Miranti Kania Dewi
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Pinggang Terhadap Kadar Glukosa Darah pada Karyawan Salah Satu Kantor di Kota Bandung Kaiza Natania Humaira; Miranti Kania Dewi; Endang Suherlan
Bandung Conference Series: Medical Science 75-82
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22076

Abstract

Abstract. A sedentary lifestyle among office workers contributes to the increasing prevalence of obesity, particularly central obesity, which plays an important role in the development of insulin resistance and impaired glucose regulation. This study aimed to determine the association between Body Mass Index (BMI) and waist circumference with blood glucose levels among employees of an office in Bandung City. An analytical observational cross-sectional design was applied, involving 65 respondents who met the inclusion criteria. BMI was calculated from measured body weight and height, waist circumference was measured using a measuring tape, and blood glucose levels were obtained from random blood glucose testing using a Point of Care Testing (POCT) device. Bivariate analysis was performed using the Fisher–Freeman–Halton Exact Test. The results showed that most respondents had normal BMI (35.4%), normal waist circumference (61.5%), and normal blood glucose levels (70.8%). Statistical analysis demonstrated a significant association between BMI and blood glucose levels (p = 0.002) as well as between waist circumference and blood glucose levels (p = 0.003). This study indicates that BMI and waist circumference are associated with blood glucose levels among office employees and may serve as simple screening tools for early detection of impaired glucose regulation in the workplace. Abstrak. Gaya hidup sedentari pada pekerja kantoran berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian obesitas, terutama obesitas sentral yang berperan dalam terjadinya resistansi insulin dan gangguan regulasi glukosa. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan lingkar pinggang dengan kadar glukosa darah pada karyawan salah satu kantor di Kota Bandung. Penelitian menggunakan desain observasional analitik potong lintang dengan 65 responden yang memenuhi kriteria inklusi. IMT dihitung dari pengukuran berat badan dan tinggi badan, lingkar pinggang diukur menggunakan pita ukur, sedangkan kadar glukosa darah diperoleh melalui pemeriksaan glukosa darah sewaktu menggunakan alat Point of Care Testing (POCT). Analisis bivariat dilakukan menggunakan Fisher–Freeman–Halton Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden memiliki IMT normal (35,4%), lingkar pinggang normal (61,5%), dan kadar glukosa darah normal (70,8%). Uji statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara IMT dan kadar glukosa darah (p = 0,002) serta antara lingkar pinggang dan kadar glukosa darah (p = 0,003). Penelitian ini menyimpulkan bahwa IMT dan lingkar pinggang berhubungan dengan kadar glukosa darah pada karyawan kantor, sehingga keduanya dapat digunakan sebagai metode skrining awal gangguan regulasi glukosa.
Perbedaan Lama Rawat Inap Berdasarkan Jenis Antibiotik pada Pasien Pneumonia Anak di RSAU dr. M. Salamun Levi Zulfa Fauziah; Lisa Adhia Garina; Miranti Kania Dewi
Bandung Conference Series: Medical Science 215-222
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22122

Abstract

Abstract. Bacterial pneumonia is a major cause of morbidity and mortality in children in developing countries. Appropriate antibiotic selection and length of hospital stay are important indicators of treatment effectiveness. This study aims to analyze the difference in length of hospital stay based on the type of antibiotic administered to pediatric pneumonia patients at RSAU dr. M. Salamun. The study design was analytical observational with a cross-sectional approach conducted during May–December 2025. Sample collection used total sampling technique with 116 patients meeting inclusion criteria. Study variables include type of antibiotic (ampicillin and ceftriaxone) as independent variable and length of hospital stay (≤4 days and >4 days) as dependent variable. Data analysis used Chi-Square test with significance level α = 0.05. Results showed that most patients received ampicillin therapy (74.1%) and were hospitalized for ≤4 days (77.6%). There was a significant difference between antibiotic type and length of hospital stay (p < 0.001), with ampicillin more associated with length of hospital stay ≤4 days (90.7%), while ceftriaxone was more associated with length of hospital stay >4 days (60%). These findings suggest that the selection of ampicillin as a rational first-line antibiotic may contribute to shorter hospital stay duration in pediatric pneumonia without severe risk factors. Abstrak. Pneumonia bakteri merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di negara berkembang. Pemilihan antibiotik yang tepat dan lama rawat inap merupakan indikator penting dalam menilai efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan lama rawat inap berdasarkan jenis antibiotik yang diberikan pada pasien pneumonia anak di RSAU dr. M. Salamun. Desain penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan potong lintang yang dilakukan pada periode Mei–Desember 2025. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan 116 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel penelitian meliputi jenis antibiotik (ampisilin dan seftriakson) sebagai variabel bebas dan lama rawat inap (≤4 hari dan >4 hari) sebagai variabel terikat. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil menunjukkan sebagian besar pasien menerima terapi ampisilin (74,1%) dan menjalani rawat inap ≤4 hari (77,6%). Terdapat perbedaan bermakna antara jenis antibiotik dan lama rawat inap (p < 0,001), di mana ampisilin lebih banyak terkait dengan lama rawat inap ≤4 hari (90,7%), sedangkan seftriakson lebih banyak terkait dengan lama rawat inap >4 hari (60%). Temuan ini menunjukkan bahwa pemilihan ampisilin sebagai antibiotik lini pertama yang rasional berpotensi berkontribusi terhadap durasi rawat inap yang lebih singkat pada pneumonia anak tanpa faktor risiko berat.
Perbandingan Perubahan Saturasi Oksigen Pasca Nebulisasi dan Kombinasi Nebulisasi-Injeksi Metilprednisolon pada Asma Fasya Oktaviani; Miranti Kania Dewi; Harvi Puspa Wardani
Bandung Conference Series: Medical Science 435-442
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22211

