Harvi Puspa Wardani
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Derajat Motorik Kasar dengan Fibrilasi Atrium pada Stroke Kardioemboli Nurul Rifka Irhamna; Alya Tursina; Harvi Puspa Wardani
Bandung Conference Series: Medical Science 375-382
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22191

Abstract

Abstract. Cardioembolic stroke is a subtype of ischemic stroke with a poor prognosis, particularly when accompanied by atrial fibrillation (AF). Atrial fibrillation is the most common cardiac arrhytmia worldwide and accounts for approximately 50% of cardioembolic stroke cases. Atrial fibrillation increases the risk of large embolus formation, which may lead to more severe impairment of gross motor function. This study aimed to analyze the differences in gross motor function outcomes between cardioembolic stroke patients with and without AF. This study employed a prospective cohort design involving 66 cardioembolic stroke patients at RSAU Salamun Bandung, consisting of 16 patients with AF and 50 patients without AF. Data were collected from primary sources using the modified Rankin Scale (mRS). Data analysis was performed using univariate analysis and the Chi-square test. The results showed that the presence of AF was significantly associated with poorer gross motor function outcomes in cardioembolic stroke patients compared with those without AF. This condition is associated with larger embolus size occluding the middle cerebral artery, leading to extensive cortical infarction and more severe neurological impairment. Abstrak. Stroke kardioemboli merupakan salah satu subtipe stroke iskemik dengan prognosis buruk, terutama bila disertai fibrilasi atrium (FA). Fibrilasi atrium merupakan gangguan irama jantung paling umum di dunia dan menjadi penyebab sekitar 50% kasus stroke kardioemboli. Fibrilasi atrium meningkatkan risiko terbentuknya emboli berukuran besar yang berpotensi menyebabkan gangguan motorik kasar lebih berat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan derajat motorik kasar dengan FA pada pasien stroke kardioemboli. Desain penelitian menggunakan pendekatan kohort prospektif, melibatkan 16 pasien stroke kardioemboli yang disertai FA di RSAU Salamun Bandung. Pengumpulan data dilakukan melalui sumber primer menggunakan modified Rankin Scale (mRS). Analisis data dilakukan secara uji univariat dan uji Chi-square. Hasil menunjukkan bahwa FA berhubungan signifikan dengan derajat motorik kasar yang lebih buruk pada pasien stroke kardioemboli. Kondisi ini berkaitan dengan ukuran emboli yang besar yang menyumbat middle cerebral artery, menyebabkan infark kortikal yang luas dan defisit neurologis yang lebih berat.
Perbandingan Perubahan Saturasi Oksigen Pasca Nebulisasi dan Kombinasi Nebulisasi-Injeksi Metilprednisolon pada Asma Fasya Oktaviani; Miranti Kania Dewi; Harvi Puspa Wardani
Bandung Conference Series: Medical Science 435-442
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22211

