Lelani Reniarti Marsaman
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Screen Time dengan Speech Delay Anak Nazhifah Ghina Rahmani; Lelani Reniarti Marsaman; Meta Maulida Damayanti
Bandung Conference Series: Medical Science 315-324
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22172

Abstract

Abstract. Excessive screen media use during childhood can be linked to negative health outcomes, including speech delay. The American Academy of Pediatrics (AAP) recommends children over two years of age should not watch television or use screen media for more than two hours per day. This study aims to know children’s behaviour and habits in using screen media and to find a relationship between screen time and speech delay in children aged 2-5 years old at RSUD Welas Asih Jawa Barat. This study used an analytical observational case contrsectiool design, with primary data collection through questionnaires. The sample consisted of 62 children and analysed using the Chi Square Test. Results showed 46,8% of children had high screen time values however the incidence rate among speech delay is 62,5% higher than without speech delay which is 30,0%. The Chi Square Test analysis results showed significant relationship between screen time and speech delay in children aged 2-5 years (p = 0.010), and the Odds Ratio analysis results showed children with high screen time are four times in higher risk of speech delay. Conclusion of this study is there is a significant relationship between screen time and speech delay in children aged 2-5 years. Abstrak. Penggunaan media layar yang berlebih pada anak dapat dikaitkan dengan perkembangan kesehatan yang negatif, termasuk speech delay. The American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan anak di atas dua tahun tidak menonton televisi atau menggunakan media layar lebih dari dua jam per harinya. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran perilaku dan kebiasaan pasien anak dalam menggunakan media layar serta mencari hubungan akses media layar (screen time) sebagai penyebab speech delay pada pasien anak di RSUD Welas Asih Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik case control, dengan pengambilan data primer melalui kuesioner. Sampel yang didapatkan berjumlah 62 anak, yang kemudian dianalisis melalui Chi Square Test. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 46,8% anak memiliki nilai screen time yang tinggi dimana pada kelompok speech delay angka mencapai 62,5% lebih tinggi dibandingkan tanpa speech delay yang hanya 30,0%. Pada hasil analisis Chi Square Test, terdapat hubungan signifikan antara screen time dengan speech delay pada anak usia 2-5 tahun (p = 0,010) dan pada hasil analisis Odds Ratio didapatkan anak dengan nilai screen time tinggi memiliki resiko hampir empat kali lebih tinggi mengalami speech delay. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan signifikan antara screen time dengan speech delay pada anak usia 2-5 tahun.
Hubungan Jenis TB Paru dengan Hasil Tes Cepat Molekuler (TCM) pada Remaja Usia 10 hingga 19 Tahun di Poli DOTS Rumah Sakit Umum Daerah dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya Tahun 2020–2024 Marshalonika Rindi Verisa; Herry Garna; Lelani Reniarti Marsaman
Bandung Conference Series: Medical Science 333-340
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22178

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) in adolescents remains a significant public health concern that requires accurate detection and appropriate management, particularly in cases of drug-susceptible TB (DS-TB) and drug-resistant TB (DR-TB). The Rapid Molecular Test (RMT) is recommended for the diagnosis of Mycobacterium tuberculosis and the detection of rifampicin resistance. This study aimed to analyze the association between pulmonary TB types (DS-TB and DR-TB) and RMT results among adolescents aged 10–19 years at the DOTS Clinic of dr. Soekardjo Regional General Hospital, Tasikmalaya, from 2020 to 2024. This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach using quantitative methods. Secondary data were obtained from medical records of eligible patients using a total sampling technique. Data were analyzed using chi-square and Fisher’s exact tests with a significance level of p ≤ 0.05. The results showed that DR-TB cases were more prevalent than DS-TB cases. A statistically significant association was found between pulmonary TB type and RMT results, as well as between certain clinical characteristics, such as cavitary lesions on chest radiographs, and DR-TB occurrence (p < 0.05). In conclusion, pulmonary TB type is significantly associated with RMT results in adolescents, highlighting the importance of RMT in early detection and appropriate therapeutic decision-making for adolescent TB patients. Abstrak. Tuberkulosis (TB) pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan deteksi dan penatalaksanaan yang tepat, terutama pada kasus TB sensitif obat (SO-TB) dan TB resisten obat (RO-TB). Tes Cepat Molekuler (TCM) direkomendasikan sebagai metode diagnosis untuk mendeteksi Mycobacterium tuberculosis sekaligus resistensi rifampisin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan jenis TB paru (SO-TB dan RO-TB) dengan hasil pemeriksaan TCM pada remaja usia 10–19 tahun di Poli DOTS RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya tahun 2020–2024. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dan metode kuantitatif. Data sekunder diperoleh dari rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan Fisher’s exact test dengan tingkat kemaknaan p ≤ 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien merupakan kasus RO-TB dibandingkan SO-TB. Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara jenis TB paru dan hasil pemeriksaan TCM, serta ditemukan keterkaitan yang signifikan antara karakteristik klinis tertentu, seperti gambaran kavitasi pada foto toraks, dengan kejadian RO-TB (p < 0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa jenis TB paru berhubungan secara signifikan dengan hasil TCM pada remaja, sehingga pemeriksaan TCM berperan penting dalam deteksi dini dan penentuan strategi terapi yang tepat pada pasien TB remaja.