concluded that physical activity has a significant relationship with body fat mass among female students at Nurul Fikri Islamic Boarding School in Lembang. Regular increases in physical activity need to be encouraged in boarding school environments to help control body fat mass and support adolescent health. Abstrak. Aktivitas fisik merupakan faktor penting yang memengaruhi komposisi tubuh remaja, khususnya dalam pengendalian massa lemak tubuh. Remaja yang menjalani Pendidikan di boarding school berpotensi memiliki Tingkat aktivitas fisik yang rendah akibat padatnya kegiatan akademik dan keterbatasan waktu untuk melakukan aktivitas fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan massa lemak tubuh pada siswi SMA Islam Nurul Fikri Boarding School Lembang. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 72 siswi sebagai subjek penelitian. Aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) sedangkan massa lemak tubuh diukur menggunakan alat Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswi memiliki Tingkat aktivitas fisik ringan dan massa lemak tubuh dalam kategori berlebih. Analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan massa lemak tubuh (p value 0.000, p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat aktivitas fisik, maka semakin tinggi massa lemak tubuh. Disimpulkan bahwa aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan dengan massa lemak tubuh pada siswi SMA Islam Nurul Fikri Boarding School Lembang. Peningkatan aktivitas fisik secara teraktur perlu diupayakan di lingkungan boarding school guna membantu mengontrol massa lemak tubuh dan mendukung kesehatan remaja.
Studi Literatur: Peran Asupan Magnesium terhadap Kualitas Tidur Remaja Putri Bintang Ramadhan; Mirasari Putri; Eva Rianti Indrasari
Bandung Conference Series: Medical Science 931-938
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22430

Abstract

Abstract. Poor sleep quality can trigger chronic diseases, making quality sleep crucial for overall health. Magnesium (Mg) is an essential micronutrient that affects sleep quality. Most students in Islamic boarding schools currently experience insufficient magnesium intake, which can lead to various health problems. The purpose of this study was to analyze the relationship between magnesium intake and sleep quality in adolescent girls. This cross-sectional study was conducted at SMAIT Al Kahfi in 2025 on 98 adolescent girls. Data were collected through questionnaires and 3-day food records administered to the participants. Univariate and bivariate analyses were performed to examine the data. The univariate analysis results showed that most adolescent girls had poor sleep quality and insufficient magnesium intake. The bivariate analysis results revealed a significant relationship between magnesium intake (P=0.006) and sleep quality in adolescent girls. Based on the results of this study, it can be concluded that magnesium has a significant relationship with sleep quality in female adolescents at SMAIT Al Kahfi in 2025. Abstrak. Kualitas tidur yang buruk dapat memicu penyakit kronis, sehingga tidur yang berkualitas sangat penting bagi kesehatan. Magnesium (Mg) adalah mikronutrien penting yang mempengaruhi kualitas tidur. Sebagian besar santri di pondok pesantren saat ini mengalami kondisi kekurangan gizi yang dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara asupan magnesium dengan kualitas tidur pada remaja putri. Penelitian cross sectional ini dilakukan di SMAIT Al Kahfi pada tahun 2025 kepada 98 orang remaja putri. Data diperoleh dari kuesioner dan metode food record selama 3 hari yang diberikan kepada remaja putri. Data menggunakan uji univariat dan bivariat. Hasil uji statistik univariat didapatkan mayoritas remaja putri memiliki kualitas tidur yang buruk dan asupan magnesium yang tidak cukup. Hasil analisis bivariat didapatkan terdapat hubungan yang signifikan antara asupan magnesium (P=0,006) dengan kualitas tidur pada remaja putri. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan magnesium memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas tidur pada remaja putri SMAIT Al Kahfi pada tahun 2025.
Hubungan Status Gizi Perkembangan Anak Usia 1–6 Tahun Panti Asuhan Amelia Ghani Muthmainnah; Eva Rianti Indrasari; Lisa Adhia Garina
Bandung Conference Series: Medical Science 1191-1198
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22523

Abstract

Abstract. Nutritional status is an important determinant of child growth and development, particularly during early childhood. Children living in orphanages are at higher risk of nutritional problems that may affect their developmental outcomes. This study aimed to examine the association between nutritional status and development among children aged 1–6 years in orphanages in Bandung City. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted using total sampling. Nutritional status was assessed through anthropometric measurements based on World Health Organization standards, while child development was evaluated using the Developmental Pre-Screening Questionnaire (Kuesioner Pra Skrining Perkembangan/KPSP). Data were analyzed using univariate and bivariate statistical analyses. The results demonstrated an association between nutritional status and child development, with undernourished children showing a higher risk of developmental delay compared to those with normal nutritional status. In conclusion, nutritional status is associated with the development of children aged 1–6 years in orphanages, emphasizing the need for regular nutritional monitoring and appropriate developmental stimulation. Abstrak. Status gizi berperan penting dalam proses tumbuh kembang anak, terutama pada usia dini yang merupakan periode emas perkembangan. Anak yang tinggal di panti asuhan memiliki risiko mengalami masalah gizi yang dapat memengaruhi perkembangan, selain itu masih jarang penelitian yang dilakukan secara spesifik terkait status gizi dan perkembangan anak di panti bandung oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dengan perkembangan anak usia 1–6 tahun di panti asuhan Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Subjek penelitian adalah anak usia 1–6 tahun yang dipilih menggunakan metode total sampling. Status gizi dinilai berdasarkan indikator antropometri menurut standar WHO, sedangkan perkembangan anak dinilai menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara status gizi dengan perkembangan anak, di mana anak dengan status gizi kurang cenderung memiliki risiko keterlambatan perkembangan dibandingkan anak dengan status gizi normal. Disimpulkan bahwa status gizi berhubungan dengan perkembangan anak usia 1–6 tahun di panti asuhan Kota Bandung, sehingga diperlukan pemantauan status gizi dan stimulasi perkembangan secara berkelanjutan.