Abstract

Abstract. Acute asthma exacerbation is an emergency condition characterized by airway narrowing and may lead to decreased oxygen saturation. Bronchodilator nebulization is the mainstay of therapy; however, in certain conditions, methylprednisolone injection is added to enhance treatment effectiveness. This study aimed to compare changes in oxygen saturation after bronchodilator nebulization alone and combination therapy of bronchodilator nebulization with methylprednisolone injection in patients with acute asthma exacerbation in the Emergency Department of Al Islam Hospital Bandung. This study employed an analytic observational design with a retrospective cross-sectional approach. A total of 436 patients were selected using purposive sampling and divided into two groups: 229 patients received bronchodilator nebulization alone, and 207 patients received combination therapy of bronchodilator nebulization and methylprednisolone injection. Data were obtained from medical records and analyzed using the Mann–Whitney test. The results showed that the mean difference in oxygen saturation in the combination therapy group tended to be higher than that in the bronchodilator-only group, at 2.33% and 0.71%, respectively, with a statistically significant difference (p = 0.000). Based on these findings, combination therapy of bronchodilator nebulization and methylprednisolone injection provides a slightly better improvement in oxygen saturation compared to bronchodilator nebulization alone in patients with acute asthma exacerbation. Both therapies are effective in increasing oxygen saturation and can be used in the management of acute asthma exacerbation in the emergency department. Abstrak. Asma eksaserbasi akut merupakan kondisi gawat darurat yang ditandai dengan penyempitan saluran napas dan dapat menyebabkan penurunan saturasi oksigen. Nebulisasi bronkodilator merupakan terapi utama, namun pada kondisi tertentu ditambahkan injeksi metilprednisolon untuk meningkatkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan membandingkan perubahan saturasi oksigen pasca pemberian nebulisasi bronkodilator dan kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon pada pasien asma eksaserbasi akut di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Al Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospective cross-sectional. Sampel sebanyak 436 pasien dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok nebulisasi bronkodilator yang berjumlah 229 pasien dan kelompok kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon berjumlah 207 pasien. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata selisih saturasi oksigen pada kelompok kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok nebulisasi bronkodilator, masing-masing sebesar 2,33% dan 0,71%, dengan perbedaan yang bermakna secara statistik (p = 0,000). Berdasarkan hasil penelitian ini, pemberian terapi kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon memberikan peningkatan saturasi oksigen sedikit lebih baik dibandingkan nebulisasi bronkodilator saja pada pasien asma eksaserbasi akut. Kedua jenis terapi ini dapat meningkatkan saturasi oksigen sehingga keduanya dapat digunakan sebagai penanganan pada pasien asma eksaserbasi akut di instalasi gawat darurat.
Hubungan Usia dan Frekuensi Kemoterapi Pada Pasien Kanker Payudara yang Mendapatkan Kemoterapi Di RSUD Welas Asih Bandung Tahun 2024 Fawwaz Firdaus; Miranti Kania Dewi; Yuke Andriane
Bandung Conference Series: Medical Science 923-930
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22427

