Hidajat Widjajanegara
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Ketuban Pecah Dini dan Usia Gestasi Dengan Kejadian Asfiksia di RSUD Majalaya Tahun 2023-2024 Syifa Ghita Nadhira; Hidajat Widjajanegara; Indri Budiarti
Bandung Conference Series: Medical Science 1093-1100
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22491

Abstract

Abstract. Neonatal asphyxia is one of the leading causes of morbidity and mortality in newborns. Premature rupture of membranes (PROM) and non-term gestational age, particularly prematurity, are obstetric risk factors that have been frequently associated with an increased risk of neonatal asphyxia. This study aimed to analyze the relationship between PROM and gestational age with the incidence of neonatal asphyxia at RSUD Majalaya during the 2023–2024 period. This study employed an observational analytic design with a case–control approach. The research sample was obtained from medical record data of delivering mothers and newborns. The independent variables were a history of PROM and gestational age classification (preterm or full-term), while the dependent variable was the incidence of neonatal asphyxia, defined as an APGAR score of less than 7 at the fifth minute. Data analysis was conducted using the Chi-square test and Odds Ratio (OR) calculation. The results showed a significant association between PROM and neonatal asphyxia (OR = 2.152; p < 0.001). In addition, preterm gestational age demonstrated a highly significant association with neonatal asphyxia (OR = 4.278; p < 0.001). In conclusion, premature rupture of membranes and preterm gestational age are strong risk factors for the occurrence of neonatal asphyxia. Abstrak. Asfiksia neonatorum merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas bayi baru lahir. Ketuban Pecah Dini (KPD) dan usia gestasi yang belum aterm, terutama prematuritas, dikenal sebagai faktor risiko obstetri yang berkontribusi terhadap kejadian asfiksia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara KPD dan usia gestasi dengan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Majalaya periode 2023–2024. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan case control. Sampel diperoleh dari data rekam medis ibu bersalin dan bayi baru lahir. Variabel independen meliputi riwayat KPD dan usia gestasi (prematur dan cukup bulan), sedangkan variabel dependen adalah kejadian asfiksia yang ditentukan berdasarkan skor APGAR < 7 pada menit ke-5. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan perhitungan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara KPD dengan kejadian asfiksia neonatorum (OR = 2,152; p < 0,001). Selain itu, usia gestasi prematur juga menunjukkan hubungan yang sangat signifikan dengan kejadian asfiksia (OR = 4,278; p < 0,001). Kesimpulannya, ketuban pecah dini dan usia gestasi prematur merupakan faktor risiko yang kuat terhadap kejadian asfiksia neonatorum.
Hubungan antara Usia, Paritas Ibu Hamil, dan Kejadian Perdarahan Pascasalin di Puskesmas Klapanunggal Kab. Bogor pada Tahun 2023–2024 Muhamad Dwiki Firmansyah; Hidajat Widjajanegara; Raden Ganang Ibnusantosa
Bandung Conference Series: Medical Science 1453-1460
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.23106

Abstract

Abstract. Postpartum hemorrhage (PPH) is defined as blood loss of at least 500 ml after delivery, accounting for 27% of maternal deaths worldwide. This study aims to analyze the relationship between the age and parity of pregnant women and the incidence of postpartum hemorrhage at the Klapanunggal Community Health Center, Bogor Regency, during the period 2023-2024. The type of study applied is an observational case-control study with a quantitative approach to analyze the relationship between variables through medical record observation. The sampling technique was stratified random sampling using the proportional allocation method for the population that met the inclusion and exclusion criteria. The collected data were then processed using univariate and bivariate analysis with the Chi-square test, as well as multivariate analysis using the logistic regression method. The results showed that the incidence of postpartum hemorrhage was quite high at 35.0%. Statistical tests proved that there was no significant relationship between maternal age (p=0.284) or parity (p=0.755) and the incidence of postpartum hemorrhage, so it can be concluded that these demographic factors alone are not the main predictors at the study site. These findings indicate the need for greater attention to other clinical risk factors such as anemia and optimization of active management of the third stage of labor to reduce the rate of obstetric complications at the Klapanunggal Community Health Center. Abstrak. Perdarahan pascasalin (PP) merupakan kehilangan darah minimal 500 ml setelah persalinan yang menyumbang 27% angka kematian ibu di seluruh dunia, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara usia dan paritas ibu hamil dengan kejadian perdarahan pascasalin di Puskesmas Klapanunggal, Kabupaten Bogor, pada periode 2023-2024. Jenis penelitian yang diterapkan adalah case control observasional dengan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis hubungan antar variabel melalui pengamatan rekam medis. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan stratified random sampling melalui metode proportional allocation terhadap populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, di mana data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan analisis univariat, bivariat dengan uji Chi Square, serta analisis multivariat dengan metode regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian perdarahan pascasalin tercatat cukup tinggi sebesar 35,0%. Hasil uji statistik membuktikan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu (p=0,284) maupun paritas (p=0,755) dengan kejadian perdarahan pascasalin, sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor demografi tersebut secara tunggal bukan merupakan prediktor utama di lokasi penelitian. Temuan ini mengindikasikan perlunya perhatian lebih pada faktor risiko klinis lain seperti anemia dan optimalisasi manajemen aktif kala III untuk menurunkan angka komplikasi obstetrik di Puskesmas Klapanunggal.