Indri Budiarti
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gambaran Stadium dan Grading Histopatologi Kanker Payudara di RSUD Cibabat Tahun 2022 Fauzania Suci Dewi; Meike Rachmawari; Indri Budiarti
Bandung Conference Series: Medical Science 1029-1036
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22464

Abstract

Abstract. Breast cancer is a leading cause of morbidity and mortality in women. The clinical stage of breast cancer can be seen based on the TNM category (Tumor, lymph node involvement, and metastasis). Histopathological grading is taken based on the Nottingham score category, which has three grades: grade 1 (well-differentiated), grade II (moderately differentiated), and grade III (poorly differentiated). Clinical stage and histopathological grading are important parameters in determining the prognosis and treatment strategy for breast cancer patients. Data regarding the stage and histopathological grading at Cibabat Regional Hospital are still limited. Therefore, the purpose of this study was to determine the stage and histopathological grading at Cibabat Regional Hospital in 2022. This research method used a descriptive method with a cross-sectional approach. Data were obtained from medical records of breast cancer patients at Cibabat Regional Hospital in 2022 with a sample of 146 patients. This data was then processed and analyzed using SPSS software and Microsoft Excel. Based on stage, there were 21 patients with stage II (14%), 81 patients with stage III (55%), and 44 patients with stage IV (30%). Based on histopathological grading, there were 65 patients with grade 2 (45%), and 31 patients with grade 3 (55%). Abstrak. Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada perempuan. Stadium klinis pada kanker payudara dapat di lihat berdasarkan kategori TNM (Tumor, keterlibatan kelenjarlymphnodes, serta metastasis). Grading histopatologi diambil berdasarkan kategori Nottingham score yang terdapat 3 grade yakni grade 1 (berdiferensiasi baik), grade II (berdiferensiasi sedang), dan grade III (berdiferensiasi buruk). Stadium klinis dan grading histopatologi merupakan parameter penting dalam menentukan prognosis dan strategi terapi pada pasien kanker payudara. Data mengenai gambaran stadium dan grading histopatologi di RSUD Cibabat masih terbatas. Maka dari itu tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran stadium dan grading histopatologi di RSUD Cibabat Tahun 2022. Metode peneitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) yang datanya didapatkan dari data rekam medis pasien kanker payudara di RSUD Cibabat tahun 2022 dengan jumlah sampel 146 pasien. Data ini kemudian diolah dan dianalisis menggunakan bantuan software SPSS dan microsoft excel.Berdasarkan stadium, pasien dengan stadium II sebanyak 21 pasien (14%), stadium III sebanyak 81(55%), pasien dengan stadium IV sebanyak 44 (30%). Berdasarkan grading histopatologi, pasien dengan grade 2 sebanyak 65 (45%), pasien dengan grade 3 terdapat 31 (55%).
Hubungan Ketuban Pecah Dini dan Usia Gestasi Dengan Kejadian Asfiksia di RSUD Majalaya Tahun 2023-2024 Syifa Ghita Nadhira; Hidajat Widjajanegara; Indri Budiarti
Bandung Conference Series: Medical Science 1093-1100
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22491

