Santun Bhekti Rahimah
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Status Gizi dan Perawatan Luka Mandiri terhadap Penyembuhan Pasca Sirkumsisi bilqis alrisa sofhiashadza; Santun Bhekti Rahimah; Tryando Bhatara
Bandung Conference Series: Medical Science 555-564
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22264

Abstract

Abstract. Circumcision is a common surgical procedure performed on male children and results in wounds that require an optimal healing process. Post-circumcision wound healing is influenced by systemic factors, such as nutritional status, as well as behavioral factors, including home-based self-wound care practices. Inappropriate wound care may delay healing and increase the risk of complications.This study aimed to determine the relationship between nutritional status and self-wound care practices with the post-circumcision wound healing process among children at Bale Khitan Clinic, Garut. This study employed an analytic observational design with a cross-sectional approach. The study subjects consisted of 54 children aged 3–6 years who underwent circumcision at Bale Khitan Clinic, Garut, in 2025. Nutritional status was assessed using anthropometric indices, self-wound care practices were measured using a questionnaire, and the wound healing process was evaluated through medical records. Data were analyzed using the Chi-Square test and Fisher’s Exact test. The results showed that most respondents had good wound healing outcomes (77.8%) and good self-wound care practices (96.3%). The majority of respondents were classified as having poor nutritional status (46.3%). Statistical analysis indicated no significant relationship between nutritional status and post-circumcision wound healing (p = 0.153). In contrast, a significant relationship was found between self-wound care practices and post-circumcision wound healing (p = 0.046). In conclusion, self-wound care practices are significantly associated with the post-circumcision wound healing process, whereas nutritional status shows no significant association. Abstrak. Sirkumsisi merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada anak laki-laki dan menimbulkan luka yang memerlukan proses penyembuhan optimal. Proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi dipengaruhi oleh faktor sistemik, seperti status gizi, serta faktor perilaku berupa pola perawatan luka mandiri di rumah. Perawatan luka yang kurang tepat dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko komplikasi.irkumsisi merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada anak laki-laki dan menimbulkan luka yang memerlukan proses penyembuhan optimal. Proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi dipengaruhi oleh faktor sistemik, seperti status gizi, serta faktor perilaku berupa pola perawatan luka mandiri di rumah. Perawatan luka yang kurang tepat dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko komplikasi. Tujuan nya mengetahui hubungan status gizi dan pola perawatan luka mandiri terhadap proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi pada anak di Klinik Bale Khitan Garut. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross- sectional. Subjek penelitian berjumlah 54 anak usia 3–6 tahun yang menjalani sirkumsisi di Klinik Bale Khitan Garut tahun 2025. Status gizi dinilai berdasarkan indeks antropometri, pola perawatan luka mandiri diukur menggunakan kuesioner, dan proses penyembuhan luka dinilai melalui rekam medis. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan uji Fisher’s Exact. Sebagian besar responden memiliki proses penyembuhan luka yang baik (77,8%) dan pola perawatan luka mandiri yang baik (96,3%). Status gizi responden paling banyak berada pada kategori gizi buruk (46,3%). Tidak terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi (p = 0,153). Sebaliknya, terdapat hubungan signifikan antara pola perawatan luka mandiri dan proses penyembuhan luka pasca- sirkumsisi (p = 0,046). Pola perawatan luka mandiri berhubungan signifikan dengan proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi, sedangkan status gizi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) Hasya Puteri Amintapura; Santun Bhekti Rahimah; Heni Muflihah
Bandung Conference Series: Medical Science 671-678
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22317

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) remains a public health problem, thus preventive efforts through Tuberculosis Preventive Therapy (TPT) are required for individuals at risk. The success of TPT is highly influenced by medication adherence, which is partly related to family support. This study aims to analyze the relationship between family support and medication adherence among individuals receiving TPT at Babatan Primary Health Center, Bandung City, in 2024–2025. The study subjects consisted of 44 individuals who met the inclusion criteria. The method used was observational analytic with a cross-sectional design. Data were collected using a family support questionnaire that had been tested for validity and reliability, while medication adherence was measured using the Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Data analysis was performed using the Fisher-Exact test. The results showed that most respondents had good family support (42 respondents; 95.45%) and high medication adherence (41 respondents; 93.18%). However, no significant relationship was found between family support and medication adherence to TPT (p = 0.113). These findings indicate that other factors beyond family support may have a greater influence on medication adherence among individuals undergoing TPT. Abstrak. Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, sehingga diperlukan upaya pencegahan melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) pada individu berisiko. Keberhasilan TPT sangat dipengaruhi oleh kepatuhan minum obat, yang salah satunya berkaitan dengan dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada individu penerima TPT di Puskesmas Babatan Kota Bandung tahun 2024–2025. Subjek penelitian terdiri atas 44 individu yang memenuhi kriteria inklusi. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dukungan keluarga yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, sedangkan kepatuhan minum obat diukur dengan Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Analisis data dilakukan menggunakan uji Fisher-Exact. Hasil menunjukkan sebagian besar responden memiliki dukungan keluarga baik (42 responden; 95,45%) dan kepatuhan minum obat tinggi (41 responden; 93,18%). Namun, tidak ditemukan hubungan bermakna antara dukungan keluarga dan kepatuhan minum obat TPT (p = 0,113).Temuan ini mengindikasikan adanya faktor lain di luar dukungan keluarga yang lebih berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat.
Perbandingan IVA dengan Pap Smear sebagai Pre-Skrining Kanker Serviks RSU Tangerang Edriani Patricia Effendi; Santun Bhekti Rahimah; Harvi Puspa Wardani
Bandung Conference Series: Medical Science 1367-1376
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22635