Abstract

Abstract. Breast cancer is one of the most common malignancies among women, and chemotherapy remains a major treatment modality across different disease stages. However, chemotherapy is frequently associated with hematological adverse effects due to bone marrow suppression. This study aimed to analyze the relationship between patient characteristics, particularly age and chemotherapy frequency, and hematological profiles in breast cancer patients. An analytic observational study with a cross-sectional design was conducted using medical records of 200 breast cancer patients who underwent chemotherapy at Welas Asih Regional General Hospital in 2024. Hematological parameters analyzed included hemoglobin, erythrocytes, leukocytes, and platelets. Statistical analysis was performed using the Spearman test. The results showed that most patients had hemoglobin and erythrocyte levels below normal ranges, while leukocyte and platelet levels were predominantly within normal limits. No significant association was found between age and any hematological parameters (p>0.05). In contrast, chemotherapy frequency was significantly associated with hemoglobin, erythrocyte, leukocyte, and platelet levels (p<0.05), indicating that a higher number of chemotherapy cycles was associated with a greater tendency toward anemia, erythropenia, and leukopenia. These findings suggest that the hematological effects of chemotherapy are cumulative, highlighting the importance of continuous and intensive hematological monitoring during treatment. Abstrak. Kanker payudara merupakan salah satu keganasan tersering pada perempuan, dan kemoterapi menjadi modalitas terapi utama pada berbagai stadium penyakit. Namun, kemoterapi dapat menimbulkan efek samping hematologis akibat supresi sumsum tulang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan usia dan frekuensi kemoterapi dengan profil hematologi pada pasien kanker payudara yang mendapatkan kemoterapi di RSUD Welas Asih Bandung periode tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Data diperoleh dari rekam medis 200 pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUD Welas Asih tahun 2024. Profil hematologi yang dinilai meliputi kadar hemoglobin, eritrosit, leukosit, dan trombosit. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien kanker payudara yang mendapatkan kemoterapi di RSUD Al Ihsan tahun 2024 berusia 41-50 tahun (38,5%), menjalani kemoterapi 6-8 siklus (53,5%), memiliki kadar hemoglobin <12 g/dL (79,5%), kadar leukosit 4.000 – 11.000 sel/μL (79%), kadar eritrosit <4,2 x 106/μL (78%) dan kadar trombosit 150.000-450.000 sel/μL (83%). Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara usia dengan seluruh profil hematologi (p>0,05). Sebaliknya, frekuensi kemoterapi menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kadar hemoglobin, eritrosit, leukosit, dan trombosit (p<0,05), di mana peningkatan jumlah frekuensi kemoterapi memiliki kecenderungan menyebabkan terjadinya anemia, eritropenia, dan leukopenia. Temuan ini menunjukkan bahwa dampak kemoterapi terhadap profil hematologi bersifat kumulatif, sehingga pemantauan hematologi secara intensif dan berkelanjutan sangat diperlukan.
Tinjauan Efek Antihipertrigliseridemia Ekstrak Etanol Umbi Yakon (Smallanthus sonchifolius) pada Sindrom Metabolik Muhammad Nurel Galbi; Miranti Kania Dewi; Lelly Yuniarti
Bandung Conference Series: Medical Science 997-1004
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22451

Abstract

Abstract. Metabolic syndrome is a metabolic imbalance disorder that includes hypertriglyceridemia as a key component, triggered by insulin resistance and increased adipose tissue lipolysis. Long-term use of synthetic drugs for dyslipidemia often causes adverse effects, prompting the exploration of natural alternatives. This article aims to review the potential and molecular mechanisms of yacon tuber (Smallanthus sonchifolius) ethanol extract in reducing triglyceride levels under metabolic syndrome conditions. This article is a literature review discussing the pathophysiology of hypertriglyceridemia, the bioactive compounds of yacon tubers, and their pharmacological mechanisms based on previous studies. The literature review indicates that yacon tubers are rich in Fructooligosaccharides (FOS) and inulin, which are indigestible but fermented by colonic microbiota to produce Short-Chain Fatty Acids (SCFA), specifically propionate. Propionate reduces triglyceride levels through two main mechanisms: inhibiting hepatic lipogenic enzymes, namely Fatty Acid Synthase (FAS) and Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD) to suppress de novo fatty acid synthesis, and increasing Lipoprotein Lipase (LPL) activity in peripheral tissues to accelerate VLDL clearance. Yacon tuber ethanol extract has potential as an effective natural therapeutic agent in modulating lipid metabolism and reducing triglyceride levels through mechanisms of lipogenesis inhibition and enhanced lipid catabolism. Abstrak. Sindrom metabolik merupakan gangguan keseimbangan metabolisme yang mencakup hipertrigliseridemia sebagai salah satu komponen utamanya, yang dipicu oleh resistensi insulin dan peningkatan lipolisis jaringan adiposa. Penggunaan obat sintetik jangka panjang untuk dislipidemia sering kali menimbulkan efek samping, sehingga mendorong eksplorasi bahan alam sebagai alternatif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji potensi dan mekanisme molekuler ekstrak etanol umbi yakon (Smallanthus sonchifolius) dalam menurunkan kadar trigliserida pada kondisi sindrom metabolik. Penulisan artikel ini merupakan studi tinjauan pustaka (literature review) yang membahas patofisiologi hipertrigliseridemia, kandungan bioaktif umbi yakon, serta mekanisme farmakologisnya berdasarkan studi-studi terdahulu. Tinjauan pustaka menunjukkan bahwa umbi yakon kaya akan Fructooligosaccharide (FOS) dan inulin yang tidak tecerna namun difermentasi oleh mikrobiota kolon menghasilkan Short-Chain Fatty Acids (SCFA), khususnya propionat. Propionat berperan menurunkan kadar trigliserida melalui dua mekanisme utama: menghambat aktivitas enzim lipogenik hepar yaitu Fatty Acid Synthase (FAS) dan Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD) untuk menekan sintesis asam lemak de novo, serta meningkatkan aktivitas Lipoprotein Lipase (LPL) di jaringan perifer untuk mempercepat klirens VLDL. Ekstrak etanol umbi yakon memiliki potensi sebagai agen terapeutik alami yang efektif dalam memodulasi metabolisme lipid dan menurunkan kadar trigliserida melalui mekanisme penghambatan lipogenesis dan peningkatan katabolisme lipid.