Abstract

Abstract. Neonatal asphyxia is one of the leading causes of morbidity and mortality in newborns. Premature rupture of membranes (PROM) and non-term gestational age, particularly prematurity, are obstetric risk factors that have been frequently associated with an increased risk of neonatal asphyxia. This study aimed to analyze the relationship between PROM and gestational age with the incidence of neonatal asphyxia at RSUD Majalaya during the 2023–2024 period. This study employed an observational analytic design with a case–control approach. The research sample was obtained from medical record data of delivering mothers and newborns. The independent variables were a history of PROM and gestational age classification (preterm or full-term), while the dependent variable was the incidence of neonatal asphyxia, defined as an APGAR score of less than 7 at the fifth minute. Data analysis was conducted using the Chi-square test and Odds Ratio (OR) calculation. The results showed a significant association between PROM and neonatal asphyxia (OR = 2.152; p < 0.001). In addition, preterm gestational age demonstrated a highly significant association with neonatal asphyxia (OR = 4.278; p < 0.001). In conclusion, premature rupture of membranes and preterm gestational age are strong risk factors for the occurrence of neonatal asphyxia. Abstrak. Asfiksia neonatorum merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas bayi baru lahir. Ketuban Pecah Dini (KPD) dan usia gestasi yang belum aterm, terutama prematuritas, dikenal sebagai faktor risiko obstetri yang berkontribusi terhadap kejadian asfiksia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara KPD dan usia gestasi dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Majalaya periode 2023–2024. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan case control. Sampel diperoleh dari data rekam medis ibu bersalin dan bayi baru lahir. Variabel independen meliputi riwayat KPD dan usia gestasi (prematur dan cukup bulan), sedangkan variabel dependen adalah kejadian asfiksia yang ditentukan berdasarkan skor APGAR < 7 pada menit ke-5. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara KPD dengan kejadian asfiksia neonatorum (OR = 2,152; p < 0,001). Selain itu, usia gestasi prematur juga menunjukkan hubungan yang sangat signifikan dengan kejadian asfiksia (OR = 4,278; p < 0,001). Kesimpulannya, ketuban pecah dini dan usia gestasi prematur merupakan faktor risiko yang kuat terhadap kejadian asfiksia neonatorum.
Hubungan Usia Ibu, Paritas, dan Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Preeklamsia di Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat Kota Cimahi Periode Tahun 2023–2024 Mia Aulia Syahrani; Jusuf Sulaeman Effendi; Indri Budiarti
Bandung Conference Series: Medical Science 1411-1418
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22770

Abstract

Abstract. Preeclampsia is a pregnancy complication that significantly contributes to maternal and neonatal morbidity and mortality. Identifying associated risk factors is essential as the basis for early detection and prevention strategies. Maternal age, parity, and body mass index (BMI) are often linked to preeclampsia, although previous studies have reported varying results. This study aimed to analyze the relationship between maternal age, parity, and BMI with the incidence of preeclampsia among mothers delivering at RSUD Cibabat, Cimahi, during 2023–2024. An analytical observational design with a case control approach was employed. The sample consisted of mothers diagnosed with preeclampsia as the case group and mothers without preeclampsia as the control group, selected through total sampling based on accessible population based on medical records. Data analysis was conducted using the Chi-Square test with a significance level of α = 0.05. The findings revealed that maternal age was significantly associated with preeclampsia (p = 0.012), with higher risk observed in advanced maternal age compared to the safe reproductive age group. Parity also showed a significant association (p = 0.001), with increased risk among nullipara and high-parity mothers. The difference between above-normal BMI categories (overweight and obesity) dis not show a significant difference (p = 0,242). In conclusion, maternal age and parity are risk factor for the occurrence of preeclampsia. Meanwhile, the difference in above normal BMI (obverweight and obesity) has the same impact on the incidence of preeclampsia. Abstrak, Preeklamsia merupakan komplikasi kehamilan yang berkontibusi besar terhadap morbiditas dan mortalitas ibu maupun janin. Identifikasi faktor risiko menjadi penting sebagai dasar deteksi dini dan pencegahan. Usia ibu, paritas, dan indeks massa tubuh (IMT) sering dikaitkan dengan preeklampsia, meskipun hasil penelitian sebelumnya masih bervariasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara usia, paritas, dan IMT dengan kejadian preeklamsia pada ibu melahirkan di RSUD Cibabat Kota Cimahi tahun 2023–2024. Desain penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan case control. Sampel berjumlah 218 sampel, terdiri dari ibu melahirkan dengan preeklamsia sebagai kelompok kasus dan ibu tanpa preeklamsia sebagai kontrol, diambil melalui total sampling dari populasi terjangkau berdasarkan rekam medis. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square pada tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan usia ibu berhubungan signifikan dengan kejadian preeklamsia (p = 0,012), di mana kelompok usia berisiko lebih sering mengalami kondisi ini dibandingkan usia reproduksi aman. Paritas juga memiliki hubungan bermakna (p = 0,001), dengan risiko lebih tinggi pada ibu nullipara dan paritas tinggi. Perbedaan IMT diatas normal (overweight dan obesity) menunjukkan perbedaan yang signifikan (p = 0,242). Simpulannya, usia ibu dan paritas merupakan faktor risiko kejadian preeklampsia. Sedangkan perbedaan IMT diatas normal (overweight dan obesity) memberikan dampak yang sama untuk kejadian preeklamsia.