Abstract

Abstract. Acute asthma exacerbation is an emergency condition characterized by airway narrowing and may lead to decreased oxygen saturation. Bronchodilator nebulization is the mainstay of therapy; however, in certain conditions, methylprednisolone injection is added to enhance treatment effectiveness. This study aimed to compare changes in oxygen saturation after bronchodilator nebulization alone and combination therapy of bronchodilator nebulization with methylprednisolone injection in patients with acute asthma exacerbation in the Emergency Department of Al Islam Hospital Bandung. This study employed an analytic observational design with a retrospective cross-sectional approach. A total of 436 patients were selected using purposive sampling and divided into two groups: 229 patients received bronchodilator nebulization alone, and 207 patients received combination therapy of bronchodilator nebulization and methylprednisolone injection. Data were obtained from medical records and analyzed using the Mann–Whitney test. The results showed that the mean difference in oxygen saturation in the combination therapy group tended to be higher than that in the bronchodilator-only group, at 2.33% and 0.71%, respectively, with a statistically significant difference (p = 0.000). Based on these findings, combination therapy of bronchodilator nebulization and methylprednisolone injection provides a slightly better improvement in oxygen saturation compared to bronchodilator nebulization alone in patients with acute asthma exacerbation. Both therapies are effective in increasing oxygen saturation and can be used in the management of acute asthma exacerbation in the emergency department. Abstrak. Asma eksaserbasi akut merupakan kondisi gawat darurat yang ditandai dengan penyempitan saluran napas dan dapat menyebabkan penurunan saturasi oksigen. Nebulisasi bronkodilator merupakan terapi utama, namun pada kondisi tertentu ditambahkan injeksi metilprednisolon untuk meningkatkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan membandingkan perubahan saturasi oksigen pasca pemberian nebulisasi bronkodilator dan kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon pada pasien asma eksaserbasi akut di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Al Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospective cross-sectional. Sampel sebanyak 436 pasien dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok nebulisasi bronkodilator yang berjumlah 229 pasien dan kelompok kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon berjumlah 207 pasien. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata selisih saturasi oksigen pada kelompok kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok nebulisasi bronkodilator, masing-masing sebesar 2,33% dan 0,71%, dengan perbedaan yang bermakna secara statistik (p = 0,000). Berdasarkan hasil penelitian ini, pemberian terapi kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon memberikan peningkatan saturasi oksigen sedikit lebih baik dibandingkan nebulisasi bronkodilator saja pada pasien asma eksaserbasi akut. Kedua jenis terapi ini dapat meningkatkan saturasi oksigen sehingga keduanya dapat digunakan sebagai penanganan pada pasien asma eksaserbasi akut di instalasi gawat darurat.
Perbandingan IVA dengan Pap Smear sebagai Pre-Skrining Kanker Serviks RSU Tangerang Edriani Patricia Effendi; Santun Bhekti Rahimah; Harvi Puspa Wardani
Bandung Conference Series: Medical Science 1367-1376
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22635

Abstract

Abstract. Cervical cancer remains a significant public health problem in developing countries due to limited access to effective and affordable screening programs. This study aimed to evaluate the diagnostic concordance and performance of VIA compared with Pap smear in detecting cancerous lesions. A cross-sectional study was conducted using secondary data from medical records of women who underwent both VIA and Pap smear screening at RSU Tangerang in 2025. A total of 311 subjects met the inclusion criteria. Pap smear results were classified using the Bethesda system and recategorized into negative (NIML) and positive (ASC-US, ASC-H, HSIL) to allow direct comparison with VIA results. Data were analyzed using Fisher’s Exact Test, odds ratio estimation, and diagnostic performance measures, including sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value, and accuracy. The results demonstrated perfect concordance between VIA and Pap smear, with no discordant cases. VIA showed sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value, and overall accuracy of 100%, with a statistically significant association (p < 0.001). All findings were confirmed by histopathological examination. In conclusion, under standardized conditions with trained examiners, VIA demonstrated diagnostic performance equivalent to Pap smear, supporting its use as a reliable and cost-effective pre-screening method in resource-limited settings. Abstrak. Kanker serviks masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di negara berkembang akibat keterbatasan akses terhadap program skrining yang efektif dan terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian diagnostik IVA dibandingkan dengan Pap smear dalam mendeteksi lesi kanker. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder dari rekam medis wanita yang menjalani pemeriksaan IVA dan Pap smear di RSU Tangerang pada tahun 2025. Sebanyak 311 rekam medis memenuhi kriteria inklusi. Hasil Pap smear diklasifikasikan berdasarkan sistem Bethesda dan dikategorikan menjadi negatif (NILM) dan positif (ASC-US, ASC-H, HSIL) untuk memungkinkan perbandingan langsung dengan hasil IVA. Analisis data menggunakan Fisher’s Exact Test, estimasi odds ratio, serta pengukuran kinerja diagnostik meliputi sensitivitas, spesifisitas, nilai prediktif positif, nilai prediktif negatif, dan akurasi. Hasil penelitian menunjukkan kesesuaian sempurna antara IVA dan Pap smear tanpa pasangan data yang tidak sesuai. Tes IVA menunjukkan sensitivitas, spesifisitas, nilai prediktif positif, nilai prediktif negatif, dan akurasi 100%, dengan hubungan yang bermakna secara statistik (p < 0,001). Temuan dikonfirmasi melalui pemeriksaan histopatologi. Kesimpulannya, dalam kondisi klinis yang terstandarisasi dan dengan pemeriksa yang terlatih, IVA memiliki kinerja diagnostik yang setara dengan Pap smear, sehingga mendukung penggunaannya sebagai metode pra-skrining kanker serviks yang andal dan hemat biaya di lingkungan dengan keterbatasan sumber daya.