Abstract

Abstract. Cervical cancer remains a significant public health problem in developing countries due to limited access to effective and affordable screening programs. This study aimed to evaluate the diagnostic concordance and performance of VIA compared with Pap smear in detecting cancerous lesions. A cross-sectional study was conducted using secondary data from medical records of women who underwent both VIA and Pap smear screening at RSU Tangerang in 2025. A total of 311 subjects met the inclusion criteria. Pap smear results were classified using the Bethesda system and recategorized into negative (NIML) and positive (ASC-US, ASC-H, HSIL) to allow direct comparison with VIA results. Data were analyzed using Fisher’s Exact Test, odds ratio estimation, and diagnostic performance measures, including sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value, and accuracy. The results demonstrated perfect concordance between VIA and Pap smear, with no discordant cases. VIA showed sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value, and overall accuracy of 100%, with a statistically significant association (p < 0.001). All findings were confirmed by histopathological examination. In conclusion, under standardized conditions with trained examiners, VIA demonstrated diagnostic performance equivalent to Pap smear, supporting its use as a reliable and cost-effective pre-screening method in resource-limited settings. Abstrak. Kanker serviks masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di negara berkembang akibat keterbatasan akses terhadap program skrining yang efektif dan terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian diagnostik IVA dibandingkan dengan Pap smear dalam mendeteksi lesi kanker. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder dari rekam medis wanita yang menjalani pemeriksaan IVA dan Pap smear di RSU Tangerang pada tahun 2025. Sebanyak 311 rekam medis memenuhi kriteria inklusi. Hasil Pap smear diklasifikasikan berdasarkan sistem Bethesda dan dikategorikan menjadi negatif (NILM) dan positif (ASC-US, ASC-H, HSIL) untuk memungkinkan perbandingan langsung dengan hasil IVA. Analisis data menggunakan Fisher’s Exact Test, estimasi odds ratio, serta pengukuran kinerja diagnostik meliputi sensitivitas, spesifisitas, nilai prediktif positif, nilai prediktif negatif, dan akurasi. Hasil penelitian menunjukkan kesesuaian sempurna antara IVA dan Pap smear tanpa pasangan data yang tidak sesuai. Tes IVA menunjukkan sensitivitas, spesifisitas, nilai prediktif positif, nilai prediktif negatif, dan akurasi 100%, dengan hubungan yang bermakna secara statistik (p < 0,001). Temuan dikonfirmasi melalui pemeriksaan histopatologi. Kesimpulannya, dalam kondisi klinis yang terstandarisasi dan dengan pemeriksa yang terlatih, IVA memiliki kinerja diagnostik yang setara dengan Pap smear, sehingga mendukung penggunaannya sebagai metode pra-skrining kanker serviks yang andal dan hemat biaya di lingkungan dengan keterbatasan sumber daya.
Pengaruh Durasi Kerja terhadap Perilaku Berkendara Sopir Angkot di Cisarua melalui Kualitas Tidur Rahma Luthfiyyah Az-zahra; Santun Bhekti Rahimah; Mira Dyani Dewi
Bandung Conference Series: Medical Science 1443-1452
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.23044

Abstract

Abstract. The safety of public transport drivers is an important issue in occupational health and transportation, especially in relation to drivers' workload and physiological conditions. This study aims to analyze the effect of working hours on driving behavior with sleep quality as a mediating variable among public transport drivers in Cisarua District, West Bandung Regency. This study uses an analytical observational design with a cross-sectional approach. The study subjects consisted of 70 public transport drivers who met the inclusion criteria. Data were collected through questionnaires on working hours, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) to assess sleep quality, and the Driver Behavior Questionnaire (DBQ) to assess driving behavior. Data analysis was performed using Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS software. The results of the analysis showed that working hours affected sleep quality, and sleep quality affected driving behavior. Working hours did not show a direct effect on driving behavior. The mediation test showed that sleep quality acted as a full mediator in the relationship between working hours and driving behavior. The conclusion of this study shows that the effect of working hours on driving behavior occurs indirectly through sleep quality. Managing working hours and improving sleep quality are important factors in efforts to improve the driving safety of public transport drivers. ABSTRAK. Keselamatan berkendara pengemudi angkutan umum merupakan isu penting dalam kesehatan kerja dan transportasi, terutama terkait beban kerja dan kondisi fisiologis pengemudi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh durasi jam kerja terhadap perilaku berkendara dengan kualitas tidur sebagai variabel mediasi pada sopir angkutan umum di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 70 sopir angkutan umum yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner durasi jam kerja, Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur, dan Driver Behaviour Questionnaire (DBQ) untuk menilai perilaku berkendara. Analisis data dilakukan menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan perangkat lunak SmartPLS.Hasil analisis menunjukkan bahwa durasi jam kerja berpengaruh terhadap kualitas tidur, dan kualitas tidur berpengaruh terhadap perilaku berkendara. Durasi jam kerja tidak menunjukkan pengaruh langsung terhadap perilaku berkendara. Uji mediasi menunjukkan bahwa kualitas tidur berperan sebagai mediator penuh dalam hubungan antara durasi jam kerja dan perilaku berkendara.Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh jam kerja terhadap perilaku berkendara terjadi secara tidak langsung melalui kualitas tidur. Pengelolaan jam kerja dan peningkatan kualitas tidur menjadi faktor penting dalam upaya meningkatkan keselamatan berkendara pengemudi angkutan umum.