Mira Dyani Dewi
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN KEPADATAN HUNIAN DENGAN KEJADIAN SKABIES DI PESANTREN AL-HANIF CIANJUR Muhammad Haikal Panaratas; Sadeli Masria; Mira Dyani Dewi
Bandung Conference Series: Medical Science 1301-1308
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.22588

Abstract

Abstract. Scabies, a contagious skin infection caused by Sarcoptes scabiei var. hominis, presents a significant public health challenge in high-density environments such as Islamic boarding schools. This study aimed to investigate the correlation between occupancy density and the incidence of scabies among students at Al-Hanif Islamic Boarding School in Cianjur. Employing an observational analytic design with a cross-sectional approach, 100 respondents were selected via convenience sampling. Data collection involved measuring room dimensions to assess density and conducting physical examinations by physicians to diagnose scabies based on cardinal signs. The results indicated that 44% of students were positive for scabies, while 73.33% of the living quarters were categorized as overcrowded. However, bivariate analysis using Fisher's Exact test yielded a p-value of 1.000 (p > 0.05), demonstrating no significant relationship between occupancy density and scabies incidence. The high prevalence observed suggests the influence of other determinants, such as personal hygiene, environmental sanitation, and individual immunity, highlighting the necessity for more comprehensive health interventions Abstrak. Skabies, infeksi kulit akibat infestasi Sarcoptes scabiei var. hominis, kerap mewabah di lingkungan padat penghuni seperti pondok pesantren. Studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional ini difokuskan untuk menginvestigasi korelasi antara kepadatan kamar dengan insidensi skabies pada santri di Pondok Pesantren Al-Hanif, Cianjur. Melibatkan 100 responden yang direkrut melalui metode convenience sampling, data dikumpulkan lewat pemeriksaan fisik untuk diagnosis klinis serta pengukuran luas kamar. Temuan riset mencatat 44% santri positif terinfeksi, dengan 73,33% kondisi kamar tergolong padat. Walaupun demikian, hasil uji statistik Fisher's Exact menghasilkan nilai p = 1,000 (p > 0,05), yang mengindikasikan tidak adanya hubungan bermakna antara kepadatan hunian dan kejadian skabies. Absennya korelasi ini menyiratkan bahwa tingginya kasus kemungkinan besar dipicu oleh faktor lain, seperti sanitasi lingkungan, kebersihan personal, atau imunitas, sehingga diperlukan strategi intervensi kesehatan yang lebih menyeluruh
Pengaruh Durasi Kerja terhadap Perilaku Berkendara Sopir Angkot di Cisarua melalui Kualitas Tidur Rahma Luthfiyyah Az-zahra; Santun Bhekti Rahimah; Mira Dyani Dewi
Bandung Conference Series: Medical Science 1443-1452
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v6i1.23044

Abstract

Abstract. The safety of public transport drivers is an important issue in occupational health and transportation, especially in relation to drivers' workload and physiological conditions. This study aims to analyze the effect of working hours on driving behavior with sleep quality as a mediating variable among public transport drivers in Cisarua District, West Bandung Regency. This study uses an analytical observational design with a cross-sectional approach. The study subjects consisted of 70 public transport drivers who met the inclusion criteria. Data were collected through questionnaires on working hours, the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) to assess sleep quality, and the Driver Behavior Questionnaire (DBQ) to assess driving behavior. Data analysis was performed using Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS software. The results of the analysis showed that working hours affected sleep quality, and sleep quality affected driving behavior. Working hours did not show a direct effect on driving behavior. The mediation test showed that sleep quality acted as a full mediator in the relationship between working hours and driving behavior. The conclusion of this study shows that the effect of working hours on driving behavior occurs indirectly through sleep quality. Managing working hours and improving sleep quality are important factors in efforts to improve the driving safety of public transport drivers. ABSTRAK. Keselamatan berkendara pengemudi angkutan umum merupakan isu penting dalam kesehatan kerja dan transportasi, terutama terkait beban kerja dan kondisi fisiologis pengemudi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh durasi jam kerja terhadap perilaku berkendara dengan kualitas tidur sebagai variabel mediasi pada sopir angkutan umum di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 70 sopir angkutan umum yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner durasi jam kerja, Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menilai kualitas tidur, dan Driver Behaviour Questionnaire (DBQ) untuk menilai perilaku berkendara. Analisis data dilakukan menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan perangkat lunak SmartPLS.Hasil analisis menunjukkan bahwa durasi jam kerja berpengaruh terhadap kualitas tidur, dan kualitas tidur berpengaruh terhadap perilaku berkendara. Durasi jam kerja tidak menunjukkan pengaruh langsung terhadap perilaku berkendara. Uji mediasi menunjukkan bahwa kualitas tidur berperan sebagai mediator penuh dalam hubungan antara durasi jam kerja dan perilaku berkendara.Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh jam kerja terhadap perilaku berkendara terjadi secara tidak langsung melalui kualitas tidur. Pengelolaan jam kerja dan peningkatan kualitas tidur menjadi faktor penting dalam upaya meningkatkan keselamatan berkendara pengemudi angkutan umum.